Berita  

Konflik Harimau Sumatera Terulang, BKSDA Nyatakan Penanganan Tidak Instan

Harimau sumatera terekam camera trap yang dipasang BKSDA di kawasan Palupuh, Agam, Sumatera Barat pada Selasa (6/12/2022). | Foto: Istimewa/TribunPadang
Harimau sumatera terekam camera trap yang dipasang BKSDA di kawasan Palupuh, Agam, Sumatera Barat pada Selasa (6/12/2022). | Foto: Istimewa/TribunPadang

Gardaanimalia.com – Konflik manusia dan harimau sumatera kembali terjadi di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).

Warga merasa kecewa terhadap BKSDA Sumbar, disampaikan oleh Wali Jorong Palupuh, Beni Saputra kepada TribunPadang, Rabu (14/12).

“Hingga kini (16.58 WIB), tim BKSDA Sumbar belum juga sampai di lokasi. Padahal kemarin sudah ditemukan bangkai hingga jejak harimau di sawah warga,” ucap Beni melalui telepon.

Tercatat, sudah dua kali harimau muncul di sawah dan ladang warga Jorong Palupuh dalam dua minggu terakhir.

Berdasarkan kesaksian warga, harimau sumatera pertama kali muncul pada Senin (5/12) lalu. Kucing besar tersebut diduga mendekati warga lalu langsung melarikan diri.

BKSDA Sumbar telah merespon laporan kemunculan harimau tersebut dengan memasang camera trap dan menghalaunya dengan bunyi-bunyian.

Kemudian, pada Selasa pagi (13/12), keberadaan satwa dilindungi itu kembali terdeteksi saat seorang petani pergi melihat anjingnya di ladang.

Pada peristiwa kedua, tiga ekor anjing milik warga yang diikat di dekat ladang ditemukan dalam kondisi tinggal bangkainya.

“Ini sudah kejadian kedua, pasca harimau juga muncul beberapa waktu lalu. BKSDA Sumbar sebut sudah berhasil mengusir harimau itu,” ujarnya. Namun ternyata, satwa dilindungi itu datang kembali.

Ia menyebut, lokasi penemuan bangkai anjing tak jauh dari lokasi perdana ditemukannya jejak satwa. Bahkan terbilang lebih dekat dengan permukiman warga di Jorong Palupuh.

Di mana, pada lokasi Jorong Palupuh tersebut diketahui wilayah didominasi sawah dan kebun yang dekat dengan kawasan hutan.

Selaku Wali Jorong Palupuh, Beni mengaku kasihan dengan warga. “Jika bisa ditangani segera,” sambungnya, sebab warga yang mayoritas bekerja di sawah dan ladang merasa khawatir dengan adanya konflik manusia dan satwa liar.

BACA JUGA:
Menetas, Burung Gosong Maluku Kini Hidup di Habitat Alami

Khairi: Kami Akan Halau Harimau Sumatera Sesuai Prosedur

Sementara, Kepala SKW I BKSDA Sumbar, Khairi Ramadhan menyebut, dibutuhkan kerja sama antara warga dan petugas untuk mempercepat penghalauan.

“Kita ini perlu bekerja sama dan bahu-membahu untuk menangani konflik dengan harimau itu,” ujar Khairi.

Terkait petugas BKSDA yang belum sampai ke lokasi konflik manusia dan satwa liar, Khairi menjelaskan bahwa segalanya butuh proses dan tak bisa instan.

Ia mengaku baru menerima surat tugas untuk turun ke lokasi konflik harimau sumatera di Palupuh pada siang Rabu, (14/12).

“Saat ini kami masih di Bukittinggi, dan tidak bisa langsung ke Jorong Palupuh sore ini. Sebab menurut aturan penanganan konflik harimau, tak boleh dilakukan malam hari,” jelasnya.

Menurutnya, akan berisiko bagi petugas jika dipaksa pergi ke lokasi konflik pada Rabu. Sebab, menjelang magrib sampai malam hari adalah waktu bagi harimau beraktivitas di hutan.

“Besok pagi kita akan langsung ke lokasi, dan melakukan penanganan hingga pengusiran sesuai prosedur yang berlaku,” pungkas Khairi.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments