Patria: Jangan Salahkan Satwa, Manusia yang Rusak Habitat Mereka

  • Share
Ilustrasi buaya muara atau biasa disebut juga buaya air asin. | Foto: Pen_Ash/Pixabay
Ilustrasi buaya muara atau biasa disebut juga buaya air asin. | Foto: Pen_Ash/Pixabay

Gardaanimalia.com – Seorang pekerja bansaw ditemukan meninggal dunia pada Sabtu (15/1) karena konflik dengan buaya berukuran 5 meter di Sungai Sebangau, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Peristiwa konflik tersebut terjadi ketika Samsul (17) sedang mengikat kayu galam di sungai untuk kemudian dipotong di lokasi bansaw (tempat pemotongan kayu).

Samsul yang bukan merupakan warga asli daerah itu diduga tidak mengetahui seluk beluk tempatnya bekerja yang mana sungai Sebangau terkenal sebagai habitat buaya.

Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mengungkapkan bahwa konflik antara manusia dan buaya selalu terjadi setiap tahunnya.

Bahkan, konflik berupa serangan seperti yang dialami oleh Samsul adalah yang ketiga kali terjadi di kawasan Desa Paduran, Kecamatan Sebangau Kuala.

“Kami sudah sering mengedukasi masyarakat mengenai kenali kawasan sebelum beraktivitas. Terlebih jika masuk ke dalam hutan, kita tidak tahu ada satwa apa yang ada di kawasan tersebut,” ujarnya dilansir dari Tribun Kalteng.

Ia juga mengungkapkan bahwa rata-rata warga asli daerah tersebut berprofesi sebagai nelayan. “Jadi sudah tahu seluk beluk kawasan tersebut. Makanya tidak pernah ada warga Desa Paduran melapor diserang buaya,” terangnya.

Menurut Patria, manusia dan satwa liar itu dapat hidup berdampingan. “Harmonisasi antara alam dan manusia, hidup berdampingan antara manusia, hewan, dan tumbuhan adalah hal paling top,” tuturnya.

Selain itu, ia melanjutkan bahwa hendaknya tidak setiap kali ada satwa liar, warga selalu melapor dan meminta satwa itu untuk dipindahkan.

“Padahal manusia yang mendekati habitat dari satwa tersebut, mereka sudah tinggal di sana sebelum manusia datang. Kalau manusia tidak mengganggu, satwa pun tidak akan mengganggu,” tegasnya.

BACA JUGA:
Seberat 80 Kg, Buaya Muara Milik Warga Depok Dievakuasi Pemadam Kebakaran

Sebelumnya, saat tim gabungan BKSDA telah diturunkan untuk menyisir dan mencari pekerja bansaw yang terlibat konflik dengan buaya tersebut, Patria tegaskan bahwa keberadaan satwa liar itu disebabkan banyak faktor, Jumat (14/1).

“Mereka tidak salah, sebab karena banyak kawasan dibuka lahan yang harusnya menjadi habitat mereka,” ujarnya.

Konversi hutan, pembukaan lahan dan kawasan menjadi perkebunan, menurut Patria merupakan bagian dari merusak habitat hewan liar.

“Membuka kebun di pinggiran hutan, itu merusak habitat dan ekosistem dari satwa liar tersebut. Jadi jangan salahkan satwanya jika masuk ke permukiman, karena kita yang masuk ke rumah mereka,” imbuhnya.

Hal itu dikarenakan pembukaan lahan berakibat pada berkurangnya teritori tempat berburu dari satwa liar seperti beruang, ular, buaya dan lain sebagainya. Sehingga mereka masuk permukiman untuk mencari sumber makanan.

“Ya sekali lagi, saya menegaskan jangan menyalahkan satwa. Manusia yang salah karena sudah masuk ke habitat mereka,” pungkas Patria.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments