Kelompok Gajah Sumatera Dipasangi GPS Collar

Arief Suseno
3 min read
2023-05-17 20:42:58
Iklan
Belum ada deskripsim Lorem ipsum dolor sit amet, corrupti tempore omnis esse rem.



Gardaanimalia.com - BKSDA Sumatra Selatan kembali lakukan pemasangan satu unit GPS Collar kepada gajah sumatera, Minggu (14/5/2023).

Pemasangan dilakukan di areal kerja Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Bumi Andalas Permai, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatra Selatan.

Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk tahu setiap pergerakan interaksi negatif antara gajah dan manusia.

Gajah yang dipilih untuk dapat GPS Collar adalah betina dengan usia 25 tahun dan bobot 2.782 kilogram. Adapun jumlah anggota kelompok tiga belas individu.

Sebagai tanda pengenal di lapangan, tim sepakat beri nama gajah betina yang dipasang GPS Collar itu dengan nama Meisya.

Sebab, dua pemasangan GPS sebelum ini adalah untuk kelompok Meilani dengan jumlah 34 individu dan Meissi 14 individu pada 13 Mei 2022.

Pemasangan alat selama dua hari, yakni 13-14 Mei 2023. Sehari sebelum itu, Jumat (12/5/2023), tim lakukan arahan konsolidasi guna susun rencana dan strategi dengan membagi tugas.

Selain itu, tim juga pastikan kembali kelengkapan dan kelayakan peralatan. Mereka lalu melanjutkan dengan kegiatan survei dan pastikan target satwa pada Sabtu.

Upaya dikerahkan ada hasil karena esok harinya, Sabtu pukul 17.05 WIB, GPS Collar sukses dipasang.

Aktivitas ini adalah kolaborasi para pihak di antaranya BKSDA Sumatra Selatan, PT OKI Pulp dan Paper Mills dan PT Bumi Andalas Permai.

Tak cuma itu, juga ada Perkumpulan Jejaring Hutan Satwa (PJHS), dokter hewan, tim teknis BBKSDA Riau, dan BKSDA Bengkulu.

Menjaga Koeksistensi Gajah Sumatera dan Manusia


Menurut Kepala SKW III BKSDA Sumatra Selatan Sugito, tujuan kegiatan ini untuk pahami pola gerak gajah lewat teknologi satelit inmarsat.

"Guna mewujudkan prinsip koeksistensi antara aktivitas manusia dan kehidupan gajah liar, di kantong habitat gajah Sugihan-Simpang Heran," jelas Sugito, Senin (15/5/2023).

Terlebih, Sugihan-Simpang Heran adalah kantong populasi gajah sumatera terbesar di Provinsi Sumatra Selatan.

Sementara, Kepala BKSDA Sumatra Selatan Ujang Wisnu Barata jelaskan kantong habitat Sugihan-Simpang Heran memiliki luas kurang lebih 632 ribu hektare.

Pada 23 Juni 2022, di dalam lokasi telah disepakati delineasi koridor gajah liar kurang lebih 232 ribu hektare oleh beberapa pihak.

Ujang sampaikan, koridor itu didelinasi atas dasar pertimbangan jejak kehadiran dan hasil monitoring berkala.

Kawasan itu, tambah Ujang, akan menjadi lokus manajemen habitat dan populasi melalui ragam kegiatan terintegrasi.

Misalnya, pengayaan pakan, pembuatan artificial saltlick, pengaturan komoditas tanaman, pembuatan penghalang vegetasi, serta monitoring populasi.

"Ini dilakukan agar lebih menjamin penyediaan ruang hidup dan habitat yang cukup dalam menopang kehidupan gajah liar," tambah Ujang. Dengan itu, interaksi negatif gajah liar di wilayah masyarakat bisa dikendalikan.

Ujang sampaikan terima kasih kepada pihak terkait yang sudah ikut serta mendorong terlaksananya pemasangan GPS Collar.

Tags :
bksda klhk gajah sumatera hewan dilindungi satwa langka gps collar Elephas maximus sumatranus
Writer: Arief Suseno