Gardaanimalia.com - Sore itu, Senin, 20 Oktober 2025, hujan baru saja reda di Stasiun Penelitian Soraya, Subulussalam. Rintiknya masih menetes dari ujung daun ke tanah lembab di bawah kanopi raksasa Hutan Leuser, udara basah bercampur aroma tanah dan lumut. Dari balik bangunan kayu sederhana, seorang pria paruh baya muncul perlahan.
Sepasang sepatu boot menempel di kakinya, kain anti pacet melilit betis, sangkur tergantung di pinggang, dan teropong menjuntai di leher. Kopiah hitam yang biasa dipakai orang Aceh, digantinya dengan topi rimba yang sudah pudar warnanya.
Dialah Ibrahim, staf konservasi sekaligus Supervisor Riset Forum Konservasi Leuser (FKL).
Langkahnya mantap, bukan seperti langkah orang berusia 62 tahun. Ia melangkah cepat dan ringan, seolah tubuhnya masih berumur dua puluh.
“Kalau di hutan, kamu tak bisa lambat. Harus tahu kapan diam, kapan bergerak,” ujarnya sambil menepuk batang pohon yang baru dilalui.
Ensiklopedia Hidup Leuser
Di kalangan peneliti, Ibrahim dikenal sebagai “ensiklopedia hidup Leuser”. Ia mampu mengenali jenis pohon hanya dari aroma kulit kayunya. Sekali cium, ia bisa menyebutkan nama lokal, nama latin, bahkan menjelaskan siklus hidupnya.
“Setiap pohon punya bau khas,” ujarnya sambil menunduk memungut serpihan kulit batang.
Kemampuannya tak berhenti di situ. Ia juga ahli dalam melacak jejak satwa liar, mulai dari harimau, gajah, hingga badak.
Jejak samar di tanah liat sudah cukup baginya untuk tahu hewan apa yang lewat, arah pergerakannya, dan seberapa lama jejak itu ditinggalkan.
“Setiap satwa punya bahasa langkahnya sendiri,” ucapnya.
Atas keahliannya melacak jejak satwa, Ibrahim pernah diundang ke Kalimantan untuk memecahkan misteri yang membingungkan para peneliti. Misteri tentang sebuah jejak satwa yang belum diketahui asalnya.
Dengan pengamatan tajam dan insting yang terasah dari puluhan tahun pengalaman, ia memastikan bahwa jejak itu milik badak kalimantan, salah satu spesies paling langka di dunia.
“Saya diundang ke Kalimantan hanya untuk memastikan apakah jejak itu benar milik badak,” kenangnya sambil tersenyum lebar, seolah momen itu baru terjadi kemarin.
Ibrahim menguasai hampir semua metodologi penelitian kawasan hutan mulai dari grid cell, kamera jebak, focal animal sampling, pengambilan sampel primata, identifikasi jejak mamalia besar, hingga survei ikan air tawar.
Ia juga piawai mengoperasikan GPS, kompas, dan navigasi hutan perangkat yang menjadi “mata” bagi para peneliti yang ia dampingi.
Tak terhitung jumlah peneliti yang menamatkan pendidikan S1, S2, bahkan S3 dengan bantuan tangan dinginnya. Beberapa di antaranya kini bergelar profesor, tetapi masih menyebut nama Ibrahim dengan hormat yang sama seperti dulu.
Guru Lapangan yang Menginspirasi Banyak Akademisi
Bagi banyak peneliti dan mahasiswa, Ibrahim bukan hanya asisten lapangan. Ia adalah guru sejati, yang mengajarkan bagaimana memahami hutan dengan hati, bukan sekadar data.
Salah satunya adalah Muslich Hidayat, kini Ketua Program Studi Biologi di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Muslich mengenal Ibrahim sejak tahun 2001, ketika sedang meneliti pakan orangutan sumatera di Ketambe, Aceh Tenggara.
“Saat itu beliau menjadi pendamping lapangan saya. Beliau tahu hampir semua jenis tumbuhan yang menjadi pakan orangutan. Kalau saya tunjuk daun atau ranting, beliau langsung tahu nama lokal dan ilmiahnya,” kenang Muslich.
Menurutnya, Ibrahim adalah sosok yang bijaksana, tenang, dan sangat terbuka untuk berdiskusi.
“Beliau tidak banyak bicara, tapi setiap ucapannya penuh makna. Kami sering berjalan berjam-jam di hutan, dan dari situ saya banyak belajar tentang cara menghormati alam,” ujarnya.
Dua puluh tahun kemudian, Muslich masih sering berjumpa dengan Ibrahim di Stasiun Riset Soraya. Beberapa mahasiswa bimbingannya kini juga meneliti di sana.
“Usianya sudah diatas enam puluh, tapi semangatnya tetap seperti dulu. Beliau masih mendampingi mahasiswa dan peneliti dari dalam dan luar negeri. Julukan ‘Profesor Ibrahim’ sangat pantas diberikan karena ilmunya tidak tertulis di buku, tapi hidup di dalam hutan,” kata Muslich.
Hidup untuk Hutan, Hutan untuk Hidup
Setengah hidupnya dihabiskan di antara pepohonan Leuser.
“Saya mencintai alam karena alam juga memberi hidup bagi saya dan keluarga,” ujarnya pelan.
Dari enam anaknya, tiga kini mengikuti jejak sang ayah, bekerja di lembaga konservasi seperti FKL dan SOCP.
Bagi Ibrahim, hutan Aceh adalah yang paling unik di Indonesia.
“Di sini pegunungan, rawa, dan dataran rendah semua ada. Keanekaragamannya luar biasa. Ada tumbuhan yang hanya tumbuh di sini, tidak ada di Kalimantan,” katanya bangga.
Namun, di balik keindahan itu, ia menyimpan kekhawatiran. Terutama saat mendengar rencana pembangunan jalan baru dari Subulussalam ke Aceh Tenggara yang akan melintasi kawasan hutan lindung dan jalur satwa seperti harimau sumatera.
“Pemerintah harus berpikir matang. Jangan buka jalan baru sebelum yang lama dikelola dengan baik. Kalau hutan rusak, kita semua yang rugi,” tegasnya.
Ibrahim paham betul dampak perambahan dan perburuan. Ia sering melihat bagaimana rusaknya satu rantai bisa mengacaukan keseimbangan ekosistem.
“Kalau burung hilang, serangga akan menyerang tanaman petani. Kalau harimau dijerat, populasi babi naik, sawah rusak. Semua ada kaitannya,” jelasnya.
Menjelang petang, kabut mulai turun di lereng Soraya. Suara burung terakhir hari itu berpadu dengan desir angin yang mengguncang pucuk-pucuk pohon. Ibrahim masih berdiri di depan pondok riset, memeriksa alat pengamat yang baru dipasang siang tadi.
“Kalau kita menjaga satu pohon, pohon itu juga menjaga kita,” katanya sebelum melangkah masuk, menutup hari dengan kesederhanaan dan keyakinan yang sama seperti 40 tahun lalu.












