Berita

Yayasan Alobi Lakukan Nekropsi Pesut Laut yang Ditemukan Mati di Perairan Bangka

12/11/2025|Nadaa
Proses pengukuran morfometri tubuh pesut oleh dokter hewan. | Foto: Finlan Adhitya Aldan/Alobi Foundation

Proses pengukuran morfometri tubuh pesut oleh dokter hewan. | Foto: Finlan Adhitya Aldan/Alobi Foundation

Gardaanimalia.com - Yayasan Alobi telah melakukan nekropsi terhadap seekor pesut laut (Orcaella brevirostris) berjenis kelamin betina pada Sabtu (8/11/2025).

Kegiatan ini dilaksanakan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi Kampoeng Reklamasi Timah, Air Jangkang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Mamalia laut ini ditemukan tak bernyawa pada malam hari sebelumnya oleh seorang nelayan yang sedang menangkap ikan di kawasan Pantai Kuala, Kecamatan Air Anyir, Kabupaten Bangka. Lokasi penemuan berada tidak jauh dari Jembatan Emas Bangka Belitung, tepatnya sekitar pukul 18.30 WIB.

Bangkai pesut kemudian dipindahkan ke sebuah rumah penduduk di Kelurahan Pasir Garam, Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang.

Pada saat pengambilan, kondisi bangkai sudah mengeluarkan bau yang sangat menyengat dan telah dipenuhi oleh lalat.

“Kalau soal berapa lama pesut sudah mati, kita tidak tahu pasti. Tapi dengan kondisi seperti kemarin, kira-kira tiga sampai empat hari. Kalau istilah medisnya, masih kode dua,” ujar Manajer Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi Endi Yusuf pada Garda Animalia, Selasa (11/11/2025).

Menyusul laporan dari masyarakat, tim gabungan dari Alobi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan segera bergerak mengambil bangkai pesut guna melakukan nekropsi di fasilitas PPS Alobi.

Nekropsi Tunjukkan Pesut Alami Kelaparan

Pemeriksaan nekropsi dipimpin oleh drh. Magri Nora Diantara dan drh. Yayan Muchlus Marchito yang berasal dari Asosiasi IAM Flying Vet serta Balai Karantina Kepulauan Bangka Belitung.

Hasil nekropsi menunjukkan bahwa ukuran panjang pesut dari ujung moncong hingga pangkal ekor mencapai 2,25 meter.

Sementara itu, lingkar maksimal tubuhnya diukur sebesar 1,02 meter. Lambung pesut diketahui dalam kondisi hampa, menandakan bahwa hewan ini tidak mengonsumsi makanan dalam periode yang cukup panjang. Di samping itu, organ paru-parunya memperlihatkan pigmentasi gelap yang tidak seragam.

Berdasarkan hasil temuan tersebut, tim dokter hewan memperkirakan bahwa kelaparan merupakan salah satu faktor penyebab kematian pesut ini.

Selain itu, terdapat dugaan adanya tanda-tanda keracunan yang terlihat pada organ paru-paru.

Saat ini, berbagai sampel dari bagian tubuh pesut sedang diperiksa di laboratorium guna mendapatkan keterangan yang lebih detail terkait dugaan keracunan tersebut.

Pasca-pelaksanaan nekropsi, seluruh bangkai beserta bagian-bagian tubuh pesut langsung dikubur di area sekitar fasilitas PPS Alobi.

Sebagai informasi tambahan, pesut atau yang dikenal juga sebagai Irrawaddy dolphin merupakan jenis mamalia laut euryhalineKarakteristik ini memungkinkan pesut untuk dapat bertahan hidup baik di perairan asin maupun perairan tawar. Pesut yang menjalani nekropsi ini diperkirakan berasal dari populasi yang berhabitat di perairan asin.

Pesut telah mendapatkan status dilindungi di Indonesia.  Organisasi International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga mengategorikan pesut ke dalam status spesies genting (endangered).

Ancaman terbesar bagi keberlangsungan hidup pesut bersumber dari berbagai aktivitas industri yang berlangsung di wilayah sungai dan pesisir, terutama dari sektor industri perikanan.

Pola Distribusi dan Penanganan Cetacea Terdampar di Indonesia

Uploaded content

Jasad pesut ketika diambil di rumah salah satu warga di Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang. | Foto: Finlan Adhitya Aldan/Alobi Foundation

Terkait fenomena cetacea (mamalia laut) terdampar di Indonesia, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Achmad Sahri menyampaikan studinya tentang pola distribusi dan penangan yang seharusnya dilakukan.

Mengutip laman BRIN, analisis ini mengacu pada data yang telah dikumpulkan selama 26 tahun terakhir, yang mencakup distribusi beberapa spesies dominan cetacea di wilayah perairan Indonesia.

Sahri menyebutkan bahwa inisiatif pengumpulan data cetacea terdampar telah dimulai sejak tahun 1995 hingga 2021, dan data tersebut digunakan sebagai bahan analisis dalam penelitian dan publikasi. Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan dari berbagai sumber, tercatat ada 568 kejadian cetacea terdampar.

Akan tetapi, Sahri mengakui terdapat bias dalam laporan itu karena data diperoleh berdasarkan laporan masyarakat, bukan dari survei sistematis yang dilakukan oleh pengamat yang secara reguler menyusuri pantai untuk memantau kejadian terdampar.

Sahri juga menjelaskan, jejaring penanganan mamalia laut terdampar baru diinisiasi pada tahun 2012-2013, sehingga analisis perlu membagi dataset menjadi dua periode, yaitu sebelum 2012 dan setelah 2012.

“Pembagian ini penting karena upaya penyelamatan yang dilakukan berbeda. Sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam penanganan massal tentu lebih besar,” jelasnya.

Dari analisis yang dilakukan, fenomena cetacea terdampar di Indonesia banyak tercatat setelah tahun 2012. Sahri memaparkan tren musiman bahwa kejadian terdampar paling sering terjadi pada bulan Maret dan Agustus, sementara Desember adalah bulan dengan jumlah kejadian terendah.

Terkait dengan penanganan di lapangan, Sahri mengungkapkan bahwa salah satu metode yang sering digunakan adalah refloating, yaitu usaha untuk mengembalikan cetacea ke laut.

Namun, keberhasilan metode ini bervariasi, untuk terdampar tunggal tingkat keberhasilan refloating mencapai sekitar 75 persen, tetapi untuk kejadian terdampar massal keberhasilannya lebih rendah, hanya sekitar 52 persen. Bahkan, lebih dari 50 persen cetacea yang terdampar massal akhirnya mati selama proses penyelamatan.

Dari data ini, Sahri juga menjelaskan beberapa spesies mamalia laut yang sering ditemui dan distribusinya, seperti Irrawaddy dolphin lebih sering ditemukan terdampar di Sungai Mahakam dan pesisir selatan Kalimantan Timur. Paus sperma dan pilot, di Alor, NTT, memiliki distribusi yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia. Spesies lain seperti Finless Porpoise sering ditemukan di bagian barat Indonesia, terutama di pesisir timur Sumatera dan barat Kalimantan, dan beberapa tercatat terdampar di sekitar Madura.

Sahri menekankan pentingnya observasi sistematis dan respons yang lebih merata di seluruh Indonesia. Ia juga menegaskan pentingnya pengembangan protokol penanganan yang detail, termasuk langkah-langkah penanganan cetacea yang masih hidup dan yang sudah mati, serta kemungkinan dilakukannya nekropsi.

Kerja sama antara pemerintah, Lembaga Swadaya Masyaraka (LSM), dan masyarakat sangatlah penting untuk keberhasilan upaya konservasi ini.

"Saya harap melalui penelitian ini, pola distribusi cetacea terdampar di Indonesia semakin dipahami, dan upaya penanganan dapat dilakukan dengan lebih efektif serta efisien di masa mendatang," ujarnya.