Mendalam

Darurat Ruang Hidup Primata di Bangka: PPS ALOBI Terima 9 Ekor Laporan Kukang Dalam Setengah Tahun

30/07/2026|Frendy Marselino
Kondisi kukang Bangka saat ditemukan warga di Taman Dealova Kota Pangkalpinang Bangka Belitung pada 2472026 Foto ALOBI Fo...

Kondisi kukang Bangka saat ditemukan warga di Taman Dealova, Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung pada (24/7/2026). | Foto: ALOBI Foundation.

Gardaanimalia.com - Primata menjadi salah satu hewan yang rentan dalam alih fungsi lahan yang kian masif terjadi. Memanfaatkan kanopi hutan sebagai bagian dari kehidupan mereka, membuat satwa dalam kelompok ini kian terancam eksistensinya akibat deforestasi yang kerap terjadi. 

Bangka Belitung salah satu wilayah yang memiliki keanekaragaman primata. Satwa seperti, tarsius bangka atau mentilin (Cephalopachus bancanus), kukang bangka (Nycticebus bancanus), hingga lutung  (Trachypithecus cristatus) dapat ditemukan di sana.

Meski begitu, hidup mereka tidak lupa dari ancaman yang menyebabkan keberadaannya semakin rentan dan terancam.

Laporan terbaru dari ALOBI Foundation mengungkapkan laporan warga tentang keberadaan kukang bangka pada malam, Jumat (24/7/2026).

Menurut warga, satwa tersebut terlihat menyeberang di jalan sekitar Taman Dealova, Kota Pangkalpinang. 

Beruntungnya, warga langsung menyerahkan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) ALOBI Foundation. 

Terkait penemuan kukang, satu bulan sebelumnya, PPS ALOBI dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)Sumatera Selatan juga melakukan penyelamatan terhadap sepasang kukang bangka yang terdiri atas indukan dan anaknya. 

Satwa tersebut ditemukan oleh pekerja di area perkebunan di Desa Labu, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, pada Selasa (16/6/2026).

Setelah ditemukan, satwa tersebut sempat diberikan kepada rekan kerja warga dan dibawa ke Kota Pangkalpinang. 

Membenarkan laporan tersebut, Manajer PPS ALOBI Foundation, Endi R. Yusuf menjelaskan, dalam dua bulan terakhir mereka sudah mendapatkan dua laporan tentang kukang Bangka, yang salah satunya melibatkan anakan dan induknya. 

“Kondisi kukang anakan dan induknya sekarang masih dirawat dan direhabilitasi di PPS ALOBI, serta sedang dalam pengawasan dokter hewan kami,” ujar Endi pada Garda Animalia Selasa (28/7/2026). 

Selain itu, Endi juga menjelaskan saat ini kukang menjadi satwa yang paling banyak dilaporkan dan diselamatkan.

Dalam rentang Januari hingga Juli 2026 terdapat sembilan ekor yang terdata.

Ruang Hidup Satwa Menipis dan Ancaman Elektrokusi

Ternyata, penemuan satwa endemik di area padat penduduk seperti Kota Pangkalpinang tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. 

Endi menceritakan, pihaknya pernah mengevakuasi kukang yang mengalami luka parah di sekujur tangan dan kakinya. Mereka menilai indikasi luka tersebut didapatkan kukang karena tersengat aliran listrik tegangan tinggi. 

Akibatnya, satu tangan dan satu kakinya harus diamputasi. Beruntungnya, setelah melalui proses rehabilitasi, satwa tersebut dapat bertahan dan sehat di PPS. 

Terkait elektrokusi, Yayasan IAR Indonesia menjelaskan bahwa satwa melihat kabel listrik memiliki fungsi yang sama dengan tajuk kanopi pohon. 

Tiang dan kabel listrik mereka anggap sama seperti tempat mereka berpindah tempat, istirahat, dan mencari makan. 

Ditambah, area kabel listrik juga melintasi pohon tempat kukang mencari makan, menurunnya area hutan, hingga maraknya degradasi lahan pun kian memuncak. 

Menurut Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada RRI (22/2/2024), luasan lahan kritis di Bangka Belitung mencapai 167.065 hektar. Sekitar 70 persen, disebabkan aktivitas penambangan timah. 

Sementara dari 1,6 juta hektar luas daratan Bangka Belitung, tersisa 204.974 hektar tutupan hutan. 

Tidak Hanya Kukang

Di Kota Pangkalpinang, Endi mengungkapkan, kukang kerap kali ditemukan melewati area permukiman padat penduduk, seperti di Jembatan 12 yang berdekatan langsung dengan Taman Dealova.

Menipisnya ruang hidup dan perubahan area hutan juga secara tidak langsung turut menargetkan satwa primata lainnya seperti lutung. 

Endi juga mengungkap, pada Juli tepatnya, Senin (20/7/ 2026) ALOBI mendapat laporan penemuan anak lutung.

Satwa tersebut ditemukan oleh masyarakat di Desa Petaling, Kecamatan Mendo Barat, di area kebun dengan kondisi merangkak di tanah, mengalami luka, dan ditinggalkan induknya. 

Uploaded content
Kondisi anak lutung saat diserahkan ke PPS ALOBI dan BKSD Sumatera Selatan pada 20 Juli 2026 dalam keadaan lemah. | Foto: ALOBI Foundation.

Setelah melalui penanganan selama satu minggu, anakan lutung tersebut tidak dapat bertahan hidup dan mati pada Minggu (26/7/2026).

“Anak lutung hingga akhir sulit diselamatkan. Kami hanya sempat beberapa hari merawatnya. Ketika diserahkan pun sudah dalam keadaan parah, dan diindikasikan induknya hilang atau mati sehingga anaknya jatuh dan sekarat,” jelas Endi. 

Endi juga menambahkan, saat diserahkan, anak lutung tersebut berada dalam kondisi luka, termasuk di punggung bagian belakang yang sudah dikerumuni belatung, serta beberapa bagian tubuh seperti mata kiri dan telinga yang sudah mengalami luka-luka. 

Pemetaan Populasi Satwa Dibutuhkan 

Kendati demikian, Endi menilai perlu pihak-pihak terkait seperti peneliti dari BRIN ataupun Universitas untuk mencoba memetakan area persebaran terbanyak untuk spesies primata di Bangka Belitung, khususnya kukang bangka. 

Uploaded content
Penyerahan anakan lutung oleh warga ke BKSD Sumatera Selatan dan PPS ALOBI Foundation. | Foto: ALOBI Foundation

Langkah penelitian seperti ini diperlukan untuk mengetahui tingkat populasi yang ada saat ini. Terlebih lagi, fokus kerja ALOBI Foundation dalam penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran terkendala oleh kondisi satwa yang saat ditemukan terkadang sudah kadung dibawa ke Kota Pangkalpinang. Sehingga lokasi penemuan satwa cukup sulit untuk ditelusuri. 

“Jadi, untuk menyebut area persebaran yang spesifik, belum ada datanya. Tapi, wilayahnya ada di Bangka, karena kami sudah pernah melakukan rescue di seluruh wilayah Bangka. Kalau di Belitung tidak ada karena di Belitung tidak punya kukang. Namun, yang kerap kali ditemukan di Belitung adalah tarsius belitung, dan itu termasuk subspesies dari yang ada di Bangka,” ujarnya.