Gardanimalia.com - Sebagai mahasiswa Program Studi Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam, Universitas Airlangga, Oka Bayu Pratama merasa miris atas nasib ikan hiu di laut Indonesia.
Ketika sejumlah penelitian mengingatkan ikan-ikan seperti lemuru yang tidak dilindungi sudah overfishing, ikan hiu dan pari yang dilindungi justru masif ditangkap.
“Hal ini saya ketahui setelah mencoba menelusuri data penelitian di berbagai pelabuhan di tahun 2023. Di beberapa penelitian menyebutkan bahwa banyak hiu kondisinya terpotong sehingga petugas pendata pun harus dilatih untuk melakukan enumerasi data. Sementara, proses yang lama dan sulit serta keterbatasan pendata justru menghasilkan sistem kuota hiu yang tidak terawasi dengan baik,” papar Oka kepada Garda Animalia, Selasa (11/11/2025).
Padahal menurut pria kelahiran 2001 ini, jika hiu sebagai predator puncak dieksploitasi terus menerus, maka keseimbangan ekosistem akan terganggu. Mangsa hiu dalam rantai makanan akan membludak karena predatornya punah. Sementara, organisme di bawahnya lagi akan ikut punah karena terlalu banyak dimangsa.
Selain itu, keanekaragaman hayati juga bisa menjadi harta karun di masa depan seiring kemajuan pengembangan sumber daya alam dan ilmu pengetahuan.
Oka menyampaikan, Indonesia memiliki kekayaan maritim yang luar biasa, yaitu rumah bagi 114 jenis hiu dari 500 jenis hiu yang ada di seluruh dunia.
Namun, ada kondisi ironi yang serius: negara ini memegang predikat sebagai negara penangkap hiu terbesar di dunia.
“Saat kami berada di pelabuhan, kami melihat petugas enumerator kesulitan mencatat data karena hiu seringkali sudah dalam kondisi terpotong-potong—hanya menyisakan kulit, sirip, atau potongan tubuh lainnya. Praktik ini dikenal dengan istilah finning (pemotongan hanya untuk mengambil sirip hiu) atau pemotongan lain untuk menghemat ruang penyimpanan,” cerita Oka.
Manfaatkan Teknologi Kecerdasan Buatan
Pemuda dari Banyuwangi ini menghadirkan solusi berbasis teknologi Kecerdasan Buatan (AI) di bawah naungan organisasi kepemudaan Garda Muda Lestari (Garda Lestari) yang berpegang pada filosofi "Kelestarian Sejati Dimulai dari Kesejahteraan”.
Oka menciptakan SeeShark, aplikasi AI revolusioner yang hadir sebagai solusi untuk mengidentifikasi hiu secara cepat, akurat, dan masif.
Garda Lestari merupakan perkumpulan yang bergerak untuk mengadvokasi pemuda di bidang agro, maritim dan kehutanan. Banyak program pemerintah dan potensi sumberdaya yang tidak dimanfaatkan optimal oleh komunitas pemuda lokal–khususnya di sektor agri-maritim kehutanan–menjadi fokus Garda Lestari.
Komunitas ini sudah melakukan beberapa praktik konservasi dan advokasi, seperti aksi untuk mencegah alif fungsi hutan lindung menjadi kebun kopi yang dilakukan oleh masyarakat. Sebagai gantinya, Garda Lestari mendorong pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), misalnya aren dan bambu, sembari mengarahkan masyarakat untuk menanamnya.
Sementara, upaya konservasi pada spesies hiu adalah dengan memfasilitasi pengawas di pelabuhan dengan aplikasi identifikasi karkas hiu, yaitu SeaShark.
Setelah ditelusuri, kesulitan proses identifikasi hiu adalah karena kondisi hiu yang terpotong bahkan dicacah.
Dengan menggunakan SeaShark, foto potongan tubuh hiu, seperti sirip, ekor, badan atau bahkan kulit (perlu alat tambahan), dapat diidentifikasi oleh pengguna hanya dalam waktu sekitar 7 detik.
“Ditemukan bahwa salah satu yang dilindungi dan harusnya ada kuota pengambilan adalah hiu martil (Sphyrna lewini) yang ditangkap dan diperdagangkan bebas tanpa ada penghitungan kuota,” ucap Oka.
Di Balik Terciptanya SeaShark
Yang luar biasa, pada awalnya Oka mengandalkan usaha budi daya ikan lele yang ia tekuni sebagai sumber dana untuk membuat aplikasi ini. Setelah diinisiasi, ia mendapatkan dana hibah penelitian dari Konservasi Indonesia.
“Ke depan kami ingin mencoba melakukan restorasi di area zonasi konservasi di Banyuwangi dan melakukan eduwisata. Kami akan lakukan juga kampanye untuk tidak memakai produk kecantikan yang mengandung minyak hati hiu,” ungkap Oka Bayu.
Inisiatif SeeShark bukan sekadar proyek akademik biasa. Ia adalah manifestasi perjuangan pribadi yang berawal dari keprihatinan mendalam dan dibiayai dengan modal yang bersumber dari hasil usaha budi daya.
Kisah SeeShark berakar dari fakta mengenai posisi Indonesia di peta perikanan global. Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman spesies hiu tertinggi di dunia.
Namun, kekayaan keanekaragaman ini diiringi ironi tragis. Indonesia juga menjadi penangkap hiu terbesar, dengan volume tangkapan yang mencapai rata-rata 110.000 ton per tahun.
Laju penangkapan yang masif ini sangat mengkhawatirkan karena hiu dikenal memiliki laju reproduksi sangat lambat.
Beberapa jenis spesies hiu bahkan baru mencapai kematangan seksual setelah berumur belasan tahun.
Sementara, laju reproduksi yang rendah diiringi oleh praktik pemanfaatan eksploitatif, mendorong banyak spesies hiu ke ambang kepunahan.
Spesies-spesies penting seperti hiu martil kepala bergerigi, yang kini berstatus sangat terancam punah (critically endangered) oleh IUCN dan diatur ketat perdagangannya melalui Apéndiks II CITES, masih menjadi target tangkapan di sentra-sentra perikanan.
Anak pertama dari tiga bersaudara ini mengorbankan waktu dan modal pribadinya demi memastikan SeeShark dapat terwujud.
Perjuangan membiayai inovasi konservasi dari modal budidaya lele ini menjadi cerminan nyata dari semangat kemandirian pemuda daerah.
Dibangun dari Database yang Kuat
SeeShark dibangun dari database kuat yang terdiri dari 9.600 data foto hiu dari 10 spesies yang paling rentan, dan mampu memberikan identifikasi dengan tingkat akurasi mencapai 95.3 persen dalam hitungan detik.
Aplikasi ini juga secara otomatis menampilkan status konservasi IUCN dan status perlindungan CITES dari spesies yang teridentifikasi, memberikan peringatan instan bagi petugas.
SeeShark telah diimplementasikan sebagai proyek percontohan di tiga pelabuhan utama: Banyuwangi, Lamongan, dan Lombok Timur, dan berhasil mencatat serta mengidentifikasi lebih dari 1.058 gambar hiu di lapangan.
Inovasi ini pun mendapat validasi teknis dari pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perolehan 2 hak cipta dan 1 permohonan hak paten.
Ketua Garda Lestari, Andri Saputra, menegaskan bahwa inovasi adalah kunci untuk menjembatani kepentingan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan.
“Kami percaya, teknologi seperti SeeShark harus menjadi alat pemberdayaan bagi petugas dan nelayan. Dengan data yang akurat, pengelolaan sumber daya laut menjadi lebih adil dan berkelanjutan,” ujar Andri.
Perjuangan Oka, dari budi daya lele hingga menciptakan AI konservasi di usianya yang muda, kini mendapat apresiasi di panggung nasional.
Inisiatif SeeShark telah resmi diumumkan sebagai salah satu dari 10 Finalis Nasional 16th Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2025 untuk kategori Teknologi Tepat Guna/Pemanfaatan Teknologi.
Pencapaian ini sungguh luar biasa, mengingat SeeShark berhasil menyisihkan 17.708 pendaftar dari seluruh Indonesia yang mengikuti program apresiasi tahunan dari PT Astra International Tbk ini.
Keberhasilan menembus 10 besar finalis ini menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari daerah mampu membawa perubahan nyata dan signifikan bagi pembangunan berkelanjutan di sektor maritim Indonesia.












