Gardaanimalia.com - Konflik antara manusia dengan harimau sumatera di Lampung Barat sejak Januari hingga awal September 2025 telah menyebabkan empat korban meninggal dunia. Penyebabnya beragam, mulai dari perambahan hutan hingga berkurangnya mangsa seperti babi hutan akibat virus African Swine Fever (ASF).
Tidak pernah terbayang di benak Amir (45), seorang petani warga Pekon (Desa) Tiga Jaya, Kecamatan Sekincau, Lampung Barat bakal diterkam harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Harimau itu diduga berasal dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).
Dia pulang dari kebun dengan membonceng sepeda motor yang dikendarai anaknya, sekitar pukul 16.00 WIB pada Jumat (5/9/2025).
Harimau itu tiba-tiba menyergapnya dari belakang di bagian kepala hingga keduanya terjatuh dari motor. Sang anak berteriak kencang hingga membuat warga berdatangan sehingga harimau itu akhirnya kabur. Namun, Amir mengalami luka parah di bagian kepala dan punggung. Dengan segera ia dilarikan ke puskesmas untuk mendapat pertolongan.
Amir termasuk yang beruntung karena selamat. Sebab, ini bukan konflik harimau pertama dengan warga di Lampung Barat.
Pada 7 Agustus 2025 malam, Ujang Syamsudin (37), warga Pekon Sinar Harapan, Kecamatan Bandar Negeri Suoh, Lampung Barat, Lampung, tewas diduga akibat diterkam harimau sumatera. Peristiwa itu terjadi saat Ujang sedang beraktivitas di kebun yang berada di dalam kawasan TNBBS.
Mundur pada 10 Juli 2025 pukul 19.30 WIB, seorang petani bernama Misni (63) di Pekon Sukabumi, Kecamatan Batu Brak ditemukan meninggal karena serangan harimau yang juga diduga datang dari TNBSS. Ketika ditemukan, jasad Misni tidak utuh, kaki kanannya tinggal tulang.
Pada 27 Mei 2025 di dalam TNBSS, seorang perambah hutan bernama Sudarso ditemukan meninggal dengan tubuh yang tidak utuh lagi, hanya tersisa kepala.
Korban meninggal lainnya di Kabupaten Lampung Barat tejadi pada 21 Januari 2025 ketika seorang warga bernama Zainudin, ditemukan tewas dengan kondisi tubuh tidak utuh setelah diserang oleh harimau sumatera di kawasan Talang Kubu Balak, Dusun Way Lipu, Pekon Kegeringan, Kecamatan Batu Brak.
Pencatatan media yang dilakukan Garda Animalia mengungkapkan setidaknya lima konflik harimau sumatera di Kabupaten Lampung Barat. Polanya sama, yaitu konflik terjadi antara sore hari hingga malam hari dan ketika manusia sedang berada di kebun seorang diri.
Koordinator Bidang Data dan Keilmuan Forum Harimau Kita Irfansyah Lubis yang saat ini sedang mengumpulkan data dari berbagai media, membenarkan peningkatan cukup tajam konflik antara manusia dengan harimau di seluruh Provinsi Sumatera setelah 2018 dan mencapai puncaknya antara 2021-2022.
Dia hanya bisa menduga faktor yang menyebabkan konflik cukup beragam, bisa jadi peningkatan populasi harimau, dan/atau penurunan populasi satwa mangsa, dan/atau habitat harimau yang menyempit akibat konversi hutan.
Hal lainnya adalah adanya individu harimau muda yang mencari wilayah jelajah, bisa juga karena harimau tua, sakit, atau cacat sehingga tidak fit lagi untuk mencari mangsa alami.
“Tantangannya di kita adalah membuktikan faktor mana yang paling mempengaruhi, bisa kombinasi antara beberapa faktor. Namun, ada satu yang paling jelas kita lihat, akhir 2018 kita ketahui virus African Swine Fever meningkat di berbagai belahan dunia termasuk Sumatera,” kata Irfansyah ketika dihubungi Garda Animalia, Sabtu (6/9/2025).
Berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan pada 2025, terjadi penurunan populasi babi hutan sejak 2018 dan mencapai puncaknya di tahun 2021 dan 2022, hal ini sangat berkorelasi dengan meningkatnya konflik harimau.
“Di Lampung, khususnya sekitar TNBBS, selain populasi babi hutan yang menurun, habitat harimau juga terus dirambah oleh masyarakat, dan mayoritas serangan terjadi pada saat korban berada di kebun, dan beberapa di antaranya berada dalam kawasan TNBBS yang secara hukum dilarang untuk berkebun,” ungkapnya.
Ada juga kekhawatiran bahwa harimau yang menyerang manusia di daerah tersebut adalah harimau tua yang cenderung mencari mangsa yang mudah diperoleh, seperti ternak atau binatang yang terikat atau dalam kandang, dan terkadang manusia.
“Jadi bisa dibilang ada faktor kombinasi yang menyebabkan konflik meningkat di berbagai daerah. Namun, faktor paling utama menurut saya adalah menurunnya populasi babi hutan secara serentak dan masif,” pungkasnya.
Penurunan populasi babi hutan mungkin membuat harimau sumatera mencari alternatif lain. Mongabay edisi 9 Juni 2025 pun pernah menulis, puluhan ribu babi mati termasuk babi hutan di Sumatera karena terkena virus flu babi afrika.
Kematian awal babi ditemukan di Sumatera Utara, menyusul di provinsi lain di Sumatera. Seturut itu, kasus harimau keluar dari hutan dan masuk permukiman juga terjadi di berbagai wilayah di Sumatera. Satwa mangsa harimau mati terserang penyakit, harimau kekurangan sumber makanan.
Pada Desember 2021, warga Maua Hilia Jorong Kayu Pasak Timur di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam menemukan puluhan bangkai babi hutan liar di perkebunan. Selama tiga bulan berturut-turut, warga menemukan kejadian serupa.
Sementara, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal pernah mengatakan pada April 2025 bahwa TNBBS merupakan kawasan konservasi yang dilindungi dunia internasional, tetapi keberadaan masyarakat asli di Suoh dan Bandar Negeri Suoh (BNS) adalah fakta yang tidak bisa diabaikan.
“Masyarakat asli sini sudah ada yang hidup sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Dan nenek moyang merekalah yang menjaga kawasan TNBBS,” kata Mirza dalam dialog bersama masyarakat Suoh.
Sayangnya, menurut Mirza, keseimbangan tersebut terganggu oleh banyaknya perambah yang membuka lahan untuk perkebunan komersil seperti kopi. Ia menilai, para perambah ini tidak memahami sejarah dan kearifan lokal dalam menjaga kawasan hutan.
Penulis: Irvan Sjafari










