Gardaanimalia.com - Seekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) betina dilaporkan mati setelah tersengat listrik di Desa Ngawi Purba, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Sebelum mati, hewan yang dilindungi itu sempat mendapatkan perawatan intensif di salah satu klinik hewan di Kabupaten Ngawi.
Kepala BPBD Ngawi Prila Yuda Putra menyatakan satwa tersebut telah mendapatkan perawatan usai tersengat listrik.
"Sempat dirawat di klinik sekitar satu jam. Namun, tidak bertahan lama hingga akhirnya mati pada Minggu (16/11/2025)," kata Yuda mengutip Kompas Selasa (18/11/2025).
Kepala Bidang Wilayah I Madiun Agustinus Krisdijantoro menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa satwa langka tersebut.
"Sekitar pukul 09.00 WIB, BPBD Kabupaten Ngawi menerima laporan dari warga Desa Ngawi Purba mengenai adanya lutung jawa yang tersengat listrik dan jatuh di jalan desa," ujar Krisdijantoro saat dihubungi Garda Animalia, Rabu (19/11/2025).
Merespons laporan tersebut, personil BPBD segera melakukan evakuasi terhadap satwa yang terluka.
"Tim BPBD langsung membawa lutung tersebut ke klinik dokter hewan Febri Zainal yang berada di Kota Ngawi untuk mendapatkan penanganan medis," tambahnya.
Personil BPBD kemudian segera menghubungi Kabidwil I untuk melaporkan kejadian tersebut. Laporan tersebut kemudian diteruskan kepada Kepala Seksi Konservasi Wilayah II dengan instruksi agar menugaskan personil dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 untuk menindaklanjuti kasus ini.
Meski telah mendapat perawatan medis di klinik hewan, kondisi lutung jawa tersebut terus memburuk.
"Sayangnya, pada pukul 17.20 WIB, lutung tersebut dinyatakan tidak tertolong dan mati," ungkap Agustinus
Setelah satwa dinyatakan tidak bernyawa, petugas BPBD bersama personil RKW 05 Madiun melakukan proses penguburan di pekarangan Kantor BPBD Kabupaten Ngawi dengan prosedur yang sesuai.
Salah Satu Kasus Elektrokusi Lutung
Agustinus menegaskan bahwa kasus lutung tersengat listrik ini merupakan yang pertama kali terjadi di wilayah Bidang KSDA Wilayah I Madiun.
"Di wilayah Bidang KSDA Wilayah I Madiun kejadian ini baru pertama kali terjadi, ada satwa tersengat listrik," jelasnya.
Terkait koordinasi dengan pihak terkait untuk membuat infrastruktur listrik yang lebih aman bagi satwa liar, Agustinus menyatakan hingga saat ini tidak ada rencana khusus untuk itu.
"Tidak ada, karena hal ini merupakan kejadian luar biasa yang sangat kecil sekali kemungkinan terjadi kembali. Infrastruktur listrik khusus yang lebih aman bagi satwa liar biasanya diterapkan di areal yang menjadi koridor atau perlintasan satwa liar," terangnya.
Sebagai tindak lanjut pasca kasus ini, khususnya untuk monitoring area Ngawi, pihak BKSDA akan meningkatkan program edukasi kepada masyarakat.
"Meningkatkan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat tentang konservasi serta perlindungan satwa dan tumbuhan dilindungi undang-undang," ujar Agustinus.
Meski begitu, sebenarnya laporan lutung yang tersengat listrik di Indonesia bukanlah hal yang baru. Dalam tahun ini, kasus lutung tersengat listrik sudah terjadi berkali-kali.
Seperti, pada awal September 2025 seekor lutung jawa mati terkena sengatan listrik saat melompat dari pohon di Jalan Pajagalan, Kota Sukabumi, Jawa Barat.
Aksi penyelamatan petugas Pemadam Kebakaran dengan bantuan nafas dan CPR tidak mampu menyelamatkan satwa yang malang ini akibat luka yang parah.
Masih di bulan September, melansir Tribun, Damkar Kabupaten Bogor mengevakuasi lutung jawa di Kecamatan Parungpanjang yang tersangkut kabel listrik di Kampung Pasir Tonjong, Desa Jagabaya. Beruntung lutung itu berhasil dievakuasi dari tempat kejadian.
Kabel Listrik Dianggap Jembatan Penghubung Habitat Terfragmentasi
Menanggapi hal ini, pakar primatologi staf pengajar biologi konservasi dari Universitas Muhammadiyah Bangka Randi Syafutra menyampaikan, seperti halnya kukang (Nycticebus javanicus), lutung adalah primata arboreal (dominan hidup di pohon).
Pergerakan mereka secara genetik terprogram untuk menggunakan kanopi hutan. Mereka menghindari tanah karena risiko predasi dan kesulitan mobilitas.
Pembangunan dan permukiman dapat memutus atau memfragmentasi hutan, menciptakan celah lebar yang tidak dapat dilintasi dengan melompat dari dahan ke dahan.
“Untuk melintasi celah yang mematikan di tanah, lutung menggunakan tiang listrik sebagai jalur vertikal untuk mencapai ketinggian, dan kabel listrik sebagai koridor horizontal atau jembatan (canopy bridge) yang menghubungkan sisa-sisa pohon yang terpisah,” ungkap Randi kepada Garda Animalia, Rabu (19/11/2025).
Sengatan terjadi karena lutung tidak paham terhadap bahaya listrik. Saat bermanuver di sepanjang kabel, lutung secara tidak sengaja menciptakan sirkuit tertutup dengan menyentuh dua konduktor yang berbeda tegangan, misalnya, kabel fase dan kabel netral atau tanah/tiang, menyebabkan arus listrik, biasanya bertegangan tinggi mengalir melalui tubuhnya.
“Garis besarnya, infrastruktur listrik menjadi satu-satunya solusi logis bagi satwa kanopi (dalam hal ini, lutung) untuk berpindah di lanskap yang terfragmentasi. Namun, hal ini menempatkan mereka dalam bahaya fisik yang fatal,” ujar Randi.














