Berita

Rahmi Carolina dan Akar Ilalang, Percaya Manusia Butuh Mahluk Hidup Lain di Bumi

08/08/2025|Garda Animalia
Kegiatan talkshow "Belang, Bara, dan Harapan" yang diselenggarakan pada 1 Agustus 2025 dalam rangka memperingati Hari Harimau Sedunia. | Foto: Dokumentasi pribadi

Kegiatan talkshow "Belang, Bara, dan Harapan" yang diselenggarakan pada 1 Agustus 2025 dalam rangka memperingati Hari Harimau Sedunia. | Foto: Dokumentasi pribadi

Gardaanmalia.com - Tiga belas tahun sudah Rahmi Carolina bergiat di dunia konservasi dan lingkungan, terutama di bidang komunikasi dan advokasi.

Dalam akun instagramnya, bertebaran unggahan tentang kepeduliannya terhadap satwa liar, seperti gajah dan harimau di Provinsi Riau.

“Saya pernah masuk ke dalam hutan, baik dalam rangka liputan, pelatihan, maupun pendampingan komunitas. Saya pernah mengikuti kegiatan pemasangan camera trap, wawancara soal konflik satwa, dan ikut melihat jejak harimau bersama petugas lapangan,” ungkap Rahmi kepada Garda Animalia, Rabu (6/8/2025).

Berangkat bermodal kepedulian, ia bersama dua temannya yang berlatar pendidikan ilmu komunikasi mendirikan komunitas Akar Ilalang di Pekanbaru, Riau pada 2024.

Tidak hanya menaruh perhatian pada isu lingkungan hidup dan konservasi, pendidikan, serta perempuan, komunitas ini memiliki harapan besar tentang keharmonisan hubungan manusia dan alam. 

“Kami melihat bahwa krisis ekologi bukan hanya tentang kerusakan hutan atau hilangnya satwa, tetapi juga tentang rusaknya relasi manusia dengan lingkungan sekitarnya, terutama pada masyarakat perkotaan. Akar Ilalang hadir untuk menjahit ulang hubungan itu lewat ruang-ruang edukasi, dialog, dan aksi kolektif berbasis kasih sayang terhadap alam,” kata perempuan yang karib disapa Mimi ini.

Uploaded content
Rahmi Carolina dengan jejak satwa dalam sebuah petualangan. | Foto: Dokumentasi pribadi

Kegiatan pertama Akar Ilalang adalah talkshow bertajuk “Belang, Bara, dan Harapan” yang diselenggarakan pada 1 Agustus 2025 dalam rangka Hari Harimau Sedunia 2025.

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun ruang dialog tentang pentingnya menjaga keberadaan harimau sebagai bagian dari ekosistem.

“Kami belum secara spesifik menjalankan program mitigasi konflik satwa-manusia, tetapi edukasi publik adalah salah satu fokus utama kami, termasuk memperkenalkan pentingnya relasi manusia dengan satwa liar, seperti harimau, gajah, dan lainnya,” ujar Rahmi.

Ke depan, Akar Ilalang ingin mengembangkan pendekatan edukatif yang bisa menjangkau generasi muda lebih luas, agar sama-sama berkesadaran dan berempati terhadap kehidupan liar di sekitarnya, menumbuhkan pengertian bahwa manusia tidak hidup sendiri, manusia juga butuh makhluk hidup lain di kehidupan ini.

Menurutnya, berita-berita konflik harimau yang dibacanya dalam satu tahun terakhir menjadi indikasi kondisi harimau sumatera di Riau saat ini sangat memprihatinkan. Habitat mereka terus terfragmentasi, konflik dengan manusia masih terjadi, dan ruang hidupnya makin terdesak oleh alih fungsi lahan.

Akar Ilalang merasa, membuka ruang percakapan tentang harimau sebagai barometer ekosistem adalah hal yang penting. Oleh karena itu, komunitas ini terlibat dalam talkshow Hari Harimau Sedunia. Baginya, menyelamatkan harimau berarti menyelamatkan masa depan manusia.

“Peran kami sebagai anak muda adalah menggaungkan hal tersebut, serta upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh pihak-pihak yang peduli terhadap kelestarian harimau sumatera,” ujar Mimi.

Mereka ingin menjembatani sains, cerita, dan suara dari lapangan kepada masyarakat luas melalui media, diskusi, dan kelas edukatif.

Uploaded content
Talkshow "Belang, Bara, dan Harapan" yang diselenggarakan untuk memperingati Harimau Sedunia, diselenggarakan oleh Akar Ilalang dan organisasi lain. | Foto: Dokumentasi pribadi

Ia menuturkan, saat ini masih banyak anak muda yang belum mendapatkan akses informasi yang baik tentang kondisi satwa liar di sekitarnya. Kondisi ini membuat mereka terlihat cuek, bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak tahu.

Di sisi lain, makin banyak juga anak muda yang sadar dan aktif di gerakan lingkungan, entah itu melalui komunitas, karya seni, media sosial, atau aksi lokal di desanya.

“Kami percaya bahwa jika ruangnya dibuka dan pendekatannya relevan, anak muda akan sangat siap menjadi bagian dari perubahan. Itulah kenapa Akar Ilalang ingin memperkuat peran edukasi yang kontekstual dan menyentuh rasa, bukan sekadar data,” tuturnya.

Selanjutnya, Akar Ilalang akan fokus mengembangkan tiga pilar kegiatan. Kegiatan pertama adalah Kelas Alam, merupakan edukasi lingkungan untuk anak-anak dan remaja, baik di sekolah maupun langsung di alam.

Kedua, Ruang Rimba, yaitu forum diskusi dan dialog antar warga, pegiat, dan akademisi tentang isu lingkungan dan sosial-ekonomi.

Ketiga adalah Semai Aksi, berupa kegiatan lapangan seperti aksi bersih, penanaman pohon, kampanye kreatif, dan kolaborasi seni-lingkungan.

“Kami juga akan membuat konten edukatif tentang tiga pilar tersebut dalam bentuk cerita, visual, dan modul yang bisa diakses siapa saja. Kami berharap kegiatan-kegiatan sederhana ini menjadi bermakna dan berdampak,” pungkasnya.

Uploaded content
Rahmi bersama para pegiat lingkungan. | Foto: Dokumentasi pribadi


Penulis: Irvan Sjafri