Gardaanimalia.com - Sisa-sisa tubuh diduga milik lutung jawa (Trachypithecus auratus) berupa ekor, kaki, dan rambut ditemukan tergeletak di kawasan hutan Malang Selatan.
Bagian tubuh itu ditemukan oleh tim patroli ProFauna, yayasan sosial konservasi hutan dan satwa liar, pada awal Maret 2026. Pihak ProFauna menduga lutung itu adalah korban perburuan liar.
Pendiri ProFauna Rosek Nursahid menyampaikan, timnya cukup sering menemukan sisa bagian tubuh lutung ketika patroli, termasuk di area Gunung Kawi dan Gunung Arjuno.
Jika memperhatikan potongan tubuh lutung, Rosek meyakini itu adalah ulah manusia, bukan karena dimangsa macan tutul. Terlebih, karena kawasan itu bukan areal perburuan macan tutul.
Pria yang mendirikan ProFauna pada 1994 ini memperkirakan, lutung dibunuh untuk dikonsumsi.
“Daging lutung itu dikonsumsi sejak 1990-an. ProFauna pernah melakukan kampanye perdagangan daging lutung di pasar tradisional yang cukup intensif di Bukit Panderman, Kota Batu,” ujar Rosek kepada Garda Animalia, Senin (9/3/2026).
Rosek mengatakan, pemburu kebanyakan beraksi di daerah hutan lindung dan hutan produksi yang juga menjadi habitat lutung.
“Mengapa mereka mengonsumsi daging lutung? Ada dua hal, yang pertama adalah kepercayaan untuk meningkatkan vitalitas laki-laki. Kedua, daging lutung adalah teman minum alkohol. Katanya, efek mabuk lebih nendang menurut mereka,” ungkap Rosek.
Bukan saja di Jawa Timur, ProFauna juga menemukan puluhan lutung menjadi korban perburuan di Kabupaten Bogor.
Mitigasi Perburuan Lutung Libatkan Masyarakat
Menurut Rosek, perburuan lutung dilakukan sembunyi-sembunyi. Kampanye di media sosial tidak lantas menghentikan perburuan lutung karena kawasan hutan yang sangat luas tidak sebanding dengan petugas penjaga.
ProFauna kemudian memakai pendekatan sosial dengan menggandeng warga lokal untuk ikut menjaga lutung jawa dan satwa liar lainnya, termasuk burung berkicau.
Pihaknya mengajak masyarakat yang mendapatkan SK Kementerian Kehutanan untuk mengelola hutan produksi di lereng Gunung Arjuno dan Ploso.
Di satu sisi, ia memahami bahwa masyarakat membutuhkan pendampingan agar hutan produksi yang mereka kelola menguntungkan secara ekonomis.
“Kami sampaikan ProFauna bersedia melakukan pendampingan asalkan petani yang mengelola juga bersedia membantu mencegah perburuan satwa primata dan burung berkicau,” ungkap Rosek.
Hasilnya efektif. Masyarakat lokal memainkan peran sebagai penjaga hutan. Ketika berpapasan dengan pemburu, warga dengan tegas meminta para pemburu pulang.
“Tanpa keterlibatan masyarakat lokal, omong kosong bisa mencegah perburuan liar karena petugas hutan mempunyai keterbatasan dan jumlahnya tidak mencukupi,” imbuhnya lagi.
Untuk menstimulasi masyarakat, pada tahun-tahun pertama pendampingan, ProFauna memberi uang Rp100 ribu untuk setiap kali keberhasilan menghalau pemburu.
Masyarakat pun berlomba-lomba untuk mengusir pemburu. Rosek menyampaikan, pada tahun ketiga stimulus itu tidak diperlukan lagi.
Pada sisi lain, para petani tidak menyukai pemburu satwa liar karena mereka merusak ladang ketika mengejar satwa. Maka, kehadiran pemburu juga mendatangkan kerugian ekonomi bagi para petani.
Seiring upaya menghalau pemburu, Rosek menjelaskan kepada warga fungsi satwa liar dalam ekosistem. Burung berkicau, misalnya, berperan memakan ulat yang menjadi hama tanaman petani.
ProFauna pun mendorong petani mengubah komoditasnya. Dulu, mereka suka menanam sayuran yang sebenarnya kurang menguntungkan ekosistem dan cukup merugikan secara ekonomi karena harganya kerap jatuh.
Sebagai gantinya, mereka dianjurkan menanam buah, seperti alpukat dan nangka, pada lapis pertama kawasan. Pohon buah berfungsi mengikat air dan mengurangi erosi dibandingkan dengan tanaman sayuran yang butuh banyak pupuk dan areal yang terus meluas.
Pada lapis kedua, petani didorong menanam kopi. Saat ini ada lima petani yang berhasil memetik cuan dari kopi. Rosek bercerita, ada petani yang punya lahan hanya 700 meter persegi tetapi mampu meraup Rp60 juta sekali panen.
Kelompok Lutung yang Tersisa
Pelibatan aktif masyarakat seperti yang disebutkan di atas diharapkan mampu membantu pelestarian lutung jawa yang kian terancam, tutur Rosek.
Pada awal Januari 2026, ProFauna Indonesia mencatat sembilan kelompok lutung jawa di Lereng Gunung Arjuno sisi wilayah Kota Batu dan Karang Ploso dengan total 54 individu. Angka ini merupakan hasil pengamatan sejak Januari hingga Desember 2025.
Dari 54 individu, tim pengamat mencatat 10 individu lutung muda dengan warna rambut oranye dan kuning keemasan. Sementara, populasi lutung yang sudah lebih dewasa atau remaja (masih berambut oranye) lebih sedikit daripada yang sudah berambut hitam.
Lutung jawa umumnya ditemukan di hutan heterogen yang masih terjaga di lereng Gunung Arjuno pada ketinggian 1.000 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Rosek menuturkan, merosotnya populasi lutung juga berkaitan dengan alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian yang dilakukan secara serampangan.
Untuk itu, ia berpendapat bahwa tanaman petani yang paling baik adalah pohon-pohon buah. Dengan demikian, petani dan lutung sama-sama diuntungkan.















