Gardaanimalia.com – Setelah melalui perjalanan panjang selama 18 tahun, dua penulis sekaligus fotografer, Agus dan Rubama, resmi meluncurkan buku berjudul Burung-Burung Aceh, Jumat (12/9/2025) malam di Banda Aceh.
Karya ini lahir dari kegelisahan akan ancaman kepunahan keanekaragaman burung di Aceh yang selama ini belum banyak disadari sebagai aset penting bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, maupun kebijakan konservasi.
Buku setebal 408 halaman ini memuat 396 jenis burung dengan 811 foto berwarna yang diambil dari 23 kabupaten/kota di Aceh, termasuk pulau-pulau kecil.
Kehadiran buku ini diharapkan menjadi sumber rujukan berharga bagi mahasiswa, peneliti, masyarakat, hingga pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan perlindungan satwa liar serta perencanaan tata ruang dan pembangunan.
Proses penyusunan buku dilakukan melalui riset jangka panjang sejak 2007 dengan menjelajahi beragam habitat, mulai dari pesisir pantai, hutan rawa, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, hingga kawasan perkebunan dan pertanian.
“Keterbatasan waktu dan peralatan menjadi tantangan berat bagi kami,” kata Agus, Senin (15/9/2025).
Agus mengenang, awal mula ia memotret burung hanya bermodalkan kamera pocket yang ditempelkan ke teropong untuk mendapatkan bidikan dari jarak jauh. Meski serba terbatas, semangatnya untuk mendokumentasikan keragaman burung di Aceh tak pernah surut.
Menurut Agus, di antara ratusan spesies yang terdokumentasi, burung cucak aceh menjadi yang paling berkesan karena statusnya sebagai satwa endemik Aceh.
Selain itu, buku ini juga menyoroti sejumlah burung kicau endemik Sumatra, seperti cucak emas, cucak kerinci, cucak mutiara, brinji sumatera, hingga ciung-batu coklat. Beberapa jenis lain bahkan disebut misterius karena sulit diamati, seperti pelanduk buttikofer dan berencet dada-karat.
Di sisi lain, kondisi burung dan habitatnya di Aceh saat ini disebut semakin terancam. Aktivitas penebangan liar, perburuan, pembakaran hutan, serta alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dan perumahan terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Rawa dan kawasan hutan yang semestinya dijaga justru digerogoti secara masif,” kata Rubama.
Melalui buku ini, Agus dan Rubama berharap masyarakat semakin sadar pentingnya konservasi satwa liar sekaligus melihat potensi ekowisata berkelanjutan di Aceh, khususnya aktivitas birdwatching yang belum tentu bisa ditemukan di wilayah lain di Sumatra. Saat peluncurannya, turut hadir Riza Marlon, seorang Fotografer Alam Liar Indonesia.
“Perjalanan 18 tahun ini bukan hanya tentang kami, tetapi tentang upaya merekam kekayaan burung Aceh agar bisa dinikmati dan dipelajari generasi mendatang. Harapan kami, buku ini dapat menjadi aset pendidikan, penelitian, hingga pijakan dalam merumuskan kebijakan perlindungan lingkungan,” tutup mereka.
Penulis: Mardili













