Edukasi

Lima Burung Endemik Maluku Utara yang Terekam Saat AJALO Bird Race 2026

25/08/2026|Yullin Lololuan
Para pengamat burung yang hadir dalam AJALO Bird Race berhasil mengabadikan berbagai spesies endemik Maluku Utara Foto Do...

Para pengamat burung yang hadir dalam AJALO Bird Race berhasil mengabadikan berbagai spesies endemik Maluku Utara. | Foto: Dokumentasi panitia AJALO Bird Race 2026

Gardaanimalia.com - Halmahera adalah salah satu wilayah yang memiliki tingkat keanekaragaman burung yang tinggi, termasuk sejumlah spesies yang hanya ditemukan di Provinsi Maluku Utara. Persebaran yang terbatas membuat burung-burung tersebut menjadi bagian penting dari kekayaan avifauna sekaligus menunjukkan kekhasan ekosistem di wilayah ini.

Kekayaan itu turut terekam dalam AJALO Bird Race 2026 yang berlangsung di kawasan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, wilayah resort Tayawi, pada 27–29 Juli 2026.

Melalui pengamatan para peserta, sedikitnya 38 jenis burung berhasil tercatat selama kegiatan. Menariknya, 24 dari 38 jenis tersebut merupakan burung endemik Maluku Utara.

Di balik angka tersebut, terdapat jenis burung dengan karakter, habitat, dan cara hidup yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya berhasil diabadikan peserta melalui lensa kamera maupun pengamatan langsung selama kegiatan.

Berikut lima burung endemik menjadi bagian dari catatan tersebut!

1. Cekakak Murung (Todiramphus funebris)

Uploaded content
Cekakak murung dengan corak khas hitam putih yang berhasil didokumentasikan di Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. | Foto: Sukardi M. Saleh (@sukardi.ms91)

Cekakak murung adalah burung endemik langka asal Halmahera yang menjadi salah satu penanda kekhasan avifauna pulau ini.

Spesies kunci ini berperan sebagai penyeimbang ekosistem hutan dataran rendah melalui perannya sebagai pengendali populasi serangga.

Burung ini disebut cekakak murung atau dalam bahasa Inggris sombre kingfisher karena warna bulunya yang hitam gelap dengan warnah putih di bagian dadanya, berbeda dengan jenis burung cekakak atau raja-udang lainnya yang memiliki warna terang dan cerah.

Spesies tersebut menghuni hutan dataran rendah yang lembap, hutan mangrove, rawa, hingga hutan sekunder di Pulau Halmahera.

Setelah tercatat berstatus rentan (vulnerable) sejak tahun 2000, status konservasinya kini telah diperbarui menjadi risiko rendah (least concern) dalam penilaian International Union for Conservation of Nature (IUCN) 2022. 

2. Cekakak-Biru-Putih (Todiramphus diops)

Uploaded content
Cekakak biru-putih yang bertengger di ujung batang pohon kering terekam oleh peserta AJALO Bird Race 2026. | Foto: Dewananda Syahputra

Cekakak biru-putih atau blue-and-white kingfisher memiliki warna biru gelap yang berkilau kontras di bagian atas, berpadu dengan warna putih bersih di bagian dada bawah.

Sang betina memiliki sedikit warna biru pada bagian dada dan leher yang disebut pita dada, tanda ini menjadi pembeda secara visual dengan sang jantan. Cekakak biru-putih merupakan spesies endemik yang seluruh populasi alaminya hanya terbatas di bentang alam Maluku Utara.

Spesies ini dijumpai di kawasan berhutan, habitat mangrove dan hutan dataran rendah di sejumlah pulau di Maluku Utara. Saat ini berstatus risiko rendah (least concern) menurut IUCN. 

3. Cikukua Halmahera (Melitograis gilolensis)

Uploaded content
Burung cikukua halmahera di dua posisi yang berbeda. | Foto: Dewananda Syahputra (kanan), Anggi Purwiranto (kiri)

Cikukua halmahera alias white-streaked friarbird merupakan burung endemik Maluku Utara yang sangat menarik karena menjadi satu-satunya spesies di genus Melitograis.

Melito berarti madu, merujuk pada famili dari spesies ini, yaitu burung pengisap madu. Grais berarti beruban yang merujuk pada warna garis-garis coklat putih keabu-abuan di bagian dada bawah, perut dan area mahkota di kepalanya.

Sementara itu, nama gilolensis diambil dari dasar kata Gilolo yaitu nama kuno untuk pulau Halmahera yang digunakan pada masa lalu, terutama saat Albert Russel Wallace mengeksplorasi Halmahera.

Hal ini menandakan bahwa burung cikukua halmahera memiliki garis keturunan evolusi yang sangat unik, terisolasi, dan berbeda dari burung pengisap madu (familia Meliphagidae) lainnya di dunia.

Dengan peran pentingnya sebagai pengisap nektar dan pemencar biji, ia menjaga kelestarian vegetasi hutan Maluku Utara.

Cikukua halmahera menghuni hutan dataran rendah lembap, mangrove, hingga hutan pegunungan lembap di Maluku Utara dan berstatus risiko rendah (least concern) menurut IUCN. 

4. Gagak Halmahera (Corvus validus)

Uploaded content
Burung gagak halmahera yang berhasil didokumentasikan peserta AJALO Bird Race 2026. | Foto: Wawan Suprianto Nadra (@whankep_bro)

Gagak halmahera disebut juga long-billed crow merupakan burung endemik Maluku Utara yang hidup terutama di hutan primer dengan ketinggian kurang dari 1.200 meter di atas permukaan laut.

Ia memiliki paruh panjang yang besar dan tebal, ketegasan postur tubuh yang tampak begitu gagah, serta pancaran bulu hitam legam yang mengkilat bersih, dengan sorot mata biru-putih pucatnya yang mencolok.

Gagak halmahera berstatus konservasi risiko rendah (least concern) berdasarkan pembaruan penilaian IUCN 2024. 

5. Bubut Goliath (Centropus goliath)

Uploaded content
Dokumentasi bubut goliath di Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. | Foto: Sukardi M. Saleh (@sukardi.ms91)

Bubut goliath yang dalam bahasa Inggris disebut goliath coucal adalah burung endemik Maluku Utara yang menyandang predikat sebagai spesies bubut terbesar dibandingkan dengan jenis bubut lainnya. Ukuran tubuhnya bisa mencapai 67 sentimeter, berbulu hitam mengilap yang dihiasi bercak corak putih mencolok pada bagian sayap atasnya.

Ciri pembeda ini terlihat sangat kontras dan jelas, baik saat ia sedang bertengger tenang maupun ketika mengepakkan sayapnya saat berburu di lantai hutan.

Bubut goliath menghuni hutan dan kawasan di sekitarnya di Kepulauan Maluku dan saat ini dikategorikan risiko rendah (least concern) menurut IUCN. 

Burung sebagai Identitas Maluku Utara

Lima burung tersebut mewakili wajah identitas dari kekayaan avifauna yang ditemukan dalam AJALO Bird Race 2026.

Dari 38 jenis burung yang tercatat peserta, 24 di antaranya merupakan jenis endemik. Jumlah ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh jenis burung yang tercatat memiliki persebaran terbatas dan menjadi bagian khas dari kekayaan avifauna Maluku Utara. Hal itu juga memperlihatkan pentingnya kawasan hutan Halmahera sebagai ruang hidup bagi berbagai jenis satwa.

Status risiko rendah atau least concern pada tingkat global bukan berarti keberadaan burung-burung tersebut dapat diabaikan. Status IUCN menggambarkan tingkat risiko kepunahan suatu spesies secara global, sedangkan sifat endemik menunjukkan bahwa suatu spesies memiliki wilayah persebaran yang terbatas. 

Burung-burung endemik ini bukan sekadar nama dalam daftar spesies atau bagian dari kekayaan hayati Maluku Utara. Mereka adalah bagian dari identitas alam Maluku Utara, kehidupan yang hanya dapat ditemukan di tanah ini dan menjadi kekayaan yang layak untuk dikenal, dijaga, dan dibanggakan.