Mendalam

Dua Babak Menegangkan: Air dan Api Tanpa Kendali, Apa Kabar Orangutan Kini?

24/08/2026|Atika Byputri
Orangutan kalimantan Pongo pygmaeus betina menggendong anak di habitatnya Foto Manoj ShahGetty Image - Dua Babak Menegang...

Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) betina menggendong anak di habitatnya. | Foto: Manoj Shah/Getty Image

Gardaanimalia.com - Api di timur, air di barat. Dua bencana, dua pulau, dan dua populasi orangutan.

Banjir dan longsor di Sumatera belum sepenuhnya pulih, kebakaran hutan di Kalimantan pun menyusul, seolah musibah tak kunjung berhenti. Keduanya menjadi ancaman tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga satwa liar yang hidup di bentang alam terdampak, salah satunya orangutan.

Apa yang terjadi pada mereka ketika habitatnya menghadapi bencana?

Saat Api Membelenggu Rumah Orangutan

Sejak Juli, kebakaran terjadi di sekitar kawasan rehabilitasi orangutan milik Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Saat diwawancarai Garda Animalia pada Jumat (14/8/2026), CEO YIARI, Karmele Llano Sanchez, menceritakan bagaimana kebakaran tersebut mendekati kawasan rehabilitasi.

Kawasan rehabilitasi YIARI merupakan areal hutan seluas 250 hektare. Di tempat tersebut, orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi dilatih kembali untuk mengembangkan kemampuan hidup layaknya orangutan liar.

“Kawasan tersebut terbagi menjadi tujuh pulau buatan yang dikelilingi kanal. Setiap pulau menjadi ruang bagi kelompok orangutan berdasarkan usia dan kemampuan bertahan hidup mereka. Salah satu pulau tersebut berbatasan langsung dengan kawasan semak belukar,” jelasnya. 

Kawasan semak belukar itu merupakan hutan yang telah dibuka atau terbakar pada tahun-tahun sebelumnya, sebagian besar telah dimanfaatkan masyarakat menjadi kebun sawit. 

“Nah, kondisi lahan itu [berupa] semak belukar, areal non-produktif. Jadi tidak dipergunakan sebagai areal pertanian, tetapi dia juga bukan berupa hutan,” jelas Karmele.

Karena dipenuhi pakis dan ilalang, semak belukar menjadi sangat mudah terbakar ketika kondisinya kering.

Rabu pagi, 22 Juli 2026, dua titik api kembali muncul hampir bersamaan.

“Dugaan kami pada saat terjadi kebakaran, sekitar mungkin jam 10 pagi, tiba-tiba di areal ini yang semak belukar, terjadi dua titik kebakaran sekaligus,” ujarnya.

Pihaknya menduga bahwa besar kemungkinan api muncul karena ada orang yang sengaja membakar.

“Selain dari mereka mau menanam [sawit], kadang juga karena mungkin mau menjual lahan,” tambahnya. 

Tim gabungan YIARI beserta instansi pemerintah dan non-pemerintah kemudian berupaya memadamkan api. Kebakaran sempat terkendali, tetapi beberapa hari kemudian, tepatnya 11 Agustus, kondisi kian kritis karena si jago merah semakin mendekat ke sekolah orangutan dengan jarak tak lebih dari 40 meter.

“Api kembali mengancam area rehabilitasi, pemadaman berlangsung hingga malam. Tim harus bekerja sampai sekitar pukul 04.00 WIB untuk menahan api agar tidak masuk ke kawasan rehabilitasi,” ujar Karmele.

Beruntung, pergerakan api tertahan oleh keberadaan kanal yang mengelilingi pulau-pulau rehabilitasi.

“Jadi, sebenarnya kami sampai saat ini masih bisa menahan apinya, cuma butuh effort yang sangat besar dengan tim pemadamannya yang sangat banyak,” ungkap Karmele. 

Uploaded content
Tim gabungan YIARI dalam upaya memadamkan api di sekitar kawasan rehabilitasi. | Foto: Dokumentasi YIARI

Orangutan Selamat, tetapi Rumahnya Terancam

Saat ini, pusat rehabilitasi milik YIARI merawat sekitar 60 orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus).

Tidak ada orangutan yang terkena dampak fisik langsung dari kebakaran tersebut. Karena, sebelum api mendekat, beberapa orangutan di pulau yang dianggap paling berisiko telah dipindahkan ke kandang.

Orangutan memang selamat dari api, tetapi persoalan yang lebih besar berada di luar kawasan rehabilitasi.

“Habitat orangutan yang semakin menyempit,” kata Karmele.

Hilangnya habitat kemudian dapat menyebabkan fragmentasi hutan. Hutan yang sebelumnya terhubung, akhirnya terpecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga pergerakan orangutan menjadi semakin terbatas. 

Ketika sumber makanan di dalam hutan berkurang, orangutan dapat bergerak keluar mencari makan.

“Dia pasti akan mencari makan di kebun atau di kampung sekitarnya. Nah, itu pada saat dia masuk ke area permukiman, pertanian, kebun, dianggap hama lalu terjadi konflik,” jelasnya.

Dengan demikian, kebakaran tidak berhenti pada hilangnya vegetasi. Dampaknya dapat berlanjut menjadi persoalan pangan, pergerakan satwa, hingga konflik dengan manusia.

Salah satunya Wak, orangutan yang ditemukan di kebun buah milik warga di Kuala Tolak pada Agustus kemarin. Kondisi fisiknya baik, tetapi keberadaannya di area kebun menunjukkan bagaimana orangutan dapat bergerak ke wilayah manusia ketika mencari makanan.

Saat ini, Wak telah dievakuasi.

“Jadi orangutan ini dievakuasi dengan cara dibius, dipindahkan ke lokasi hutan terdekat yang masih utuh, yang jauh dari masyarakat, tetapi masih termasuk area hutan tempat dia berasal,” jelasnya.

Masuknya orangutan ke perkebunan juga dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Pada perkebunan sawit, misalnya, orangutan dapat memakan umbut atau sawit muda.

Dari sinilah bencana ekologis dapat berkembang menjadi konflik manusia-satwa. 

Api Padam Bukan Berarti Ancaman Berakhir

Pengalaman YIARI menghadapi kebakaran pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa dampak kebakaran terus terasa hingga berbulan-bulan setelah api padam.

Pada 2015 dan 2019, kebakaran di Ketapang juga terjadi dalam skala luas. Setelah kebakaran, tim YIARI menemukan orangutan dalam kondisi sangat kurus karena kehilangan sumber makanan.

“[Dampak] ini bukan hanya sekadar pada saat kebakaran sedang terjadi,” tegas Karmele.

Pascakebakaran 2015, jumlah orangutan yang harus diselamatkan bahkan melonjak mencapai sekitar 60 individu, di antaranya ditemukan dalam kondisi sangat kurus sambil membawa anak.

Uploaded content
Sejumlah personel gabungan mengoperasikan selang pemadam untuk meredam api yang masih menyala (10/8/2026). | Foto: Dokumentasi YIARI

Kebakaran di sekitar YIARI juga menunjukkan, ancaman terhadap orangutan "hanya" satu bagian dari persoalan yang lebih luas. Sebab, kawasan rehabilitasi tersebut juga menjadi habitat bagi satwa liar lain, termasuk bekantan, lutung, makaka, kucing hutan, dan babi hutan.

"Paling kita khawatirkan adalah satwa-satwa yang ada di pulau itu. Bagaimana semua yang lain, yang tidak bisa kita selamatkan? Kita bicara orangutan, tetapi bagaimana [satwa] yang lain?” kata Karmele.

Perempuan asal Bilbao, Spanyol, ini pun menjelaskan bahwa burung, ular, amfibi, serangga, dan berbagai satwa lain juga bergantung pada ekosistem yang sama.

Di samping itu, karena masyarakat sekitar menghirup asap tebal, kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) pascakahutla juga meningkat.

Orangutan kemudian menjadi salah satu wajah dari persoalan yang lebih besar: Bagaimana satu bencana berdampak kepada seluruh makhluk hidup? 

Melihat Bentang Alam dalam Perjalanan Menuju Barang Toru

Asap tidak hanya menggantung di langit Kalimantan, tetapi juga Sumatera.

Kondisi ini yang diamati oleh lima pesepeda Komunitas Chemonk bersama Satya Bumi saat menempuh perjalanan sekitar 1.700 kilometer dari Jakarta menuju Batang Toru, Sumatera Utara. Dimulai pada 2 Agustus 2026, perjalanan itu mereka sebut Ekspedisi Hutan Merdeka.

Bukan sekadar bersepeda, ekspedisi tersebut membawa pesan kampanye perlindungan hutan dan orangutan tapanuli.  

Di Lampung, kebakaran terlihat di beberapa titik di sekitar jalan. Memasuki Sumatera Selatan pun begitu, asap karhutla mereka jumpai di tepi jalan.

“Di Sumatera Selatan, di sana itu banyak titik panas atau hotspot. Bahkan teman-teman pesepeda sebelum masuk Palembang itu ketemu karhutla lumayan dekat pinggir jalan dan asapnya cukup mengganggu,” ungkap Communications Manager Satya Bumi, Restu Diantina Putri, kepada Garda Animalia pada Kamis (13/08/2026).

Asap memang tidak terlalu tebal, tetapi cukup terasa oleh para pesepeda yang melintas.

Menurut Restu, kebakaran di Sumatera Selatan tidak dapat dilepaskan dari persoalan ekosistem gambut yang telah mengalami perubahan.

“Sudah lama masalahnya tentang karhutla, di mana ekosistem gambut berubah jadi kebun-kebun, dirusak, dikeringkan, terus kebakaran hutan. Itu berapa kali kita temui di Sumatera Selatan,” tambahnya. 

Uploaded content
Pesepeda dari komunitas Chemonk bersama dengan Satya Bumi melintasi bekas karhutla di wilayah Sumatera Selatan. | Foto: Dokumentasi Satya Bumi

Ketika Banjir Membawa Pergi Rumah Orangutan Tapanuli

Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera pada akhir November 2025 menjadi salah satu alasan Satya Bumi dan Komunitas Chemonk membawa isu orangutan tapanuli dalam ekspedisi tersebut.

“Pertama memang jadi programnya Satya Bumi fokus ke biodiversity. Terutama kita melihat orangutan tapanuli ini adalah kera besar paling langka di dunia dan ternyata sayangnya di sana habitatnya terancam oleh berbagai proyek,” ujar Restu. 

Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan salah satu dari tiga spesies orangutan yang hidup di Indonesia. Spesies ini baru diakui secara ilmiah pada 2017 dan memiliki persebaran yang sangat terbatas di ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara dan berstatus kritis atau critically endangered dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dengan habitat yang terbatas dan populasi yang kecil, bencana dalam skala besar dapat memberikan dampak yang signifikan.

Uploaded content
Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) spesies orangutan yang spesifik hanya tersebar di Batang Toru, Sumatera Utara. | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Akhir November 2025, hujan ekstrem yang dipengaruhi Siklon Tropis Senyar memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera bagian utara, termasuk di kawasan Batang Toru.

Sebuah studi terbaru memperkirakan sekitar 58 individu orangutan tapanuli berada di area yang terdampak longsor. Jika dibandingkan dengan estimasi populasi sekitar 716 individu, jumlah tersebut setara sekitar tujuh persen dari keseluruhan populasi. 

Estimasi tersebut diperoleh berdasarkan pemetaan area longsor dan data kepadatan populasi, bukan hasil penghitungan langsung terhadap bangkai orangutan. Karena itu, dampak sebenarnya terhadap populasi masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.

Siklon Senyar adalah sebuah sistem badai tropis yang terbentuk dari dari proses penguapan air laut yang intens akibat suhu permukaan laut tinggi, memicu hujan deras berhari-hari yang mengguyur wilayah Sumatera. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan Siklon Tropis Senyar yang berkembang di sekitar Selat Malaka membawa hujan sangat lebat hingga ekstrem ke wilayah Sumatera bagian utara pada 25–27 November 2025. 

Di kawasan Batang Toru, hujan ekstrem tersebut memicu banjir dan longsor dalam skala besar.

Namun berdasarkan pantauan tim Satya Bumi, daerah aliran sungai mulai yang mulai terkikis di sekitar sempadan Sungai Batang Toru, tepatnya di wilayah pembangunan PLTA Batang Toru, turut memperparah skala bencana tersebut.

“Luas lahan yang sudah dibuka di wilayah sempadan sungai sampai dengan 2024 mencapai 532,25 hektare,” ujar Restu.

Hal ini didukung dengan pernyataan Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS Universitas Gadjah Mada (UGM) Hatma Suryatmojo bahwa kombinasi faktor alam dan ulah manusia berperan di baliknya.

Uploaded content
Banjir dan tanah longsor yang membawa material berupa batang kayu di wilayah Sumatera bagian utara, termasuk wilayah Tapanuli. | Foto: Samarinda TV diunduh dari spatialhighlights.com

Menurut Restu, tutupan hutan di sejumlah daerah aliran sungai di kawasan tersebut telah mengalami tekanan. Ia menilai perubahan tutupan lahan dan kondisi hutan perlu menjadi perhatian ketika membicarakan risiko bencana.

“Habitatnya orangutan sudah mulai tergerus karena proyek-proyek itu sampai menyebabkan bencana ekologis akhir tahun lalu,” katanya.

Faktor cuaca ekstrem, kondisi bentang alam, perubahan tutupan lahan, hingga tata kelola kawasan saling berkaitan. Di tengah semua itu, orangutan harus bertahan di habitat yang ruangnya terbatas. 

Apa yang Terjadi Setelah Air Surut dan Api Padam?

Di Kalimantan, api meninggalkan lahan yang harus dipulihkan dan dijaga agar tidak kembali terbakar. Di Sumatera, longsor meninggalkan perubahan pada bentang alam Batang Toru.

Bagi orangutan, bencana tidak selalu berakhir ketika air surut atau api padam.

Kerusakan habitat dapat berarti hilangnya sumber makanan. Fragmentasi dapat membatasi pergerakan. Dan ketika satwa keluar dari hutan untuk mencari makan, konflik dengan manusia dapat muncul.

Karena itu, pekerjaan terbesarnya baru muncul ketika api berhasil dipadamkan.

Di YIARI, pemulihan berarti memastikan kawasan yang terbakar dapat direstorasi dan dijaga agar tidak kembali terbakar. Pemantauan terhadap satwa juga harus terus dilakukan untuk mengetahui dampak yang mungkin baru terlihat beberapa bulan kemudian.

Karmele menyebut proses pemulihan dapat berlangsung berbulan-bulan hingga sekitar satu tahun, termasuk pemantauan dan kemungkinan penyelamatan satwa yang terdampak.

Ia berpesan untuk melawan dan menghukum secara sosial kegiatan atau kebiasaan masyarakat yang membakar secara sengaja untuk membuka lahan atau untuk alasan lain.

Uploaded content
Ekspedisi Hutan Merdeka resmi selesai dengan tibanya lima pesepeda di Jembatan Trikora, Batang Toru, pada 19 Agustus 2026. | Foto: Dokumentasi Satya Bumi

Sementara itu, perjalanan lima pesepeda menuju Batang Toru membawa cerita lain dari pulau yang sama-sama sedang mengalami tekanan. Mereka telah tiba di Batang Toru pada 19 Agustus 2026, tepat pada peringatan Hari Orangutan Sedunia. Membentangkan pesan yang sangat terang dari atas Jembatan Trikora: No Second Home, Restore Their Forest!

Dua perjalanan tersebut mempertemukan dua cerita dari dua pulau. Bencana datang dan pergi.

Namun bagi orangutan, pertanyaan berikutnya tetap sama: Ketika air surut dan api padam, masihkah ada hutan yang cukup untuk ditinggali?