Berita

Para Penyelamat Penyu di Sulbar: Sampan di Majene dan Laut Biru di Polewali Mandar

14/07/2025|Garda Animalia
Pelepasan tukik oleh Komunitas Laut Biru. | Foto: Komunitas Laut Biru

Pelepasan tukik oleh Komunitas Laut Biru. | Foto: Komunitas Laut Biru

Gardaanimalia.com - Provinsi Sulawesi Barat dianugerahi pantai yang terhampar luas sebagai habitat penyu laut untuk bertelur.

Salah satu di antara titik tempat penyu bertelur adalah Pesisir Pantai Lombongan, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene.

Menurut Sekretaris Sammuane Pannu (Sampan), sebuah komunitas pemuda pemerhati pelestarian penyu, Ahmad Aryandi, terdapat tiga jenis penyu singgah dan bertelur di sepanjang pantai berpasir di kecamatan itu, yaitu penyu lekang, penyu sisik, dan penyu hijau.

Menurut pria kelahiran 2000 ini, penyu-penyu sudah datang bertelur jauh sebelum dia lahir. Namun, pria karib disapa Ary ini juga mengatakan, penyu-penyu itu mendapat ancaman utama justru dari manusia yang mengambil telur dan sisiknya.

Akhirnya, pada musim peneluran 2018 lalu, sejumlah pemuda tergerak hatinya untuk menyelamatkan para penyu dengan mendirikan Sammuane Pannu, yang dalam bahasa setempat berarti "sahabat penyu".

Beberapa di antara anggota komunitas ini awalnya adalah pemburu telur. Mereka berburu untuk membagikan telur ke keluarga dan keluarganya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa awalnya orang-orang dalam komunitas ini merupakan pemburu yang bertransformasi menjadi pelestari. 

Komunitas ini mencoba untuk menimbun kembali telur penyu untuk melihat tukik menetas. Sambil mencari informasi di Google tentang waktu penetasan telur penyu (sekitar 50 sampai 60 hari), mereka mulai mengecek telur-telur yang ditimbun.

“Ternyata, banyak yang busuk dan hanya sedikit yang menetas. Kami merasa prihatin, sehingga kami memutuskan untuk tidak lagi mengonsumsi telur penyu secara berlebihan dan fokus menimbunnya,” ujar Ary kepada Garda Animalia melalui WhatsApp, Sabtu (12/6/2025).

Setelah beberapa tahun melakukan aktivitas itu secara awam, Komunitas Sampan mulai belajar lebih banyak tentang penyu, baik melalui Google maupun bergabung dengan lembaga lingkungan.

“Dengan ilmu yang didapat, kami memutuskan untuk membuat tempat penetasan penyu yang lebih sistematis, mulai dari pemindahan telur hingga pembuatan lubang sarang buatan,” ungkap sarjana manajemen sebuah pergurauan tinggi di Sulbar ini.

Setidaknya 2 sampai 3 tahun belakangan ini, Sampan aktif melakukan kampanye dan sosialisasi baik ke masyarakat, anak sekolah, maupun di sosial media. Sampai hari ini, Komunitas Sampan memiliki 7 hingga 10 orang personil.

Uploaded content
Kegiatan edukasi Komunitas Sampan. | Foto: Dokumentasi Sampan

Sebelum Sammuane Pannu masif melakukan aktivitas komunitas, masyarakat di Tammerodo Sendana banyak yang menjadi pemburu telur penyu.

Mereka mulai menyelidiki siklus hidup satwa ini, menyadari betapa rapuhnya proses kelahiran penyu yang sering terancam oleh tangan manusia dan binatang predator.

Ketika populasi penyu semakin menipis, keprihatinan itu berubah menjadi panggilan jiwa untuk bertindak. Setelah Sampan berdiri dan masif melakukan aktivitas perlindungan, lambat laun para masyarakat juga enggan untuk melakukan aktivitas pemburuan telur penyu.

Sampan melakukan kampanye dan sosialisasi melalui banyak cara pendekatan. Ary mengatakan, sangat sulit mengubah pola kebiasaan di masyarakat, hingga perlahan menemui titik terang dari langkah langkah kecil yang dilakukan komunitas dalam beberapa tahun belakangan.

"Para anggota Sampan tersenyum dan memiliki kepuasan tersendiri saat kami mengundang masyarakat ikut melepasliarkan tukik yang menetas dalam sarang semi alami yang dibuat," ujarnya. Misalnya, pada 9 Juni 2024, Sampan menggelar acara pelepasliaran 150 ekor tukik di Pantai Dusun Lambongan yang dihadiri oleh masyarakat setempat dan anak-anak.

"Rencana-rencana yang akan datang kami selalu ingin berkembang, untuk ekoturisme kami ada pikiran untuk lebih baik lagi. Selama tidak mengganggu kehidupan penyu,” pungkas Ary.

Saat ini, Sampan mengadopsi model konservasi penyu dari Komunitas Laut Biru, organisasi lingkungan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman).

Menurut Ketua Komunitas Laut Biru, Putra Ardiansyah, 2025 adalah tahun dengan pencapaian terbaik bagi konservasi penyu. Di kawasan Polman, musim bertelur penyu-penyu berlangsung mulai Maret sampai Agustus.

“Dan sampai saat ini kami sudah menyelamatkan 50 sarang telur penyu dengan jumlah telur keseluruhan sekitar 4.500 dan telah menetas menjadi tukik sebanyak 2.000 ekor,” ujar Putra kepada Garda Animalia, Sabtu (12/6/2025).

Presentase keberhasilan tetas mencapai 90 persen, terbaik dari tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, setengah tahun ini, Laut Biru telah melakukan kegiatan edukasi tentang penyu ke anak-anak dan remaja. Hal ini terlaksana lewat sepuluh kali sekolah laut (belajar tentang penyu) dengan lebih dari 200 peserta yang terlibat.

Uploaded content
Komunitas Laut Biru mendidik anak-anak mencintai penyu. | Foto: Komunitas Laut Biru

Tantangan lain yang perlu dihadapi oleh komunitas pelestari penyu di Sulawesi Barat adalah lokasi peneluran penyu yang juga merupakan kawasan wisata. 

Metro Tv pada 10 Juni 2025 lalu menyiarkan berita, beberapa pengunjung wisata di Pantai Palippis di Kabupaten Polman menemukan ratusan telur penyu saat menggali pasir untuk membuat rumah-rumahan.

Baru menggali sedalam 30 sentimeter, mereka menemukan telur-telur itu. Beruntung, para wisatawan itu sudah punya kesadaran tinggi dan memilih menyerahkannya pada Komunitas Laut Biru.

Putra Ardiansyah mengatakan, pihaknya mengamankan telur-telur dari spesies penyu sisik. Telur-telur in lalu ditempatkan di tempat penetasan. Mereka akan menetas setelah 60 sampai 65 hari untuk kemudian dilepas ke lautan.

“Jika masyarakat menemukan telur, [yang harus dilakukan] bukan terus menggali karena malah menurunkan tingkat keberhasilan penetasan. Sebaiknya menghubungi komunitas pelstari penyu atau petugas konservasi,” kata Putra.


Penulis: Irvan Sjafri