Gardaanimalia.com - Kawan Satwa, tahukah kamu bahwa ada primata yang bisa memutar kepalanya 180 derajat? Perkenalkan, inilah mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus)!
Anggota dari famili Tarsiidae ini ditetapkan sebagai fauna identitas Bangka Belitung berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 522.53-958/2010.
Satwa ini dikenal dengan matanya yang besar dan bulat serta peran pentingnya sebagai pengendali hama alami.
Uniknya, ia tidak menggerakkan matanya untuk melirik, melainkan memutar kepalanya untuk melihat. Keahlian itu ia dapat karena kepalanya bisa berputar hingga 180 derajat!
Mentilin adalah satwa yang dilindungi di Indonesia dan berstatus rentan (vulnerable) dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List.
Disebut Horsfield’s Tarsier dalam bahasa Inggris, mentilin merupakan satwa nokturnal atau aktif pada malam hari. Terkadang, ia sudah memulai aktivitasnya pada sore hari.
Satwa ini biasanya tinggal pada dahan dan ranting pohon dengan ketinggian 5 meter. Di pohon-pohon itulah mentilin yang merupakan karnivora memangsa serangga, kumbang, semut, belalang, jangkrik, kecoa, ngengat, dan kupu-kupu serta vertebrata kecil lain.
Ciri-Ciri Fisik dan Habitat
- Ukuran: panjang tubuh sekitar 12-15 sentimeter dengan berat 117-128 gram. Ekornya bisa lebih panjang dari tubuhnya, dengan panjang sekitar 18-22 sentimeter.
- Mata: memiliki mata yang besar, bulat, seolah selalu melotot. Mata itu tidak dapat digerakkan untuk melirik. Untuk melihat ke arah lain, mentilin harus memutar kepalanya.
Mentilin hidup di hutan sekunder dan agroforestri yang memiliki kepadatan pohon rapat, seperti hutan karet berusia lebih dari 10 tahun atau hutan kelekak (kebun campuran dengan buah-buahan), dan ditemukan di sekitar pulau Bangka dan Belitung.
Mereka menggunakan celah-celah pohon dan rumpun bambu sebagai tempat tidur dan tempat berlindung dari predator.
Peran dalam Ekosistem dan Ancaman
Mentilin memiliki peran penting dalam ekosistem sebagai pengendali hama dengan memakan serangga dan vertebrata kecil.
Peran ini membuatnya menjadi 'pestisida alami' yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah kerusakan tanaman di perkebunan warga
Akan tetapi, primata terkecil ini sedang menghadapi bahaya serius.
Pertama, kehilangan dan degradasi habitat. Hutan-hutan yang merupakan habitat asli mentilin banyak dikonversi menjadi permukiman, perkebunan (terutama kelapa sawit), dan area pertambangan, secara khusus di Bangka Belitung adalah tambang timah.
Selain itu, penebangan pohon yang tidak terkontrol dan kebakaran hutan memecah (fragmentasi) habitat mereka sehingga membatasi pergerakan dan perkembangbiakan mentilin.
Kedua, ia juga terancam oleh perburuan dan perdagangan liar. Tak jarang, mentilin sering diburu untuk diperdagangkan sebagai hewan peliharaan eksotis, meskipun mereka tidak cocok untuk dipelihara karena sifat nokturnal dan tingkat stres yang tinggi.
Tak hanya ancaman-ancaman yang mengintai, perlu diketahui juga bahwa mentilin memiliki laju reproduksi yang sangat lambat.
Individu betina dewasa biasanya hanya melahirkan satu atau dua anak per tahun. Laju ini membuat pemulihan populasi mentilin menjadi sangat sulit dan lambat.
Data terbaru jumlah populasi mentilin di Bangka Belitung masih terbatas. Sebagai gambaran, penelitian di Taman Kehati Pelawan, Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah menemukan total enam ekor mentilin dari dua kelompok.
Kepadatan di lokasi tersebut adalah 21,4 ekor per kilometer persegi, dengan perkiraan kepadatan di lokasi lain seperti di Desa Belimbing dan Dusun Bridal adalah sekitar 1,6 individu per hektare.















