Berita

Rentetan Peristiwa Ular Sanca Masuk Permukiman, BKSDA: Musim Bertelur

26/09/2025|Garda Animalia
Evakuasi ular sanca di Dukuh Krajan Kulon, Desa Wates, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, 20 September 2025. | Foto: BBKSDA Jatim

Evakuasi ular sanca di Dukuh Krajan Kulon, Desa Wates, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, 20 September 2025. | Foto: BBKSDA Jatim

Gardaanimalia.com - Sabtu, 20 September 2025, warga Dukuh Krajan Kulon, Desa Wates, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Toni Irawan, terperanjat ketika melihat seekor ayam miliknya mati di dalam kandang karena dililit sanca bodo (Python bivittatus) sepanjang 2,5 meter.

Warga dukuh segera gempar. Karena khawatir keberadaan ular sanca bodo berbobot 15 kilogram itu membahayakan warga, ia segera mengontak Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06 Ponorogo – Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro BBKSDA Jawa Timur.

Pada hari itu juga Tim Matawali RKW 06 bersama Jaga Satwa Indonesia (JSI) Ponorogo bertindak cepat ke lokasi. Setelah melalui proses evakuasi yang dramatis, ular besar yang masih liar dan cukup agresif itu berhasil diamankan.

Setelah proses pengamanan selesai, ular dibawa menuju kandang transit di Ponorogo untuk menjalani species assessment lebih lanjut.

Langkah berikutnya, tim berkoordinasi dengan Perhutani, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Somoroto, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madiun untuk menentukan lokasi pelepasliaran yang aman dan jauh dari permukiman penduduk.

Rentetan Pelepasliaran Sebelumnya

Sepuluh hari sebelumnya, pada 10 September 2025, Perhutani KPH Madiun bersama BBKSDA Jawa Timur RKW 06 Ponorogo dan relawan JSI Regional Ponorogo melepasliarkan seekor ular sanca bodo di kawasan hutan petak 97D Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Tulung, BKPH Somoroto.

Pelepasliaran dilakukan oleh tim gabungan dengan pendampingan dari Asisten Perhutani (Asper) BKPH Somoroto, Basuki Rahmat, dan Kepala RPH Tulung, Fery Ardinanto.

Sebelum pelepasliaran dilakukan, tim gabungan telah melakukan survei menyeluruh ke lokasi untuk memastikan kondisi hutan sesuai dan aman sebagai habitat satwa.

Mundur pada 12 Juni 2025, tim gabungan juga melepasliarkan tiga ekor ular sanca bodo di Hutan Lindung Perhutani Sampung, Kabupaten Ponorogo.

Ketiga sanca tersebut sebelumnya merupakan hasil penyerahan sukarela warga. Dua ekor berasal dari Desa Nologaten dan Desa Gelangkulon, sedangkan satu ekor lainnya sudah dititip rawat di kandang transit JSI sejak April 2025. 

Pada 27 Februari 2025 tiga ekor sanca bodo juga dilepaskan di Hutan Lindung Badegan usai sekian lama dirawat di kandang rehabilitasi.

Selain lepas liar, evakuasi sanca dari permukiman di Jawa Timur memang terlihat signifikan pada tahun ini. Dalam rentang Mei hingga Juni 2025, total terdapat 45 ekor ular sanca yang diamankan dari wilayah Gresik, terdiri atas 40 ekor ular sanca kembang dan 5 ekor sanca bodo.

Seluruhnya merupakan hasil penyelamtan tim gabungan, yaitu Damkar Kabupaten Gresik dan tim Matawali Bidang KSDA Wilayah II Gresik.

Evakuasi ini adalah bagian dari respons cepat terhadap laporan warga terkait kemunculan ular berukuran besar di lingkungan mereka. 

Dengan demikian, Jawa Timur mencatat banyak kejadian ular sanca masuk ke permukiman, terutama jenis ular sanca bodo.

Musim Bertelur Picu Ular Masuk Permukiman

Menanggapi kejadian yang jumlahnya cukup signifikan, Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan berharap agar warga tidak panik. Ia menjelaskan, ular jenis sanca tidak berbisa meskipun dapat melilit mangsa. Namun, mangsa sebenarnya adalah satwa yang lebih kecil.

“Saya tanya ke BRIN mengapa ular masuk ke permukiman, bukan saja soal berkurangnya satwa yang dimangsa atau semakin sempitnya habitat, tetapi juga soal musim bertelur, biasanya pada musim dingin, ular [masuk] ke permukiman mencari tempat untuk meletakkan telurnya. Nah, ketika panas [mencapai] 19 derajat, tanpa perlu dierami telur [bisa] menetas,” ujar Nur Patria kepada Garda Animalia, Kamis (25/9/2025).

Lanjut Nur Patria, keberadaan ular sanca tidak selalu merugikan, seperti memangsa ternak ayam atau kucing, tetapi juga untuk memburu tikus got yang jumlahnya banyakkarena banyak sampah makananhingga populasi berkurang.

Sanca bodo termasuk salah satu ular terbesar di dunia. Memiliki corak bercak-bercak berwarna cokelat yang dibatasi warna hitam. Umumnya, ular ini berukuran 5 meter, tetapi ada juga yang berukuran 7 meter bahkan lebih.

Ular ini memiliki pertumbuhan yang cepat. Dalam sekali sesi bertelur, betinanya dapat menghasilkan hingga 100 butir telur. Mereka akan mengerami telurnya selama 2 minggu hingga 3 bulan lamanya.

Ketika masih muda, ular ini sering berada di atas pohon. Namun, ketika sudah dewasa dan bertubuh besar, mereka akan lebih sering menghabiskan waktunya di atas tanah.

Di samping itu, ular ini juga merupakan perenang yang baik. Mereka dapat menahan napas selama 30 menit di dalam air.


Penulis: Irvan Sjafari