Berita

Kesenian Bantengan: Cara Kearifan Lokal Malang Raya Hormati Satwa Liar

07/08/2025|Garda Animalia
Pertunjukkan bantengan di Kayutangan, Kota Malang, 8 September 2023. | Foto: Irvan Sjafari

Pertunjukkan bantengan di Kayutangan, Kota Malang, 8 September 2023. | Foto: Irvan Sjafari

Gardaanimalia.com - Masyarakat kawasan Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu), Jawa Timur, punya kesenian tradisional untuk menghormati satwa liar, yaitu seni bantengan.

Kesenian ini memadukan pencak silat dan tarian pemeran utama yang menirukan satwa banteng, menyertakan satwa lain, seperti macan atau harimau serta monyet (bedeshan), diiringi musik tradisional kemudian divariasikan dengan musik modern seperti rock. Lalu, pada berbagai acara dan karnaval kerap ditampilkan acara sembur api.

Di antara para pemain seni bantengan, terdapat Dzaqi Fardhan (15), siswa dari sebuah SMK di Kota Batu yang menggeluti kesenian ini sejak di bangku SD. Pada Karnaval Batengan keliling Kota Batu pada 3 Agustus 2025, Dzaqi ikut melakukan atraksi sembur api.

Menurutnya, banteng adalah satwa favoritnya karena mencerminkan keberanian dan gotong royong.

“Saya ingin mempelajarinya lebih dalam,” ucap Dzaqi ketika dihubungi Garda Animalia, Senin (4/8/2025).

Saya pernah bertemu Dzaqi di Kota Batu September 2023 dalam sebuah perjalanan, dan dia menunjukkan kemahirannya bermain musik.

Saya pun pernah menyaksikan pertunjukkan bantengan pada September 2023 di Kayutangan, Malang, Jawa Timur. Ternyata banyak anak-anak kecil yang terlibat diiringi lagu Ande-Ande Lumut.

Menurut Udik Arianto, Pegiat Seni Tradisi dari Lingkungan Songgoriti Kelurahan Songgokerto, Kota Batu, bantengan bisa dipandang sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa Timur yang berkaitan erat dengan konservasi simbolik terhadap satwa liar, khususnya banteng jawa.

Meskipun tidak dalam bentuk konservasi langsung (seperti pelestarian fisik), tetapi secara budaya dan simbolik, bantengan menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa memahami, menghormati, bahkan menjalin relasi spiritual dengan satwa liar.

Ia melanjutkan, banteng adalah simbol kekuatan tak tergoyahkan dari bumi dan leluhur.

“Bantengan adalah bentuk simbol kearifan lokal yang secara simbolik mencerminkan relasi harmonis antara manusia dan satwa liar,” ujar Udik Arianto ketika saya hubungi, Senin (4/8/2025).

Dalam kearifan lokal, khususnya di budaya Jawa dan Bali, banteng memiliki makna simbolis yang dalam dan penuh kekuatan.

Di masa lampau, banteng masuk ke dalam berbagai aspek budaya dan spiritual. 

Banteng melambangkan kekuatan fisik, keberanian, dan daya juang. Dalam cerita rakyat, kesenian, dan ritual tradisional, banteng sering dipakai sebagai metafora untuk seseorang yang kuat, tangguh, dan tidak mudah dikalahkan.

“Banteng juga dipercaya sebagai penjaga gaib atau simbol penjaga wilayah tertentu. Ia kerap dianggap sebagai hewan keramat yang tidak boleh diganggu sembarangan. Banyak tempat keramat atau alas (hutan) dipercaya dihuni oleh sosok gaib berbentuk banteng,” papar pria karib disapa Ebes ini.

Dalam beberapa kepercayaan lokal, banteng adalah manifestasi leluhur atau roh yang menjaga keturunan dan desa. Sosok ini biasanya hadir dalam mimpi, meditasi, atau upacara adat.

Dalam masyarakat agraris kuno, banteng (atau kerbau) sangat dihargai karena tenaganya membantu membajak sawah dan membuka hutan. Namun, banteng liar justru dihormati lebih tinggi karena melambangkan kekuatan liar dan tak terkendali.

“Sementara dalam tradisi Kejawen dan Hindu-Bali, banteng juga kadang dikaitkan dengan aspek kekuatan dunia bawah atau kendaraan simbolik dewa-dewa (mirip dengan Nandi, lembu suci kendaraan Dewa Siwa dalam agama Hindu,” ungkap Ebes.

Dalam seni ukir, wayang, dan lambang kerajaan, banteng sering digunakan untuk melambangkan ketegasan pemimpin, ketangguhan prajurit, dan kebesaran kerajaan.

Uploaded content

Bantengan Nuswantara di Kota Batu 3 Agustus 2025 dengan partisipan warga Australia. | Foto: Malang Post, Pikiran Rakyat

Berbagai peran dalam seni bantengan melambangkan hal-hal tertentu. Banteng merupakan simbol kemakmuran pribumi. Harimau merupakan manifestasi kekuatan dominan alam (penguasa), sedangkan monyet simbol kelicikan pengadu domba, sifatnya merusak tatanan keseimbangan dua kekuatan banteng dan harimau.

Habitat banteng tersebar di Jawa Timur karena lestarinya wilayah geografis tersebut. 

Menurut tradisi lisan, wilayah habitat banteng jawa (Bos javanicus) mencakup gugusan barat, meliputi pegunungan lereng Arjuno, Kawi, Baluran, Meru Betiri, Pegunungan Argopuro sampai ke Alas Purwo.

Seiring alih fungsi hutan menjadi ladang dan permukiman, banyak banteng yang kehilangan habitatnya dan masuk ke area pertanian dan menyebabkan tanaman rusak. Ini memicu konflik dengan petani.

Lanjut Ebes, di beberapa wilayah seperti Banyuwangi dan Bondowoso, ada laporan lama tentang banteng liar yang masuk ke desa, menimbulkan ketakutan.

"Jadi wajarlah kalau kesenian bantengan ini pada awalnya tumbuh kembang di daerah lereng-lereng gunung. Dalam hal ini sebaran kesenian bantengan yang paling merakyat sering dilaksanakan di wilayah sebaran habitat banteng," tuturnya.

Animo masyarakat sangat luar biasa. Misalnya, pada acara Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo di Songgoriti dan paling anyar Festival Bantengan Nuswantara di Batu pada Minggu 3 Agustus 2025, serta beberapa event di daerah lainnya. Pada acara Banteng Nuswantara, sejumlah warga negara asing dari Australia bahkan ikut berpartisipasi. Itu menandakan mereka mengagumi seni bantengan yang punya nilai kearifan lokal.

Acara ini bisa menjadikan magnet wisata budaya yang dapat mendatangkan massa, baik muda maupun tua dari berbagai penjuru.

“Bahkan membangun relasi antar seniman berbagai genre, baik dalam maupun luar negeri, yang berkolaborasi dengan bantengan. Konsep seni kejadian berdampak adalah salah satu visi misi di kesenian tersebut, dan sebagai upaya dalam hal pemajuan kebudayaan,” pungkas Ebes.


Penulis: Irvan Sjafri