Berita

Sahabat Penyu di Pantai Mampie: Bukankah jika Penyu Lestari, maka Masyarakat Sejahtera?

16/07/2025|Garda Animalia
Penyelenggaraan Festival Penyu Mampie pada 13-15 Juni 2025. | Foto: polmankab.go.id

Penyelenggaraan Festival Penyu Mampie pada 13-15 Juni 2025. | Foto: polmankab.go.id

Gardaanimalia.com - Tidak akan banyak yang tahu nama sebuah desa di tepi Pantai Mampie, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, yaitu Desa Galeso, tanpa kehadiran penyu.

Pada 13 hingga 15 Juni 2025, desa ini menggelar kegiatan bernama Festival Penyu Mampie 2025 dengan berbagai kegiatan edukatif dan kompetitif dengan mengusung tema “Penyu Pulang, Harapan Datang”.

Tidak tanggung-tanggung, kegiatan ini dihadiri 20 ribu pengunjung, sebagian besar adalah wisatawan nusantara dan mancanegara. Hadir pula Bupati Polman H. Samsul Mahmud, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Polman, DPRD bahkan perwakilan dari Kementerian Kehutanan RI.

Pelaksana sekaligus inisiator kegiatan ini adalah sebuah komunitas bernama Sahabat Penyu. Ketua Komunitas Sahabat Penyu Muhammad Yusri menyampaikan, Festival Penyu Mampie merupakan bagian dari kampanye pelestarian penyu agar warga tidak lagi berburu telur penyu.

Selain diramaikan dengan pelepasan tukik, penanaman pohon mangrove, serta kemah konservasi, kegiatan semakin meriah dengan terselenggaranya lomba mewarnai bagi anak-anak dan balap perahu nelayan tradisional.

Yusri percaya bahwa jika penyu lestari, maka masyarakat sejahtera.

Uploaded content
Muhammad Yusri, pendiri Komunitas Sahabat Penyu. | Foto: Irvan Sjafri

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, pemuda kelahiran 1989 ini prihatin melihat perburuan penyu di kampungnya, bahkan se-Sulawesi barat. Telur penyu dikonsumsi dan dijual.

Boleh dikata, setiap musim penyu bertelur tiba, tidak ada telur penyu yang berhasil menetas. Semua telur diambil warga untuk dikonsumsi dan dijual, keluarga Yusri pun melakukan kegiatan yang sama.

Atas dasar itulah Yusri memberanikan diri untuk melakukan penyelamatan telur penyu.

"Awalnya sering gagal, tetapi saya terus mencoba sambil belajar dan mencari tahu pada orang-orang yang lebih paham tentang penyu. Saat itu saya melihat kok tidak ada yang bergerak untuk melakukan upaya penyelamatan walaupun aturan dan sanksinya sudah jelas? Petugas [juga] tidak maksimal melakukan upaya pencegahan. Sehingga saya memberanikan diri untuk melakukannnya,” ujar Yusri kepada Garda Animalia, Senin (14/6/2025).

Padahal, Yusri berkata, penyu sangat berperan penting dalam menjaga ekosistem ruang laut berkelanjutan, yang akan berdampak baik juga untuk kelangsungan hidup manusia.

Dalam pergerakannya, komunitas ini pun mendirikan Rumah Penyu sebagai pusat edukasi bagi pengunjung, seperti pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.

Banyak kegiatan yang dilakukan di Rumah Penyu. Setiap kegiatan selalu dibarengi dengan pengenalan satwa laut. Contohnya, anggota dari sanggar berlatih menari di Rumah Penyu sambil belajar tentang penyu.

Kegiatan lainnya, Sahabat Penyu melakukan patroli sepanjang garis Pantai Mampie setiap musim bertelur untuk memastikan keselamatan dan keamanan bagi penyu bertelur hingga menetas.

“Wilayah yang kami tangani ada di beberapa Desa di Kabupaten Polewali Mandar. Tapi saat ini fokus di Pantai Mampie Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo dengan jumlah anggota 15 orang. Ada pun rencana ke depan terus memaksimal kampanye konservasi di beberapa wilayah yang masih tinggi angka perburuan penyu,” tutur Yusri.

Uploaded content
Pemeriksaan kesehatan penyu. | Foto: Sahabat Penyu

Di sisi lain, Bupati H. Samsul Mahmud mengapresiasi Festival Penyu Mampie sebagai solusi kreatif terhadap persoalan lingkungan, terlebih karena diadakan saat momen Hari Penyu Sedunia.

“Festival Penyu memberikan manfaat bukan hanya untuk lingkungan, tapi juga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat dan komunitas sekitar,” sambutnya seperti dilansir situs Kabupaten Polman.

Sejak pertama kali diadakan pada 2018, Festival Penyu Mampie telah menjadi acara tahunan yang memadukan aspek pelestarian alam dengan kegiatan partisipatif masyarakat.

Festival ini memperkuat branding Desa Galeso yang sudah terdaftar sebagai Desa Wisata di Kemenparekraf. Keberadaan penyu justru membuat desa ini hidup.


Penulis: Irvan Sjafri