Berita

Temukan Jejak Gajah dan Bulu Burung Kuau: 7 Siswa SMA Berpetualang di Hutan Leuser

14/07/2025|Garda Animalia
Sejumlah siswa memantau burung di area Stasiun Penelitian Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Bener Meriah, Minggu (6/7/2025). | Foto: Mardili

Sejumlah siswa memantau burung di area Stasiun Penelitian Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Bener Meriah, Minggu (6/7/2025). | Foto: Mardili

Gardaanimalia.com – Tiga hari berada di hutan tropis Leuser bukan sekadar petualangan, melainkan pengalaman belajar yang membekas bagi tujuh siswa dari SMAN 1 Syiah Utama, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah.

Mereka mengikuti kegiatan field trip edukatif ke Stasiun Penelitian Samarkilang pada 5 hingga 7 Juli 2025, dan pulang membawa banyak cerita.

Program ini difasilitasi oleh Kami Sahabat Leuser (KSL) dengan dukungan dari Forum Konservasi Leuser, DLHK Aceh, KPH Wilayah III Langsa, serta masyarakat lokal yang terlibat aktif dalam mendampingi kegiatan.

Ekosistem Leuser merupakan habitat penting bagi empat satwa kunci yang keberadaannya terancam punah, yakni orangutan sumatera (Pongo abelii), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), harimau sumatera (Panthera tigris sumatre), dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).

Satwa-satwa ini terancam punah akibat perburuan liar dan kerusakan habitat, sehingga perlindungan mereka menjadi prioritas utama konservasi.

Selama di lapangan, para siswa terlibat dalam berbagai aktivitas, mulai dari jelajah hutan, pengamatan satwa, hingga diskusi lapangan.

Uploaded content
Bulu burung kuau yang ditemukan oleh para siswa dalam field trip di Hutan Leuser. | Foto: Mardili

Di tengah perjalanan, mereka menemukan kotoran gajah sumatra, bulu burung kuau, dan mengamati langsung berbagai jenis burung, serangga, dan tumbuhan langka.

“Sangat seru, kami juga menemukan feses gajah, bulu burung kuau dan mengenal berbagai jenis tumbuhan di hutan Leuser,” ungkap Sardiansah, salah satu peserta field trip.

Ketua KSL, Feri Irawan, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang bukan hanya sebagai petualangan, tetapi sebagai pendekatan pendidikan lingkungan langsung di habitat aslinya. Tujuannya adalah menumbuhkan kepedulian sejak dini terhadap hutan, yang selama ini sering dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin siswa paham bahwa hutan itu bukan hanya tempat yang indah, tetapi juga rumah bagi banyak makhluk hidup. Jejak gajah, bulu kuau itu bukti bahwa hutan masih hidup dan layak kita jaga bersama,” jelas Feri.

Para siswa juga dikenalkan dengan fungsi Stasiun Penelitian Samarkilang yang tak hanya berperan sebagai pusat riset ilmiah, tetapi juga sebagai ruang belajar terbuka bagi pelajar dan masyarakat.

Mereka belajar mengenali ciri-ciri flora dan fauna endemik, memahami keterhubungan antar spesies dalam ekosistem, serta berdiskusi tentang tantangan konservasi yang nyata.

“Anak-anak ini melihat langsung seperti apa kondisi hutan, dan bagaimana satwa bergantung pada tutupan hutan yang utuh. Ini pengalaman yang tak tergantikan oleh buku atau video,” tambah Feri.

Uploaded content
Siswa field trip menemukan feses gajah di trek Stasiun Penelitian Samar Kilang. | Foto: Mardili

Feri juga menekankan bahwa pengalaman seperti ini bisa menjadi langkah awal untuk mencetak kader konservasi muda. Siswa yang telah melihat dan merasakan langsung kehidupan hutan cenderung memiliki empati dan kesadaran yang lebih tinggi terhadap isu-isu lingkungan.

“Sepulang dari sini, mereka bisa jadi agen perubahan di sekolah dan kampung masing-masing. Mulai dari kampanye kecil, mengurangi sampah plastik atau bahkan hanya dengan bercerita, itu sudah berdampak,” katanya.

Selanjutnya, KSL berharap program serupa bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah di sekitar kawasan Leuser.

Lewat pendekatan yang melibatkan pengalaman langsung, generasi muda bisa memahami lebih dalam bahwa menjaga hutan berarti menjaga masa depan mereka sendiri.

“Generasi muda adalah kunci keberlanjutan konservasi. Kalau mereka sudah peduli sejak sekarang, kita punya alasan untuk tetap optimis soal masa depan hutan Leuser,” tutup Feri.


Penulis: Mardili