Berita

Stasiun Riset Baru di Leuser Perkuat Perlindungan Satwa Kunci di Aceh Selatan

14/02/2026|Mardili
Stasiun Penelitian Sarah Baru di Desa Alue Kejruen Kecamatan Kluet Tengah Aceh Selatan Foto Mardili - Stasiun Riset Baru...

Stasiun Penelitian Sarah Baru, di Desa Alue Kejruen, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan. | Foto: Mardili

Gardaanimalia.com - Upaya perlindungan satwa liar di Kawasan Ekosistem Leuser kini mendapat penguatan dengan hadirnya basis riset baru di wilayah selatan Aceh.

Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh resmi mengoperasikan Stasiun Penelitian Sarah Baru di Desa Alue Kejruen, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Kamis (12/2/2026).

Lokasi stasiun yang berada jauh di dalam hutan hujan tropis hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai selama sekitar satu setengah jam menggunakan perahu mesin. Akses yang terbatas menjadikan kawasan ini relatif terjaga dan penting sebagai pusat pemantauan keanekaragaman hayati.

Fasilitas ini menjadi stasiun riset keempat hasil kolaborasi FKL dan DLHK Aceh, melengkapi jaringan penelitian yang sebelumnya telah hadir di Stasiun Penelitian Ketambe di Aceh Tenggara, Stasiun Penelitian Soraya di Subulussalam, serta Stasiun Penelitian Samar Kilang di Bener Meriah.

Direktur FKL, Muhammad Isa, menegaskan bahwa stasiun ini dibangun dengan semangat inklusif. Selain menjadi pusat data ilmiah, fasilitas tersebut juga terbuka bagi masyarakat untuk kegiatan edukasi maupun aktivitas positif lainnya.

“Stasiun Penelitian Sarah Baru ini bersifat inklusif. Selain menjadi basis riset, fasilitas ini terbuka bagi masyarakat umum untuk berbagai kegiatan. Ini milik kita bersama, jadi mari kita jaga bersama. Masyarakat silakan memanfaatkan tempat ini untuk acara atau sekadar menginap,” ujarnya.

Koordinator Research Edukasi Database (RED) FKL, Ibnu Hasyem, menjelaskan kawasan Manggamat telah menjadi fokus pemantauan sejak 2017.

Berdasarkan data lapangan, wilayah ini masih menjadi habitat penting bagi sejumlah spesies kunci Sumatera yang semakin terancam, sekaligus kawasan hulu vital bagi Sungai Menggamat yang menjadi sumber air utama masyarakat sekitar.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan warga lokal dalam pengelolaan stasiun. Saat ini, empat staf telah direkrut, termasuk dua pemuda setempat. Harapannya, pengelolaan penuh dapat dilakukan oleh masyarakat lokal di masa depan.

Dari sisi pemerintah, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah IX Aceh, Irwandi, menyatakan bahwa kehadiran stasiun riset akan memperkuat pengawasan kawasan hutan melalui data ilmiah yang dihasilkan para peneliti.

“Setiap peneliti wajib mengikuti SOP, mendapatkan rekomendasi dari KPH atau Dinas LHK Aceh, serta didampingi petugas selama di lapangan demi keamanan dan kepatuhan aturan,” tegasnya.

Ia menambahkan, hasil riset wajib dilaporkan kepada pemerintah sebagai dasar evaluasi dan langkah penyelamatan satwa maupun kawasan secara ilmiah.

Peresmian Stasiun Penelitian Sarah Baru diharapkan memperkuat kolaborasi antara peneliti, praktisi konservasi, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian satwa liar serta ekosistem hutan Leuser yang menjadi benteng terakhir biodiversitas di Sumatera.