Berita

Terluka karena Jerat Nilon, Seekor Anak Gajah Sumatera Diselamatkan di Tesso Tenggara

15/12/2025|Nadaa
Pemeriksaan dan perawatan oleh tim medis terhadap anak gajah yang terkena jerat. | Foto: Media Center Riau

Pemeriksaan dan perawatan oleh tim medis terhadap anak gajah yang terkena jerat. | Foto: Media Center Riau

Gardaanimalia.com - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menurunkan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) untuk mengevakuasi seekor anak gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) betina yang ditemukan terluka di kantong gajah Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan, Riau, pada Kamis (11/12/2025).

Evakuasi ini dilakukan setelah BBKSDA menerima laporan melalui call center pada Senin (1/12/2025) mengenai keberadaan seekor anak gajah yang terpisah dari kelompoknya. Anak gajah ini dilaporkan berada di sekitar konsesi salah satu perusahaan pemegang izin pengelolaan hutan (PBPH) di Riau.

“Laporan tersebut mengatakan, anak gajah itu tertinggal dari kelompoknya dan berada di sekitar kawasan konsesi salah satu PBPH di Riau,” kata Kepala BBKSDA Riau, Supartono dalam Media Center Riau.

Dari laporan tersebut, Supartono segera memberikan instruksi terkait pengiriman tim yang terdiri dari dokter hewan dan mahout untuk melakukan pencarian dan penanganan medis di lapangan.

Di lokasi, tim segera melakukan penyisiran bersama para mitra dan menemukan anak gajah betina berusia sekitar dua tahun dengan berat kurang lebih 400 kilogram dan tinggi 178 sentimeter. 

“Tim yang turun ke lokasi mendapati kondisi kaki kanan depan mengalami luka akibat jerat tali nilon,” kata Supartono.

Selanjutnya, tim medis segera memeriksa dan mengobati dengan membius anak gajah tersebut terlebih dahulu.

Tim dokter juga memberikan terapi cairan untuk mencegah dehidrasi, vitamin untuk meningkatkan kondisi tubuh, antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder, serta obat antiradang dan antiinflamasi guna mempercepat proses penyembuhan.

Setelah dilakukan penanganan kurang lebih selama tiga jam, anak gajah tersebut dilepasliarkan kembali ke lokasi semula dengan harapan dapat segera kembali bergabung dengan kawanannya.

“Saat ini populasi gajah di kantong Tesso Tenggara diperkirakan mencapai sekitar 30 individu,” ungkap Supartono

Usai penangan medis dan pelepasliaran, BBKSDA Riau melanjutkan pemantauan selama beberapa hari menggunakan drone dan patroli darat untuk memastikan kondisi gajah serta pergerakannya di alam.

Hasil pemantauan menunjukkan anak gajah yang terluka itu akhirnya berhasil kembali ke kelompoknya. Sementara, seluruh proses penanganan lapangan berlangsung aman meski kawanan gajah liar berada sekitar satu kilometer dari titik operasi.

“Seluruh proses pengobatan dilaporkan berjalan aman, meski rombongan gajah liar berada pada jarak sekitar satu kilometer dari lokasi penanganan,” kata Supartono.

Atas keberhasilan evakuasi dan perawatan tersebut, Supartono juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel dan pihak mitra yang terlibat dalam operasi penyelamatan satwa dilindungi itu.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama dari berbagai pihak dalam upaya perlindungan gajah sumatra dan penanganan konflik yang mengancam keselamatan satwa liar di Riau.