Berita

Kabar Baik dari Ujung Kulon, Induk dan Anakan Badak Jawa Terlihat Bersama dalam Tangkapan Kamera Jebak

05/02/2026|Nadaa
Induk dan anakan badak jawa tertangkap kamera jebak di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon Foto Kementerian Kehutanan - Ka...

Induk dan anakan badak jawa tertangkap kamera jebak di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. | Foto: Kementerian Kehutanan

Gardaanimalia.com - Melalui kamera jebak, Tim Monitoring dan Evakuasi Operasi Merah Putih Translokasi Badak Jawa berhasil merekam keberadaan seekor induk badak jawa (Rhinoceros sondaicus) bersama anaknya di Blok Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Rekaman yang diperoleh pada Kamis (29/1/2026) tersebut merupakan rekaman anakan badak jawa pertama pada 2026.

Temuan ini juga menjadi dorongan untuk memperkuat optimisme keberlangsungan populasi satwa liar tersebut di habitat alaminya.

Dalam rilis yang diunggah di laman Kementerian Kehutanan, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Satyawan Pudyatmoko menyampaikan, temuan anak badak jawa ini menjadi indikator penting terhadap keberhasilan pengelolaan kawasan dan perlindungannya.

“Keberadaan induk dan anakan badak jawa yang terekam melalui camera trap menunjukkan bahwa habitat di Taman Nasional Ujung Kulon masih terjaga dengan baik. Selain itu, pengamanan kawasan yang kuat dan konsisten, serta dukungan kerja sama dari berbagai pihak, menjadi faktor kunci yang memungkinkan Badak Jawa berkembang biak secara alami,” jelasnya pada Rabu (4/2/2026). 

Berdasarkan analisa awal tim, induk badak jawa yang terekam diduga bernama Arum. Arum merupakan individu yang telah teridentifikasi sebelumnya dalam sistem monitoring.

Sementara itu, anakan yang bersamanya merupakan individu baru, dengan perkiraan usia kurang dari lima bulan.

Kementerian Kehutanan melalui Balai TNUK akan terus memantau Arum dan anaknya secara intensif, begitu juga dengan seluruh populasi badak jawa di kawasan TNUK. 

Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan patroli, pemantauan berbasis teknologi, pengelolaan habitat, serta peningkatan kolaborasi dengan mitra konservasi, LSM, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan masyarakat.

“Pemerintah mengajak seluruh pihak untuk terus memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian Badak Jawa sebagai salah satu satwa paling langka di dunia dan kebanggaan Indonesia, demi memastikan kelangsungan hidupnya bagi generasi mendatang,” ujar Satyawan. 

Kerentanan Populasi Badak Jawa

Dalam Daftar Merah IUCN badak jawa masuk dalam kategori critically endangered (CR) atau terancam kritis.

Melansir laman Yayasan Badak Indonesia, badak jawa kini hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dengan kondisi kurang dari 100 individu.

Tidak hanya itu, mamalia besar ini juga harus menghadapi ancaman seperti aktivitas ilegal, wabah penyakit, tanaman invasif yang mengganggu habitat, hingga rendahnya variasi genetik. Secara genetik, hanya tersisa dua garis keturunan atau haplotype yang memperbesar terjadinya perkawinan sedarah (inbreeding) badak jawa. 

Seperti yang disebut di awal, proses reproduksi badak membutuhkan waktu yang lama. Badak jawa dewasa jantan dicapai pada usia sepuluh tahun, sedangkan betina dewasa ada di kisaran usia lima hingga tujuh tahun.

Dalam proses reproduksi, badak jawa betina mengandung selama 15 hingga 16 bulan, karena itu setiap kelahiran individu badak jawa adalah kabar baik bagi dunia konservasi.