Gardaanimalia.com - Kematian seekor buaya muara raksasa dari Sungai Undan, Indragiri Hilir, Riau, kembali mengingatkan bahwa polusi plastik bukan hanya mengotori sungai, tetapi juga membunuh satwa pemangsa di puncak rantai makanan.
Peristiwa ini menegaskan bahwa ancaman sampah bukan hanya dialami ikan atau mamalia laut, tetapi buaya muara (Crocodylus porosus) juga dapat menelan limbah hingga berujung fatal.
Buaya Undan Mati Setelah 19 Hari Perawatan
Pada 20 November 2025, seekor buaya muara sepanjang 5,7 meter dan berbobot sekitar 585 kilogram, yang diberi nama Si Undan, dinyatakan mati setelah menjalani perawatan intensif di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Indragiri Hilir.
Kabar kematiannya mengejutkan warga Desa Sungai Undan, Kecamatan Reteh, yang sebelumnya telah mengevakuasi satwa tersebut dari permukiman penduduk.
Kepala DPKP Indragiri Hilir, Junaidi, menyampaikan bahwa kondisi buaya sebenarnya sempat menunjukkan perbaikan. Luka-lukanya mulai mengering dan gerakannya kembali aktif. Namun beberapa luka dalam di bagian perut dan pangkal kaki mengalami infeksi berat yang tidak mampu dipulihkan.
"Kematian buaya dilaporkan setelah personel kita melakukan observasi tadi. Karena tak ada tanda-tanda bergerak, lalu dilakukan pengecekan ternyata sudah mati," kata Junaidi di Tembilahan, dilansir Antara, Jumat (21/11/2022).
Temuan Nekropsi: Perut Dipenuhi Plastik dan Benda Tajam
Hasil pembedahan setelah kematian buaya cukup mengejutkan publik. Di dalam lambungnya ditemukan puluhan kantong plastik, potongan sedotan, karung, tutup botol, hingga benda berbahaya seperti pecahan kaca televisi dan pisau.
Temuan ini menunjukkan bahwa selain luka luar, penumpukan sampah plastik kemungkinan turut memperparah kondisi organ pencernaan dan mempercepat kematian.
Junaidi menegaskan, temuan tersebut menjadi peringatan keras bahwa sampah plastik yang dibuang sembarangan dapat kembali kepada manusia dalam bentuk ancaman ekosistem.
“Ini pesan bagi kita semua agar menggunakan plastik secara bijak dan tidak membuangnya ke sungai yang menjadi sumber kehidupan,” ujarnya dalam keterangan kepada media.
Analisis Peneliti Ecoton: Sungai di Indonesia Krisis Sampah Plastik
Pendiri lembaga kajian lingkungan Ecoton, Prigi Arisandi, mengatakan bahwa kejadian ini sejalan dengan data yang mereka temukan di lapangan: 99% sungai di Indonesia telah terkontaminasi mikroplastik. Indonesia juga tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar ketiga di laut dunia, setelah India dan Nigeria.
“Sampah plastik bukan hanya mengancam ikan atau paus. Buaya pun bisa mengira tumpukan plastik itu sebagai mangsa,” kata Prigi saat diwawancarai Garda Animalia, Rabu (26/11/2025).
Ia mengingatkan bahwa layanan pengelolaan sampah nasional masih di bawah 60 persen, sementara sekitar 40 persen warga masih membakar sampah atau membuangnya ke sungai.
Ketiadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di desa-desa sepanjang daerah aliran sungai (DAS) membuat pembuangan sampah langsung ke perairan menjadi kebiasaan.
Ecoton bahkan pernah melayangkan somasi kepada Presiden Joko Widodo pada 2024, dengan menilai pemerintah gagal memenuhi mandat PP 22/2021 yang mensyaratkan sungai Indonesia bebas sampah.
Kilas Balik Penangkapan Buaya Undan
Menurut penjelasan Sekretaris Desa Sungai Undan, Safrizal, buaya besar itu masuk ke area permukiman saat air pasang pada 31 Oktober 2025. Warga yang khawatir keselamatan segera berinisiatif menangkapnya dengan melilitkan tali ke tubuhnya.
Saat petugas DPKP tiba, buaya ditemukan dalam kondisi lemah dengan luka dalam hingga 17 sentimeter di bagian bawah tubuh serta luka sekitar 15 sentimeter di kaki kanan depan yang diduga akibat tusukan benda tajam, kemungkinan mata tombak.
Petugas kemudian mengevakuasinya menggunakan perahu motor dengan bantuan pelampung jerigen sebelum dibawa ke Tembilahan untuk perawatan.
Kasus buaya mati akibat menelan sampah plastik bukan pertama kali terjadi di dunia. Pada April 2024, seekor buaya muda berusia 3 sampai 4 tahun ditemukan mati mengambang di Sungai Kumaradhara, India.
Pemeriksaan post-mortem menemukan sekitar satu kilogram plastik di perutnya—tercatat sebagai kasus pertama buaya mati akibat plastik di negara tersebut. Limbah yang ditemukan meliputi pembalut bekas, plastik makanan, dan kotoran unggas yang terbungkus limbah domestik.













