Gardaanimalia.com - Seekor macan tutul yang dievakuasi dari Hotel Anugerah, Jalan Padasaluyu, Isola, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, masih dalam tahap observasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga sampai hari ini.
Pada unggahan terbaru oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat kemarin (11/10/2025), macan tutul tampak tenang, tetapi tetap waspada. Pakan daging habis dan terlihat aktif di waktu-waktu tertentu.
Saat diamati, kondisi fisiknya tampak lebih kuat untuk berjalan, berpindah tempat atau posisi. Secara keseluruhan, kemungkinan satwa masih proses beradaptasi di tempat yang baru.
Usai dievakuasi pada Senin (6/10/2025) oleh tim gabungan BBKSDA Jawa Barat bersama Polsek Sukasari, Damkar Kota Bandung dan sejumlah relawan berbagai organisasi lingkungan, macan tutul langsung dibawa ke PPS Cikananga.
Humas BBKSDA Jabar Ery Mildrayana menyampaikan berdasarkan hasil observasi oleh dokter hewan, macan tutul dinyatakan cukup fit dan sanggup untuk menempuh perjalanan dari Kota Bandung ke PPS Cikananga di Sukabumi.
“Pemberangkatan dilakukan sekitar pukul 22.15 WIB macan dievakuasi dan dititip rawat ke PPS Cikananga dan tiba pada pukul 05.42,” ujar Ery seperti dikutip dari Detik.
Dua hari berada di klinik, satwa menunjukkan perkembangan yang baik meskipun perlahan. Ia kemudian dipindahkan ke kadang adaptasi indoor pada Kamis (9/10/2025).
Pemindahan ini dilakukan agar satwa punya ruang gerak yang lebih leluasa dan memudahkan tim medis untuk penanganan medis apabila dibutuhkan.
Disiapkan agar Bisa Lepas liar
Relawan Forum Macan Tutul Agung Ganthar Kusumanto memuji kesigapan tim yang menurutnya cukup cepat sehingga tidak sampai menimbulkan konflik antara manusia dan macan tutul.
Pakar konservasi macan tutul ini tiba setelah tim melakukan penyuntikan bius saat evakuasi dan ikut serta dalam mobil pikap terbuka yang membawa macan tutul dalam kandang.
Alumni Jurusan Biologi ITB Bandung ini membenarkan macan tutul dalam kondisi baik ketika tiba di Cikananga, begitu juga dengan kesegarannya. Satwa juga terpantau semakin aktif.
“PPS Cikananga hanya mengurus penyelamatan dan disiapkan untuk pelepasliaran. Terlepas nanti akan dilepas liar kemana, itu bukan PPS Cikananga yang tentukan,” ujar Agung kepada Garda Animalia, Rabu (8/10/2025).
Dari informasi yang diketahui Agung, tidak ada rencana untuk mengembalikan satwa ke Lembang Park and Zoo (LPZ) seperti dugaan semula.
Satwa yang tertangkap itu diduga merupakan macan tutul liar. Mengenai penentuan lokasi lepas liar, Agung berkata bahwa itu adalah keputusan dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan.
Dugaan Asal-Usul Sang Macan Tutul
Bagaimana satwa bernama latin Panthera pardus melas itu bisa masuk ke hotel, hal ini karena hotel dalam keadaan kosong.
Berdasarkan informasi penjaga hotel yang pertama kali melihat macan tutul, Nasimah, Hotel Anugerah sudah tutup sejak Februari 2025 lalu
Agung menduga macan tutul berasal dari hutan yang berada dekat dengan hotel. Ia melanjutkan, kebetulan koridor hutan itu memadai, berupa area tepi sungai yang didukung semak-semak dan kebun. Koridor itulah yang mengarah ke Hotel Anugerah.
“Kebetulan hotelnya kosong. Mungkin dia cari tempat sembunyi,” imbuh Agung.
Pihak BBKSA Jabar juga memberikan informasi sebangun dengan Agung. Pihaknya menguraikan dalam Instagram resmi, berdasarkan jejak-jejak kaki dan hasil analisis, diperkirakan arah pergerakan macan tutul berasal dari kawasan hutan yang terhubung dengan koridor berupa lembah bervegetasi pepohonan lebat, areal kebun dan semak belukar, serta terdapat aliran air.
Macan tutul masuk bangunan hotel kosong yang sesuai dengan kecenderungannya untuk mencari tempat tenang yang terhindar dari pertemuan dengan manusia.
Pakar Ekologi Satwa liar IPB University yang juga dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Dr Abdul Haris Mustari, menuturkan macan tutul yang tertangkap itu bisa jadi adalah individu yang lepas dari Lembang Park & Zoo.
Pasalnya, satwa yang sudah lama dikandangkan dan terbiasa diberi makan oleh manusia akan memiliki ketergantungan pada suplai makanan tersebut.
“Karena itu, ketika lepas, mereka cenderung kembali mendekati lingkungan manusia,” ujarnya seperti dilansir situs IPB University.
Sebagai solusi jangka panjang, ia menekankan peran utama konservasi in-situ, yakni perlindungan satwa di habitat aslinya.
Pendekatan ini tidak hanya melindungi satu spesies, tetapi juga seluruh keanekaragaman hayati di dalam ekosistem.











