Edukasi

Apa yang Terjadi Jika Lebah Punah?

26/08/2026|Irvan Sjafari
Ilusrasi lebah madu yang sedang mengumpulkan serbuk sari Foto Jon SullivanWikipedia - Apa yang Terjadi Jika Lebah Punah

Ilusrasi lebah madu yang sedang mengumpulkan serbuk sari. | Foto: Jon Sullivan/Wikipedia

Gardaanimalia.com - Sejak 1987, Joint Nature Conservation Committee (JNCC) telah melaporkan bahwa jumlah serangga penyerbuk, termasuk lebah, merosot hampir 25 persen.

Para ilmuwan telah mengungkapkan berbagai faktor dapat menyebabkan kematian pada lebah, di antaranya adalah pestisida, kekeringan, perusakan habitat, kekurangan nutrisi, polusi udara, pemanasan global, dan banyak lagi.

Habitat lebah liar menyusut setiap tahun karena agribisnis industri telah mengubah padang rumput dan hutan menjadi pertanian monokultur, yang pastinya terkontaminasi pestisida. Melansir laman Greenpeace, para ahli biologi telah menemukan lebih dari 150 residu kimia berbeda dalam serbuk sari lebah.

Selain itu, fragmentasi habitat umumnya dianggap sebagai faktor terpenting yang mendorong penurunan populasi lebah, seperti semak belukar yang hijau banyak diubah menjadi gedung bertingkat. 

Peran Lebah adalah Pondasi Kehidupan

Lebah—khususnya lebah madu—adalah serangga penyerbuk yang paling efisien dan efektif.

Saat mereka menari dari bunga ke bunga, lebah memindahkan serbuk sari untuk membuahi tanaman sehingga dapat menghasilkan biji dan buah. Dengan begitu, lebah mampu menyediakan ratusan varietas buah dan sayuran bagi manusia. 

Selain itu, tanaman yang tumbuh sebagai hasil dari aktivitas lebah juga menjadi sumber makanan ternak, yang kemudian menjadi daging—lagi-lagi—untuk konsumsi manusia.

Dalam laporan penelitian oleh World Wide Fund for Nature (WWF) dan Buglife yang dilakukan di Inggris, disebutkan bahwa satu dari tiga suapan makanan manusia ada karena peran penyerbuk seperti lebah. Namun, permintaan akan makanan yang tumbuh cepat, tahan lama, dan tampak sempurna telah menyebabkan peningkatan penggunaan herbisida dan pestisida.

Meskipun memenuhi kebutuhan manusia dalam jangka pendek, bahan kimia ini memusnahkan lebah.

Jadi, apa dampak jangka panjang dari hilangnya makhluk vital ini?

Lebah madu—liar dan domestik—melakukan sekitar 80 persen dari seluruh penyerbukan di seluruh dunia. Satu koloni lebah disebut dapat menyerbuki 300 juta bunga setiap hari.

Tujuh puluh dari seratus tanaman pangan utama manusia—yang menyediakan sekitar 90 persen nutrisi dunia—diserbuki oleh lebah. Maka, hilangnya lebah merupakan ancaman nyata bagi produksi pertanian di seluruh dunia.

Lebah mendukung seluruh jaring makanan lebih dari yang kita pikirkan.

Mungkinkan Tugas Lebah Digantikan?

Sektor pertanian akan menjadi yang pertama menderita akibat kehilangan serangga pendengung ini, karena lebih sedikit lebah berarti lebih sedikit hasil panen.

Sebuah studi menemukan bahwa kurangnya lebah menyebabkan hilangnya setengah dari produksi apel. Pada studi ini, diungkapkan bahwa petani mengalami penurunan keuntungan hingga sebesar 42 persen.

Apakah manusia bisa menggantikan kerja lebah?

Manusia harus bekerja “ekstra keras” untuk melakukan pekerjaan lebah, yang selama ini dapat dikatakan dilakukan lebah secara gratis.

Manusia bisa mulai dengan mencoba penyerbukan manual, memindahkan serbuk sari secara manual dengan mengumpulkannya dari satu tanaman dan dengan lembut menyapukannya ke tanaman lain. Cara ini tidak hanya sangat membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga mahal.

Menggunakan studi kasus kita tentang kebun apel sebelumnya, proses penyerbukan ini akan menelan biaya antara USD5.000-7.000 per hektare. Dengan sekitar 153.375 hektare kebun apel di seluruh AS, itu sama dengan sekitar USD880 juta per tahun.

Cara lain adalah melakukan penyemprotan serbuk sari. Ini adalah proses yang mirip dengan penyerbukan manual, tetapi bisa menggunakan mesin. Tidak hanya berarti lebih sedikit tenaga kerja, tetapi biayanya hanya sekitar USD250 per hektare, belum termasuk biaya tenaga kerja terampil yang dibutuhkan untuk mengoperasikan mesin, mesin itu sendiri, atau perawatannya.

Namun, ternyata pohon tidak menyukai metode penyemprotan serbuk sari. Metode ini jauh lebih tidak konsisten daripada lebah dan cakupannya bisa tidak merata. Hasilnya kurang presisi dan kualitas serbuk sari lebih buruk daripada penyerbuk alami. Semua ini mengakibatkan penurunan hasil panen apel sekitar 70 persen.

Studi tersebut menunjukkan bahwa biaya penyerbukan buatan hampir 10 persen lebih tinggi daripada biaya jasa penyerbukan lebah.

Di sisi lain, sebuah penelitian menunjukkan bahwa serangga non-lebah hanya menyumbang 38 persen dari penyerbukan tanaman, menunjukkan betapa besar kontribusi lebah.

Singkatnya, manusia tidak dapat melakukan pekerjaan lebah dalam skala atau kecepatan yang sama, bahkan hewan penyerbuk lain.

Runtuhnya Keseimbangan Ekosistem

Selain berdampak langsung pada keanekaragaman hayati, penyerbuk seperti lebah memberikan kontribusi signifikan terhadap fungsi ekosistem, jauh melampaui sekadar rantai makanan.

Pekerjaan mereka membantu mendukung habitat alami, mendorong keanekaragaman genetik, dan menjaga struktur ekosistem.

Selain menopang produksi pangan, tanaman yang hidup dari aktivitas lebah membantu menciptakan bahan organik yang sangat penting untuk kesehatan dan kesuburan tanah.

Tanah yang sehat berarti lebih lembap dan lebih mendukung kehidupan komunitas mikroba (seperti jamur dan bakteri). Sistem akar tanaman mampu mengikat tanah dan mengurangi risiko erosi.

Tanah yang sehat juga meningkatkan infiltrasi, mengurangi limpasan permukaan yang memperbesar potensi terjadinya banjir.

Lebah Punah, Kiamat dalam Waktu Singkat

Sementara itu, pakar serangga dari IPB University Damayanti Buchori menyampaikan hal yang lebih mengerikan jika lebah punah. Seandainya semua lebah punah: dunia akan hancur, kiamat, dalam waktu singkat.

“Karena lebah itu penyerbuk bagi berbagai jenis tanaman dan tumbuhan. Tanaman termasuk kopi, hortikultur, dan berbagai jenis buah-buahan. Tumbuhan adalah tanaman-tanaman liar di hutan dan ladang-ladang, yang kita belum paham siapa saja yang menjadi penyerbuknya,” ujar Damayanti kepada Garda Animalia, 21 Mei 2026.

Damayanti berkata, lebah bisa menjadi penyerbuk tanaman-tanaman yang bahkan kita belum tahu namanya. Jadi kalau lebah hilang, bisa-bisa berbagai jenis tanaman dan tumbuhan juga punah karena tidak adanya penyerbukan.

Di samping itu, lebah menghasilkan madu dan royal jelly yang penting bagi kesehatan. Ketiadaan mereka akan menghilangkan industri rumah tangga dan berdampak pada kesehatan.

Penyerbuk lain mungkin bisa saja menggantikan, terutama untuk tanaman yang penyerbukannya generalis, tetapi pasti masih less efficient dibandingkan lebah.

Selain itu, perlu dipahami bahwa dalam food web (jejaring makanan), lebah mungkin punya peran lain yang kita belum tahu. Salah satunya, lebah sebagai sumber mangsa burung dan laba-laba.

“Jadi ketiadaan lebah bisa juga membuat binatang-binatang yang biasa memangsa lebah menjadi kekurangan pakan. Akibatnya populasi binatang-binatang akan menurun dan akan berdampak pada keseluruhan jaring makanan,” ungkap Damayanti.