Edukasi

Ini Fakta Dibalik 3 Mitos tentang Satwa di Indonesia, Benarkah Harimau Jawa Masih Ada?

14/07/2026|Fairus Salsabila Zahro
Harimau jawa Panthera tigris sondaica di Ujung Kulon pada 1938 Foto Andries HoogerwerfWikimedia Commons - Ini Fakta Dibal...

Harimau jawa (Panthera tigris sondaica) di Ujung Kulon pada 1938. | Foto: Andries Hoogerwerf/Wikimedia Commons

Gardaanimalia.com - Mitos tentang satwa di Indonesia hingga saat ini masih banyak dipercaya oleh masyarakat. Berbagai cerita maupun kepercayaan tentang satwa tertentu kerap diwariskan turun-temurun, sehingga banyak dianggap sebagai kebenaran tanpa dipertanyakan fakta di baliknya.

Indonesia bukan hanya kaya budaya, tetapi juga kaya keanekaragaman satwa liar. Namun sayangnya, beberapa mitos tentang satwa yang beredar justru membuat satwa-satwa tersebut dipandang secara keliru—ditakuti, diburu, atau dipelihara secara ilegal.

Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk mengetahui mana yang hanya mitos belaka dan mana yang benar-benar fakta.

Dengan memahami fakta yang sebenarnya mengenai satwa liar, kita bisa turut menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung upaya konservasi.

Lalu, mitos-mitos apa yang masih seringkali dipercaya tentang satwa liar di Indonesia, dan bagaimana faktanya menurut sains? Berikut beberapa contohnya. 

Semua Ular Pasti Berbisa dan Berbahaya

Uploaded content
Ular weling, salah satu spesies ular berbisa yang tersebar di Asia Tenggara. | Foto: Wibowo Djatmiko/Wikipedia

Apakah semua ular berbisa? Eits, jangan salah. Anggapan bahwa semua ular itu pasti berbisa adalah mitos. Nyatanya, sebagian besar ular sama sekali tidak berbahaya.

Dari 3.000 lebih spesies ular di dunia, hanya sekitar 600 spesies yang memiliki bisa, dan hanya sekitar 200 spesies yang bisanya dapat membunuh atau melukai manusia.1

Di Indonesia, ada lebih dari 300 jenis ular. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dari semua jenis ular di Indonesia tersebut, hanya 77 jenis saja yang berbisa. Salah satu ular berbisa tinggi di sekitar kita dan wajib diwaspadai adalah ular weling yang memiliki warna hitam putih mencolok.2

Ular-ular yang memiliki bentuk kepala segitiga dengan warna yang mencolok merupakan karakter yang banyak dimiliki oleh ular yang berbisa. Namun, tetap ingat bahwa tidak semuanya demikian.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Amir Hamidy, menjelaskan secara umum bahwa ular berbisa memiliki taring untuk menghantarkan bisanya ke musuhnya. Jadi, ular yang berbisa pastinya memiliki gigi taring atau bisa.

Sementara, alih-alih suka menyerang mannusia, sebagian besar ular justru tidak ingin berurusan dengan manusia. Mereka biasanya hanya akan menggigit sebagai bentuk pertahanan terakhir jika mereka terancam.3

Ular yang memiliki bisa mematikan umumnya hanya menggunakan bisanya untuk menangkap mangsa, bukan untuk menyerang manusia, kecuali dalam situasi ekstrem.

Jadi, jika Anda pernah bertemu ular yang bertindak agresif, kemungkinan besar karena ular tersebut merasa takut atau terancam. Mundurlah dan ambilah jalan yang berbeda dari ular itu. 

Kukang Itu Lucu dan Aman Dipelihara

Uploaded content
Kukang jawa, salah satu spesies kukang yang paling terancam punah. | Foto: Reza Septian/YIARI

Masih setuju dengan anggapan bahwa kukang adalah hewan yang cocok dijadikan hewan peliharaan? Kawan Satwa, itu salah besar!

Video kukang di internet maupun media sosial yang tampak menggemaskan dan bersahabat mungkin memantik minat banyak orang untuk memeliharanya. Nah, bagaimana fakta di balik mitos ini?

Kukang adalah satwa liar yang berbisa dan 6. Selain itu, primata kecil ini berstatus dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 dan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Salah satu spesiesnya, yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus), bahkan berstatus kritis (critically endangered) dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Bagaimana tentang bisanya? Dalam keadaan terdesak, kukang dapat mengeluarkan bisa yang berasal dari kelenjar racun di lengannya. Ketika mempertahankan diri, gigitan kukang akan menyebarkan bisa ke tubuh lawannya.4

Kita semua bisa ikut berperan dan bertanggung jawab dalam upaya konservasi kukang demi menyelamatkan hewan tersebut dari kepunahan. Salah satu langkah mudahnya, yaitu dengan tidak menjadikannya hewan peliharaan, sehingga bisa membantu memutus mata rantai perburuan serta perdagangan kukang.  

Harimau Jawa Masih Berkeliaran di Hutan

Mitos yang satu ini juga termasuk salah satu mitos tentang satwa di Indonesia yang mungkin belum banyak diketahui kebenarannya. Cerita tentang penampakan harimau jawa masih sering muncul, sehingga sebagian orang percaya bahwa hewan ini masih hidup di Pulau Jawa.

Faktanya adalah…  

Harimau jawa atau Panthera tigris sondaica telah dikategorikan punah oleh Daftar Merah IUCN berdasarkan asesmen pada 2008.

Penampakan terakhir harimau jawa adalah di Taman Nasional Meru Betiri, Provinsi Jawa Timur pada 1976.

Sebuah penelitian oleh BRIN sempat mengungkapkan temuan sehelai rambut harimau jawa di Sukabumi Selatan, Jawa Barat.5 Lalu apakah itu tandanya satwa yang satu ini masih ada di alam liar?

Namun, peneliti BRIN menjelaskan bahwa kondisi tersebut masih harus dikonfirmasi dengan studi genetik dan lapangan lebih lanjut. Jadi, sebenarnya kemungkinan tanda kehidupan harimau jawa di daerah tersebut masih ‘abu-abu’.

FYI, harimau jawa adalah hewan endemik Pulau Jawa yang dahulu tersebar di hutan-hutan dataran rendah, semak belukar, serta perkebunan.

Sayangnya, keberadaanya semakin hilang sejak banyak diburu karena dianggap sebagai hewan pengganggu. Habitat mereka juga diubah menjadi lahan pertanian serta berbagai infrastruktur.  

Pentingnya Meluruskan Mitos tentang Satwa

Mitos satwa liar tidak hanya muncul karena cerita, tetapi juga faktor kepercayaan budaya, atau kurangnya informasi ilmiah yang mudah diakses.

Dengan memahami fakta yang sebenarnya, kita bisa menyadari bahwa satwa liar adalah bagian penting dari keseimbangan ekosistem, yang tidak perlu diserang ketika tak sengaja bertemu, sekaligus tidak untuk dipelihara meski terlihat lucu.

Meluruskan mitos tentang satwa di Indonesia dengan informasi berbasis fakta juga bisa jadi upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi satwa.

Mengungkapkan fakta bukan berarti menghapus nilai budaya di tengah masyarakat, tetapi membantu melihat satwa-satwa melalui perspektif yang lebih bijak. Dengan demikian, kita bisa turut serta berperan menjaga keberadaan satwa liar di Indonesia supaya tetap lestari. 


1 https://www.nationalgeographic.com/animals/reptiles/facts/snakes-1
2 https://www.brin.go.id/news/110275/mengapa-jumlah-ular-di-
3 https://www.crittersquad.com/portfolio/are-all-snakes-dangerous/
4 https://kukangku.id/faq/
5 https://www.brin.go.id/news/117969/benarkah-harimau-jawa-telah-punah-peneliti-brin-lakukan-analisis-dna-sampel-rambut-harimau-terbaru-dari-sukabumi
6 https://kukangku.id/ini-loh-alasan-kukang-jadi-satwa-dilindungi-oleh-negara/
7 https://nationalgeographic-grid-id.cdn.ampproject.org/v/s/nationalgeographic.grid.id/amp/134048802/kesaksian-warga-hingga-tes-dna-singkap-harimau-jawa-mungkin-masih-ada?amp_gsa=1&_js_v=a9&page=all&usqp=mq331AQIUAKwASCAAgM%3D#amp_tf=Dari%20%251%24s&aoh=17733247117318&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&share=https%3A%2F%2Fnationalgeographic.grid.id%2Fread%2F134048802%2Fkesaksian-warga-hingga-tes-dna-singkap-harimau-jawa-mungkin-masih-ada%3Fpage%3Dall