Berita

Macan Dahan yang Masuk Permukiman Dilepasliarkan di TN Kerinci Seblat, Apa Kata Ahli?

11/09/2025|Garda Animalia
Ilustrasi macan dahan, sebagai spesies kucing hutan besar yang paling kecil. | Foto: Biodiversity Warrior Kehati

Ilustrasi macan dahan, sebagai spesies kucing hutan besar yang paling kecil. | Foto: Biodiversity Warrior Kehati

Gardaanimalia.com - Seekor macan dahan (Neofelis diardi) dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Provinsi Jambi. Hal ini diumumkan melalui unggahan Instagram Balai Besar TNKS pada Senin (8/9/2025) lalu.

Sehari sebelumnya, Minggu (7/9/2025), masyarakat Desa Sungai Sikai, Kabupaten Kerinci, telah mengamankan seekor macan dahan dan secara sukarela menyerahkannya kepada petugas. 

Macan dahan tersebut diketahui masuk ke dalam rumah warga. Setelah warga berkoordinasi dengan BBTNKS, satwa dilindungi itu dilepasliarkan oleh Resort Kerinci Utara SPTN Wilayah I pada malam harinya. 

“Sudah kita rilis (lepasliarkan), macan dahan tersebut masuk ke rumah warga, kami bersama masyarakat langsung mengamankan,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I BBTNKS David di Kerinci, Selasa (9/92025), melansir krsumsel.com.

David mengatakan, macan dahan itu diperkirakan berusia empat sampai lima tahun berjenis kelamin jantan, dengan bobot tubuh 16 kilogram dan panjang dari kepala sampai ekor lebih kurang 90 sentimeter.

BBTNKS menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang dengan sadar melaporkan dan menyerahkan satwa dilindungi itu sebagai bentuk dukungan nyata terhadap upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

Dengan pelestarian tersebut, kata dia, diharapkan macan dahan dapat terus hidup dan berkembang biak di habitat alaminya.

Penyelamatan yang dilakukan masyarakat dan petugas BBTNKS ini juga diapresiasi oleh Ketua Forum Harimau Kita, Iding Achmad Haidir.

Menurut Haidir, macan dahan adalah kucing ukuran sedang atau “kucing liar besar berukuran paling kecil” yang termasuk forest specialist. Artinya, satwa ini sangat tergantung terhadap keberadaan hutan (vegetasi pohon dan asosiasinya) primer.

“Kondisi macan dahan keluar habitat alaminya adalah hal yang tidak umum, tapi bisa saja terjadi. Mungkin ada penyebab yang perlu diketahui mengapa satwa ini muncul ke permukiman,” ujar Haidir ketika dihubungi Garda Animalia, Rabu (10/9/2025).

Namun, Haidir menilai hasil pemeriksaan tidak disebutkan dengan detail, apakah didampingi dokter satwa liar lalu ada pengambilan sampel darah, rambut, kotoran (jika ada) sehingga bisa mengetahui kemungkinan adanya parasit.

TNKS Mampu Tampung 260 Individu Macan Dahan Dewasa

Menurut peraih doktoral Zoologi dari Universitas Oxford dengan disertasi soal macan dahan ini, komunikasi dan kerja sama dengan masyarakat harus terus ditingkatkan, termasuk edukasi dan juga pelibatan mereka dalam upaya pelestarian satwa liar.

“Dugaan hasil studi saya bahwa kawasan TNKS dan sekitarnya setidaknya mampu menampung kira-kira 260 individu macan dahan dewasa." 

Ia memaparkan, "Satwa pemalu initerutama siang harilebih banyak berada di atas pohon, dan memangsa monyet, burung, kancil, anak kijang, landak, anak babi, yang ukurannya 1 kilogram hingga 1,5 kali berat badan dia.”

Dalam disertasinya, disebutkan macan dahan bergantung pada hutan dan sangat arboreal adalah kucing berukuran sedang dengan berat 9 hingga 18 kilogram, dengan penampilan yang khas karena pola roset abu-abu-hitamnya yang besar, dan gigi taringnya yang memanjang serta ekornya yang panjang.

Perkiraan kepadatan populasi macan dahan cenderung lebih tinggi di area yang kepadatan harimaunya rendah, karena harimau diasumsikan sebagai pesaing mereka.

Ukuran populasi dan distribusi macan dahan telah menyusut secara global karena tekanan tinggi dari perburuan liar, fragmentasi hutan, dan degradasi habitat.

Deforestasi yang sedang berlangsung di wilayah jelajah mereka telah berkontribusi pada perkiraan penurunan global setidaknya 30 persen dalam tiga generasi terakhir,” tulis Haidir di halaman 3 disertasinya.

Masuknya macan dahan ke rumah warga di Sumatra bagian selatan bukan hal yang baru. Pada 24 Maret 2025, seekor macan dahan masuk ke permukiman warga dan bersembunyi di sebuah gudang di Desa Batu Kuning, Kecamatan Baturaja Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Satwa ini juga berhasil diamankan warga dan pihak BKSDA Sumatera Selatan. Ia dinyatakan sehat setelah diperiksa oleh dokter hewan. Kemudian, macan dahan itu dilepasliarkan keesokan harinya di Suaka Margasatwa (SM) Gunung Raya Blok Mandoriang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.

Berdasarkan data IUCN Redilst, macan dahan memiliki status rentan (vulnerable) akibat ancaman perburuan dan kerusakan hutan habitatnya.


Penulis: Irvan Sjafari