Berita

Jerat masih Jadi Ancaman, Bayi Beruang Madu di Pasaman jadi Korban

20/10/2025|Nadaa
Tangkapan layar bayi beruang madu korban jerat di Kabupaten Pasaman. | Foto: BKSDA Resor Pasaman

Tangkapan layar bayi beruang madu korban jerat di Kabupaten Pasaman. | Foto: BKSDA Resor Pasaman

Gardaanimalia.com Satu ekor beruang madu (Helarctos malayanus) dilaporkan terjerat di kebun salak warga di Kabupaten Pasaman, Minggu (19/10/2025).

Proses penyelamatan satwa ini melibatkan BKSDA Sumbar Resor Pasaman bersama Damkar Kabupaten Pasaman dan dokter hewan.

Melansir dari akun Instagram BKSDA Resor Pasaman, tim gabungan kemudian menemukan satwa tersebut terjerat di perkebunan salak masyarakat di Jorong Mangguang, Nagari Tanjung Baringin Selatan, Kecamatan Lubuk Sikaping.

“Anak beruang madu tersebut diperkirakan berusia sekitar 6 sampai 8 bulan. Saat melakukan evakuasi, tim menemukan induk beruang yang berkeliaran di sekitar lokasi,” ungkap BKSDA Resor Pasaman, Minggu (19/10/2025).

Saat evakuasi berlangsung, tim menemukan induk beruang berkeliaran di sekitar area kejadian.

Oleh karena itu, untuk memastikan proses evakuasi anak beruang yang terjerat berjalan dengan aman dan lancar, petugas melakukan pengusiran terhadap induk beruang.

Evakuasi membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam hingga satwa tersebut berhasil diselamatkan. Kini petugas tengah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap satwa dilindungi tersebut.

“Petugas berhasil mengevakuasi anak beruang tersebut untuk dilakukan pemeriksaan kondisi kesehatannya,” jelas BKSDA mengakhiri laporannya.

Perlu diketahui, satwa yang berstatus rentan (vulnerable) dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN) ini memiliki tren populasi menurun (decreasing).

Ancaman utama terhadap spesies beruang terkecil ini adalah deforestasi dan perburuan liar. Perburuan terhadap beruang madu biasanya dilakukan untuk dijual bagian-bagian tubuhnya. Selain itu, beruang madu tercatat sebagai spesies yang bergantung pada hutan, penurunan populasi kemungkinan besar berkaitan dengan laju deforestasi.

Menjadi catatan dalam asesmen IUCN bahwa terdapat tren penangkapan satwa liar menggunakan jerat di sebagian besar wilayah jelajah beruang madu. Meskipun tidak selalu secara khusus menargetkan beruang, hal ini merupakan ancaman besar yang berkelanjutan.

Di Semenanjung Malaysia dan Indonesia, semakin banyak kamera jebak merekam beruang dengan kaki yang hilang (cedera akibat jerat).

Dalam studi pemasangan audio collar di Semenanjung Malaysia, tercatat pula bahwa tiga dari lima beruang madu yang terekam kehilangan kaki (Cheah 2013), menunjukkan tingginya tekanan jerat menggunakan jerat kabel.