Berita

Kemarau Picu Konflik Satwa Liar, BKSDA Jateng Tangani 15 Laporan Monyet Ekor Panjang di Semarang

29/07/2026|Nadaa
Ilustrasi monyet ekor panjang Macaca fascicularis yang kerap kali muncul ke permukiman Foto Trubus - Kemarau Picu Konflik...

Ilustrasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang kerap kali muncul ke permukiman. | Foto: Trubus

Gardaanimalia.com -  Hingga pertengahan 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah menerima 15 laporan terkait kemunculan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di kawasan permukiman Kota Semarang. 

Ini juga menunjukkan adanya peningkatan laporan konflik antara manusia dan satwa liar selama musim kemarau. 

Kepala Resort KSDA Wilayah Semarang, Rimbawanto  menjelaskan bahwa sebagian besar laporan merupakan aduan warga yang merasa terganggu dengan keberadaan monyet ekor panjang di lingkungan permukiman. 

“Sepanjang tahun ini sudah ada 15 laporan yang kami terima dan seluruhnya telah kami tindak lanjuti. Sementara itu, untuk satwa dilindungi lainnya, laporan yang lebih banyak diterima berupa penyerahan sukarela dari masyarakat," kata Rimbawanto dalam Indoraya.News, Selasa (28/7/2026). 

Selain monyet ekor panjang, ada pula laporan terkait kepemilikan satwa liar dilindungi. 

"Mereka sudah memahami ketentuan hukum terkait kepemilikan satwa dilindungi sehingga dengan kesadaran sendiri menyerahkannya kepada BKSDA,” tambah Rimbawanto.

Saat ini satwa-satwa tersebut tengah diamankan di kandang transit. Untuk langkah selanjutnya masih menunggu arahan pimpinan.

Setiap laporan yang dinilai meresahkan warga, kata dia, ditindaklanjuti dengan proses evakuasi. 

Selain evakuasi, BKSDA juga memastikan setiap satwa mendapat pemeriksaan kesehatan untuk mengantisipasi potensi penyakit yang dapat dibawa satwa liar. 

“Dokter yang lebih memahami terkait penyakit-penyakit yang dapat dibawa satwa seperti monyet ekor panjang,” ujarnya. 

Untuk penanganan pascaevakuasi belum bisa diputuskan. Ada beberapa hal yang harus ditinjau sebelum diputuskan.

“Apabila memang masyarakat resah, kami tangkap dan bawa ke kantor. Selanjutnya dokter hewan akan melakukan observasi. Setelah itu akan diputuskan apakah satwa tersebut dapat dilepasliarkan ke habitat alaminya. Penentuan lokasi pelepasliaran menjadi kewenangan tim penilai yang menentukan kawasan yang sesuai untuk monyet ekor panjang,” jelas Rimbawanto.

Salah satu alasan kemunculan satwa liar di permukiman warga merupakan dampak dari mulainya musim kemarau. Ketika memasuki musim kemarau, satwa liar sering kali ke luar habitatnya untuk mencari sumber makanan dan air. 

Kondisi tersebut menyebabkan frekuensi perjumpaan satwa dengan manusia meningkat, termasuk di kawasan perkotaan. 

 “Musim kemarau memang sudah menjadi agenda rutin. Biasanya banyak satwa yang turun dari habitat ke permukiman. Namun, alhamdulillah kondisinya belum terlalu merebak, meski laporan pada tahun ini mulai meningkat,” jelas Rimbawanto