Gardaanimalia.com - Kondisi owa ungko (Hylobates agilis) yang menjadi satwa korban penembakan diduga oleh pelaku perburuan liar di Kabupaten Sarolangun, Jambi, terus menunjukkan perkembangan positif yang kian membaik.
Setelah sebelumnya menjalani operasi pengangkatan empat butir peluru yang bersarang di tubuhnya, primata endemik Sumatera yang diberi nama Asa dan diperkirakan berusia delapan tahun itu, kini mulai aktif, nafsu makannya membaik, dan terus menjalani pemulihan intensif untuk dikembalikan ke habitat alaminya.
Melansir Antara, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Himawan Sasongko, mengatakan Asa saat ini masih dalam proses perawatan di Tempat Penyelamatan Satwa (TPS). Tim medis terus memantau perkembangan kesehatannya untuk memastikan satwa tersebut benar-benar pulih dan siap dilepasliarkan.
"Kondisinya sudah membaik setelah dirawat oleh tim medis TPS. Tim medis juga terus memantau keadaannya," kata Himawan.
Sebelumnya, Asa ditemukan warga pada Minggu (26/7/2026) di Desa Guruh Baru, Kecamatan Mandiangin Timur, Kabupaten Sarolangun, dalam kondisi kritis dan lemah akibat empat luka tembak yang ada di tubuhnya.
Laporan masyarakat segera ditindaklanjuti oleh Tim Seksi Wilayah I BKSDA Jambi yang mengevakuasi satwa tersebut untuk segera mendapatkan penanganan medis.
Hasil pemeriksaan radiografi memperlihatkan adanya empat proyektil peluru yang masih bersarang di tubuh Asa. Operasi pengangkatan proyektil peluru kemudian dilakukan pada Selasa (28/7/2026).
Meski kondisinya terus membaik, proses rehabilitasi belum selesai. Tim medis masih mengamati penyembuhan luka, kemampuan bergerak, respons perilaku, serta kondisi fisik Asa untuk memastikan ia mampu bertahan hidup secara mandiri ketika kembali dilepas ke alam.
Kasus yang menimpa Asa kembali menjadi pengingat bahwa satwa liar di Sumatera masih menghadapi ancaman serius akibat perburuan dan penembakan.
Ancaman tersebut tidak hanya membahayakan individu satwa, tetapi juga dapat mempercepat penurunan populasi spesies yang keberadaannya semakin tertekan di alam.
Owa ungko merupakan primata arboreal yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera. Satwa ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, terutama sebagai penyebar biji berbagai jenis tumbuhan hutan.
Hilangnya populasi owa ungko dapat mengganggu proses regenerasi hutan yang bergantung pada aktivitas satwa tersebut. Secara global, owa ungko berstatus Endangered (Terancam Punah) dalam Daftar Merah IUCN.
Di Indonesia, spesies ini dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018.
Selain itu, Owa Ungko juga tercantum dalam Appendix I CITES, yang berarti perdagangan internasional spesies ini hanya diperbolehkan dalam kondisi yang sangat terbatas.
Perburuan, penembakan, maupun kepemilikan tanpa izin terhadap satwa ini merupakan pelanggaran hukum. BKSDA Jambi mengapresiasi warga yang segera melaporkan keberadaan Asa.
Menurut Himawan, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya penyelamatan satwa liar yang mengalami ancaman di alam.
"Satwa ini menjadi indikator bahwa kondisi hutan masih terjaga dengan baik. Setelah kondisinya benar-benar pulih, owa ungko ini akan kami lepasliarkan kembali ke habitatnya," ujar Himawan.
Keberhasilan penyelamatan Asa menunjukkan bahwa respons cepat masyarakat dan penanganan medis yang tepat dapat meningkatkan peluang hidup satwa liar yang menjadi korban kejahatan terhadap satwa.
Namun, upaya penegakan hukum terhadap pelaku penembakan tetap menjadi bagian penting untuk mencegah kasus serupa kembali terjadi.













