Gardaanimalia.com - Bila lutung jawa (Trachypithecus auratus) berambut hitam diburu untuk dimakan dagingnya, maka lain cerita dengan nasib lutung jawa yang masih berambut oranye.
Manajer Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa di Jawa Timur yang berbasis di Kota Batu, Jawa Timur, Iwan Kurniawan, mengungkapkan motivasi perburuan lutung jawa tidak hanya untuk dimakan dagingnya, tetapi anaknya diburu untuk dipelihara oleh kolektor.
Pada perburuan anak lutung, para pemburu akan membunuh induknya agar dapat merampas anak yang mendekap di pelukan sang induk.
Iwan menuturkan, lutung jawa memiliki dua variasi warna rambut. Lutung dewasa memiliki rambut hitam keperakan. Sementara, anaknya memiliki rambut berwarna oranye yang akan berangsur hitam seiring bertambahnya usia.
Anak lutung dengan rambut oranye inilah yang kerap disebut “Sun Go Kong”, tokoh fiktif dalam novel Perjalanan ke Barat.
“Kalau lutung jawa sudah besar sudah nakal atau menggigit baru pemiliknya menyerahkan lutung itu kepada kami sebagai petugas konservasi,” ujar Alumni Fakultas Kehutanan, Institut pertanian Malang lulusan 1998 ini ketika dihubungi Garda Animalia, 9 Maret 2026.
Sementara, lutung yang diburu untuk dikonsumsi daging maupun organnya dipercaya bisa menyembuhkan penyakit sesak nafas dan obat gatal.
“Sepengetahuan kami perburuan itu kerap terjadi di lereng Gunung Kawi, daerah hutan tapal kuda Jawa Timur yang masih luas,” imbuh Iwan.
Di Jawa Timur, terdapat sebuah pusat rehabilitasi lutung yang menjadi tempat rehabilitasi lutung yang disita oleh aparat keamanan, yaitu Javan Langur Center.
Saat ini ada 13 ekor lutung yang sedang direhabilitasi. Jumlah ini menurun dibandingkan pada 2020 yang pernah menembus angka sekitar 30 ekor. Dari jumlah itu, sekitar 13 atau 15 lutung telah dilepasliarkan pada 2023.
Meskipun ancaman terhadap lutung jawa masih tinggi, Iwan menilai, masih ada beberapa lokasi yang aman sebagai habitat lutung. Di antaranya adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Suryo, di sisi Gunung Anjasmoro dengan populasi sekira 250 ekor masih aman.
Begitu juga dengan kawasan Coban Talun yang berbatasan dengan kawasan Tahura Raden Soerjo. Pada waktu Pandemi Covid 19 JLC pernah melepas 38 ekor lutung Coban Talun.
Dalam ekosistem, Iwan menjelaskan, lutung jawa berperan sebagai salah satu pakan favorit macan tutul.
Selain itu, lutung jawa berperan merawat peremajaan daun dengan cara memangkas daun dan membuatnya tumbuh kembali. Lutung jawa termasuk salah satwa menjaga kesehatan hutan.
Dikatakannya, lutung jawa adalah petani hutan. Buah-buahan yang dimakannya akan menjadi tanaman.
“Kami kerap menemukan biji yang habis dimakan lutung tumbuh jadi tanaman, kita semaikan lalu kita pindahkan ke titik kosong,” cerita Iwan.
Lutung jawa itu satwa pemalu jarang berkonflik manusia. Memang ada warga buka lahan ke daerah hutan lalu lutung memakan wortel di lahan pertanian warga.
Namun, konflik lutung jawa dengan manusia jarang terdengar, tidak seperti monyet ekor panjang.










