Berita

Kisah Tiga Lutung Jawa Pulang Kampung ke Nusa Barung

01/12/2025|Irvan Sjafari
Lepas liar lutung jawa di Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung. | Foto: BBKSDA Jawa Timur

Lepas liar lutung jawa di Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung. | Foto: BBKSDA Jawa Timur

Gardaanimalia.com - Bagaimana rasanya kembali pulang kampung setelah tersesat di tempat yang tidak Anda kenal? Tentunya bahagia berada di tempat Anda dilahirkan dan tumbuh, bukan?

Itulah yang dialami tiga individu lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang “pulang kampung” ke habitanya. Mereka dilepasliarkan berkat kolaborasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Javan Langur Centre (JLC), dan Pokmas Pura Lestari pada 26 November 2025.

Di bawah tajuk pepohonan Blok Cambah, Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, Kabupaten Jember, seekor jantan bernama Deni dan dua ekor betina Sofia serta Princess melompat keluar dari kandang angkut tanpa tergesa.

“Pelepasliaran menggunakan metode hard release, sebuah pendekatan yang memungkinkan satwa langsung beradaptasi dengan lingkungan alaminya setelah melalui proses rehabilitasi yang ketat,” tulis rilis BBKSDA Jatim, Kamis (27/11/2025).

Kepada Garda Animalia, Ketua BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan menyampaikan Nusa Barung dipilih karena sekitar tahun 1980 pernah tercatat keberadaan lutung Jawa di Nusa Barung.

Namun, dalam pendataan terakhir (2017-an) tidak ditemukan lutung jawa sehingga diduga terjadi proses kepunahan lokal. Oleh karena itu, pada dua tahun terakhir dilakukan pemulihan populasi melalui proses reintroduksi.

“Ditemukan tahun 1980-1990 an (data Kemenhut dan organisasi Mapalipma IPM) saat itu dengan nama lutung hitam (Presbytis cristata). Namun, belum ada survei lagi,” terang Nur Patria Kurniawan, Kamis (27/11/2025).

Selain itu, hampir sebagian pakan jenis tumbuhan di Nusa Barung dapat dikonsumsi sebagai pakan alami lutung jawa. seperti Zysigium sp., bayur, nyamplung, winong, beringin, timo, kendal, budengan, dan waru laut.

Masing-masing lutung yang dilepaskan tersebut memiliki rekam jejak penanganan yang jelas, lengkap dengan identitas microchip dan asal-usul penitipan sebagai bagian dari prinsip akuntabilitas konservasi modern.

Sofia dan Princess merupakan satwa titipan BBKSDA Jawa Timur pada 2024 dan 2025. Sementara, Deni diserahkan pada Februari 2025 dan sudah menjalani perawatan di bawah supervisi JLC sebelum dinyatakan siap kembali ke alam.

Di balik momen itu, terdapat kerja panjang yang dilakukan banyak pihak. Para ahli primata JLC menilai kondisi fisik, perilaku alami, hingga kemampuan mencari pakan telah memenuhi syarat survival di alam liar.

Pokmas Pura Lestari, yang selama ini aktif menjaga kawasan Nusa Barung, turut memastikan keamanan lokasi dan meminimalkan interaksi manusia.

Pelepasliaran bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari fase yang lebih kritis, monitoring pasca-lepasliar.

Tim akan memantau pergerakan, perilaku, serta kemampuan adaptasi ketiga lutung untuk memastikan mereka dapat bertahan dan berkontribusi pada keberlanjutan populasi di pulau tersebut.

Lutung jawa adalah penjaga kanopi hutan, primata folivora (pemakan daun) yang menghabiskan hidupnya di strata atas rimbun pepohonan.

Di tengah isu hilangnya habitat dan krisis satwa liar yang terus menghantui Pulau Jawa, momen pelepasliaran ini menjadi pengingat bahwa harapan masih tumbuh, pelan dan pasti.

Menurut IUCN Red List, penurunan populasi lutung disebabkan beberapa hal, di antaranya penangkapan untuk perdagangan hewan peliharaan ilegal, perburuan untuk makanan dan 'obat-obatan', dan hilangnya habitat yang berkelanjutan.