Sosok

Biruté Galdikas dan Cintanya yang Tak Pernah Padam untuk Orangutan

25/03/2026|Nadaa
Biruté Galdikas mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk meneliting orangutan di Tanjung Puting Foto OFI - Biruté Galdika...

Biruté Galdikas mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk meneliting orangutan di Tanjung Puting. | Foto: OFI

Gardaanimalia.com – Dunia konservasi khususnya orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) telah kehilangan sosok paling berpengaruh. Biruté Mary Galdikas berpulang pada Selasa (24/3/2026) di Los Angeles, California, didampingi orang-orang terdekatnya. 

Dalam pernyataan yang dibagikan oleh Orangutan Foundation International, Galdikas disebut telah berjuang dengan penuh keberanian melawan kanker paru-paru dan fibrosis pulmonal. Kondisinya diduga diperparah oleh paparan asap saat ia terlibat langsung menghadapi kebakaran hutan di habitat orangutan di Kalimantan. 

Selama lebih dari lima dekade Ia mengabdikan hidupnya, meneliti dan hidup berdampingan dengan orangutan di hutan Kalimantan. Dedikasinya ini menjadikannya sebagai salah satu sosok yang berpengaruh di dunia dalam konservasi primata.  

Dari Amerika ke Hutan Kalimantan

Perempuan kelahiran 1946 ini tumbuh besar di Toronto dan sejak kecil telah menunjukkan minat besar terhadap alam liar dan eksplorasi. Ketertarikannya terhadap primata berkembang seiring waktu dan membawanya menempuh pendidikan di bidang psikologi dan antropologi. 

Pada 1971, dengan dukungan sang mentor, Dr. Louis Leakey dan National Geographic Society, Galdikas memulai penelitiannya di pedalaman hutan Kalimantan tepatnya di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Indonesia. Di sana, ia mendirikan Camp Leakey, sebuah pusat penelitian yang kemudian menjadi salah satu lokasi studi orangutan paling penting di dunia.

Dalam perjalanan penelitiannya, banyak akademisi yang meragukan penelitian orangutan Galdikas. Keraguan ini datang karena kondisi Kalimantan yang serba susah. 

Mengutip Orangutan Foundation dijelaskan, saat itu belum ada telepon, jalan raya, listrik, televisi, maupun layanan pos yang teratur di Tanjung Puting. Bahkan Galdikas dianggap tidak akan berhasil meneliti orangutan di alam liar karena hewan ini sangat sulit ditemukan dan hidup hampir sepenuhnya di dalam rawa-rawa dalam.

Studi Primata Terlama

Galdikas bukanlah satu-satunya ilmuwan yang dikirim Leakey untuk mempelajari kera besar. Leakey juga memilih tiga peneliti perempuan, yaitu Jane Goodall yang meneliti simpanse di Gombe, Tanzania dan Dian Fossey yang meneliti gorila gunung di Rwanda, Afrika. Tiga perempuan tersebut dikenal sebagai "Trimates". 

Meski begitu, penelitian Galdikas menjadi salah satu studi terpanjang yang pernah dilakukan terhadap mamalia liar oleh satu peneliti. Ia hidup selama bertahun-tahun di hutan hujan, mengamati perilaku orangutan secara langsung. 

Galdikas adalah orang pertama yang mendokumentasikan jarak kelahiran orangutan yang panjang, yakni rata-rata 7,7 tahun di Tanjung Puting. Ia juga mencatat lebih dari 400 jenis makanan yang dikonsumsi orangutan, memberikan detail yang belum pernah ada sebelumnya tentang ekologi orangutan. Ia juga membantu menjelaskan sistem sosial dan perkawinan orangutan. 

“Kalau kita mengamati mata orangutan, mata mereka persis seperti mata manusia. Mata orangutan hampir semua punya iris (lingkaran di bola mata) yang coklat dan di keliling iris warnanya putih seperti manusia. Juga kalau orangutan melihat kita, sepertinya mereka paham dan tertarik pada jiwa kita juga,” jelas Galdikas pada VOA, Kamis (1/4/2021).

Mendirikan OFI dan Terus Berjuang untuk Konservasi  

Puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk penelitian orangutan kalimantan tidak menghentikan langkahnya untuk berbuat lebih terhadap dunia konservasi. Di tahun 1986, bersama rekan-rekannya Galdikas mendirikan Orangutan Foundation International (OFI). 

Organisasi yang bermarkas di Los Angeles, California ini berfokus pada perlindungan orangutan dan habitatnya di seluruh dunia. Hal ini juga termasuk upaya penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran kembali orangutan yang kehilangannya induknya atau korban perdagangan ilegal. 

Dedikasinya pun mendapat pengakuan luas. Pada tahun 1997, ia dianugerahi penghargaan Kalpataru, penghargaan tertinggi dari pemerintah Indonesia di bidang lingkungan hidup. Menariknya, Galdikas menjadi satu-satunya penerima yang tidak lahir di Indonesia sekaligus salah satu perempuan pertama yang menerima penghargaan tersebut. Di luar kerja lapangan, Galdikas juga aktif menyuarakan konservasi melalui tulisan dan media. Ia menulis puluhan artikel ilmiah dan beberapa buku, termasuk autobiografinya Reflections of Eden

Kisah dan perjuangannya kerap diangkat oleh media internasional seperti National Geographic, The New York Times, hingga berbagai film dokumenter yang memperkenalkan orangutan kepada dunia. 

Melalui riset, advokasi, dan pendidikan, Ia telah menginspirasi generasi baru para pegiat konservasi. Ia juga membimbing mahasiswa-mahasiswa, termasuk dari Indonesia, untuk terjun langsung ke lapangan dan melanjutkan perjuangan konservasi. 

Kepergian Biruté Galdikas bukanlah akhir dari upaya konservasi. Justru, dari seluruh hidup yang ia dedikasikan, ada pesan yang ditinggalkan, orangutan dan hutan tempat mereka hidup masih membutuhkan perlindungan yang nyata dan perjuangan itu kini ada di tangan kita.