Gardaanimalia.com – Dampak nyata dari bahaya memelihara satwa liar terlihat dari insiden di Kawasan Jemursari, Surabaya.
Satu individu owa jawa (Hylobates moloch) lepas dari kandangnya pada Kamis (20/11/2025) dan menyerang asisten rumah tangga bernama Wiji Lestari. Kejadian itu mengakibatkan luka pada tangan kanan Wiji.
Owa yang semula dikandangkan tiba-tiba muncul dan menyerang korban saat sedang membersihkan area rumah. Setelahnya, primata tersebut mencoba melarikan diri ke luar rumah, tetapi tidak berhasil.
Dalam kepanikan, owa berlari ke lantai dua dan berusaha keluar melalui atap sebelum kembali melawan korban untuk kedua kali.
“Owa sempat ke lantai dua, setelah itu sempat keluar ke atap rumah, kemudian masuk lagi ke dalam rumah. Setelah owa masuk lagi, ART-nya itu mungkin diserang. Ya, digigit, ada dua luka sobek di tangan sebelah kanan,” jelas Komandan Damkar Peleton II Rayon III Pos Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya Rio Afandi ketika dihubungi Garda Animalia, Senin (24/11/2025).
Rio juga menjelaskan, ketika mendapat laporan, mulanya timnya tidak tahu satwa apa yang akan mereka tangani. Namun, mereka menyiapkan jaring dan alat pelindung diri (APD) untuk proses evakuasi.
“Kami hanya menggunakan jaring yang kita punya khusus untuk evakuasi owa itu. Alhamdulillah nggak lama kok, bisa kami jaring dengan alat ketika owa di lantai dua,” tambahnya.
Setelah berhasil mengamankan satwa, Rio mengatakan bahwa proses selanjutnya akan diserahkan pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.
“Kami ambil owanya, kami bawa ke BKSDA provinsi. Hari Sabtu kita antar ke BKSDA. Jadi owa itu sekarang sudah berada di sana,” jelasnya ketika ditanya mengenai posisi owa jawa tersebut.
Terkait pemeliharaan satwa liar dilindungi, Rio juga berpesan agar masyarakat tidak perlu memeliharanya.
“Ya, kalau pesan saya, untuk pemilik atau yang memelihara hewan-hewan kayak gitu (satwa liar), jangan lah. Biar diserahkan ke pihak yang lebih berwenang,” jawabannya.
Mengenal Owa Jawa
Owa jawa merupakan satu-satunya spesies owa yang hidup di Pulau Jawa. Primata endemik ini memiliki ciri khas yang membuatnya berbeda dengan primata lain, yakni bentuk lengan yang lebih panjang dari tubuhnya. Bentuk tubuh ini memudahkannya untuk bergerak di antara pepohonan.
Selain itu, owa jawa juga terkenal dengan suaranya yang keras dan khas. Suara tersebut sering terdengar seperti “nyanyian” yang menggema di hutan.
Terdapat beberapa alasan mengapa owa bernyanyi. Mulai dari menandakan batas wilayah kelompok untuk mencegah konflik antarindividu hingga memperkuat ikatan pasangan.
Status Konservasi yang Mengkhawatirkan
Menurut International Union for Conservation of Nature Red List, owa jawa masuk ke dalam kategori genting atau endangered. Ancaman kepunahan ini datang dari hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan menjadi kebun dan permukiman, sampai perburuan dan perdagangan ilegal.
Ditambah lagi, mengutip Mongabay, perkembangbiakan owa cenderung lambat, yaitu hanya sekitar dua tahun sekali.
Di Indonesia, owa jawa telah dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE).
Dalam aturan itu, tertulis bahwa setiap orang dilarang memburu, menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan/atau memperdagangkan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.














