Gardaanimalia.com - Seekor anak gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) betina lahir dengan selamat di Balai Taman Nasional Tesso Nillo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Rabu (10/6/2026).
Kabar gembira ini datang dari dari induk bernama Ria, gajah betina yang kini telah berusia 55 tahun. Pasca-melahirkan, kondisi induk dan anak gajah terpantau sehat.
“Selama 10 hari ke depan akan dijaga dan diawasi secara intensif selama 24 jam oleh tim dari Balai TNTN,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Heru Sutmantoro, Rabu (10/6/2026) dalam Riau Pos.
Anak gajah tersebut diberi nama Nona Seroja oleh Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan. Nama ini dipilih sebagai simbol harapan bagi kelestarian gajah Sumatera.
"Seperti bunga seroja yang tetap mekar indah meski tumbuh dari lumpur, Nona Seroja diharapkan menjadi lambang harapan baru bagi konservasi satwa liar di Riau.kepada anak gajah betina yang baru lahir di Taman Nasional Tesso Nilo," tulis Herry dalam unggahan instargamnya.
Kronologi dan Pemeriksaan Medis
Kelahiran ini pertama kali diketahui pada Rabu (10/6/2026), sekitar pukul 07.30 WIB oleh mahout (pawang gajah) Erwin Daulay, ketika ia hendak memindahkan Ria dari tempat ikatannya menuju lokasi penggembalaan.
Sesampainya di sana, Erwin mendapati Ria telah ditemani seekor bayi gajah yang baru lahir lengkap beserta ari-arinya. Berdasarkan kondisi di lapangan, bayi gajah diperkirakan lahir pada dini hari sekitar pukul 04.00 WIB.
Temuan tersebut langsung dilaporkan kepada Kepala Resort dan Tim Medis TNTN. Tim dokter hewan yang diketuai oleh drh. Teguh Iman Notonegoro segera menuju lokasi menggunakan kendaraan roda dua dengan membawa perlengkapan lapangan dan peralatan medis lengkap guna melakukan pemeriksaan awal.
Hasil pemeriksaan fisik dan medis menyatakan bahwa bayi gajah betina tersebut dalam kondisi sangat sehat, aktif, bebas cacat fisik, dan sudah mampu menyusu secara normal dari induknya.
Bayi gajah yang memiliki tinggi badan 93 sentimeter ini merupakan anak kelima Ria yang lahir di Camp Elephants Flying Squad TNTN, hasil perkawinan dengan gajah liar.
Sebelumnya, Ria telah berhasil melahirkan empat ekor anak gajah yang masing-masing diberi nama Tesso, Tino, Harmoni, dan Domang.
Saat ini, kondisi Ria beserta bayinya terus dipantau secara intensif oleh Tim Mahout dan Tim Dokter Hewan guna memastikan proses pemulihan berjalan dengan optimal.
Komitmen Taman Nasional Tesso Nilo
Dalam kurun waktu delapan tahun, Elephant Flying Squad TNTN telah berhasil mencatatkan empat peristiwa kelahiran anak gajah dari dua induk gajah jinak, Lisa dan Ria.
Rangkaian kelahiran tersebut semakin memperkuat fakta bahwa kawasan hutan TNTN memegang peranan penting sebagai habitat yang mendukung pertumbuhan populasi Gajah Sumatera.
Menurut IUCN, sejak 2011 status konservasi gajah sumatera sendir masuk ke dalam critically endangered (CR), yang berarti satwa ini berada pada kondisi kritis dan terancam punah.
Kelahiran bayi gajah yang sehat ini turut menambah jumlah penghuni Camp Elephants Flying Squad TNTN menjadi delapan ekor, yang terdiri atas tiga gajah dewasa, dua gajah remaja, dan tiga anak gajah.
Balai TNTN memandang momen ini sebagai pendorong semangat dan optimisme dalam mewujudkan visi dan misi pengelolaan kawasan sebagai pusat konservasi sekaligus garis pertahanan terakhir bagi keberlangsungan hidup gajah sumatera di Riau.















