Khas

Yang Tersisa Setelah Sekolah Konservasi: Enam Hari Belajar, Seumur Hidup Menjaga Alam

14/07/2026|Annisa Rakhmadini
Para peserta COP School 2025 pada saat rangkaian penutupam acara Foto COP - Yang Tersisa Setelah Sekolah Konservasi Enam...

Para peserta COP School 2025 pada saat rangkaian penutupam acara. | Foto: COP

Gardaanimalia.com - Siang merambat lambat melalui sela-sela bilah kayu pendapa di tengah sebuah area persawahan Sleman, DI Yogyakarta, Juni tahun lalu. Garis-garis cahaya menerpa seisinya, memberikan sedikit sensasi terpanggang bagi yang terpapar.

Di sebuah sudut, kipas angin berdiri, mencoba melawan rasa gerah yang menguar di pendapa Camp APE Warrior yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection (COP).

Di depan, Danang Anggoro, pemateri siang itu sekaligus dosen di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, tengah membahas betapa peliknya relasi otoritas dalam konservasi.

Di pendapa itu, di tengah empat puluh lebih wajah yang baru saya temui dan akan terus bersama selama enam hari ke depan dalam rangkaian COP School 15, saya seperti tersadarkan akan banyak hal untuk pertama kalinya. Sebab ketidaknyamanan yang terasa, boleh jadi bukan sekadar dari udara panas yang berputar-putar di pendapa.

Penempaan Sebelum Perjumpaan

Semua ini sejatinya telah diawali sejak sekira sebulan sebelumnya. Begitu formulir pendaftaran terkirim, kami tidak begitu saja diterima. Selama sebulan itu, COP memberikan macam-macam penugasan yang harus diselesaikan: tugas tertulis tentang kesejahteraan satwa dan seluk-beluk perdagangan ilegal, hingga pengamatan lapangan di area domisili masing-masing.

Setiap peserta diminta mendokumentasikan temuan mereka sendiri—di pasar hewan, kebun binatang, ruang-ruang virtual, dan di lingkungan sekitar yang mungkin saja selama ini luput dari perhatian.

Bagi COP, tahapan ini bukan formalitas. Mereka ingin memastikan bahwa yang nantinya terpilih benar-benar paham di mana posisi mereka ketika berbicara tentang kesejahteraan satwa. Sadar bahwa di balik ancaman kepunahan yang sering kita kutuk, ada rantai eksploitasi yang mungkin tanpa sadar pernah ikut kita rangkai. Maka sejak awal, penafian itu sudah dipasang dengan jelas: salah satu syarat utama adalah bukan eksploitator.

Setelah menyelesaikan rangkaian seleksi dan dinyatakan lolos, tibalah saya di pendapa itu pada 23 Juni 2025 dan menjadi bagian dari 46 siswa di angkatan tahun 2025.

Kami datang dari ujung yang berbeda-beda. Ada yang hanya kurang dari sejam untuk sampai, ada pula yang butuh tiga hari perjalanan. Ada mereka yang telah akrab dengan usaha-usaha konservasi, baik orangutan maupun satwa liar dilindungi lainnya, tidak sedikit pula yang benar-benar baru seperti saya.

Mengapa Yogyakarta?

Mungkin, muncul pertanyaan bagi yang berminat untuk mendaftar sekolah ini. Mengapa sekolah yang membahas tentang orangutan, dilakukan di Yogyakarta? Bukankan orangutan tidak hidup liar di sana? Apa yang siswa akan lakukan, jika tidak ada orangutan?

Sebenarnya, itu sempat menjadi tanya saya. Pun begitu, bukan berarti belajar di sini hanya akan sama saja dengan membaca dari sumber-sumber yang tersebar di internet.

Di sini, ada banyak kabar yang tidak disiarkan media arus utama; kabar-kabar yang hanya bisa dibawa oleh mereka yang berkutat dengan orangutan dan konservasi di kesehariannya. Sebut saja di antara pemateri lainnya adalah Indira Nurul yang merupakan biologis sekaligus Asisten Direktur COP, juga Rudianto Saragih Napitu sebagai Direktur Penindakan Penegakan Pidana Kehutanan (Gakkum) Kementerian Kehutanan.

Yogyakarta dengan banyaknya opsi transportasi umum antarkota, barangkali adalah titik lebur yang paling pas untuk itu semua.

Uploaded content
Rudianto Saragih Napitu dari Gakkum Kehutanan sedang memaparkan hukum dan perundangan konservasi. | Foto: COP

Ada satu sesi di mana beberapa praktisi COP memeragakan cara menangani orangutan dalam beberapa tahapan umur. Untuk bayi orangutan, mereka menggunakan boneka yang digendong dengan posisi tertentu, meniru cara induk menggendong anaknya.

Pada orangutan remaja, seorang panitia mengenakan kostum rangka yang menyerupai tubuh orangutan. Ia meronta, bergerak liar, dan sesekali menarik lengan rekannya.

Betapa rumit dan perlu kehati-hatian dalam melakukannya. Setiap tahapan umur punya teknik berbeda, dan satu kesalahan kecil—memegang terlalu kencang, posisi tubuh yang keliru, atau suara yang terlalu keras—bisa memicu stres berlebihan pada satwa.

Di situ saya mulai menghubungkan titik-titik: barangkali alasan lain sekolah singkat ini dilakukan di Yogyakarta, jauh dari hutan Kalimantan atau Sumatera, adalah karena tidak sedikit siswa yang masih benar-benar awam tentang orangutan.

Mempertemukan langsung pemula yang antusias tetapi belum terlatih dengan satwa yang rentan secara fisik dan psikologis bukanlah proses pembelajaran, tetapi resep bencana. Keliru sedikit, niat baik justru berubah menjadi malapetaka.

Membuat Pengayaan untuk Orangutan

Di satu sore, siswa diminta untuk membuat media pengayaan (enrichment) untuk orangutan berupa bola dan tandu berayun. Secara berkelompok, kami mengebor selang untuk lalu dianyam dengan dibantu mur dan baut. Seketika, halaman Camp APE Warrior berubah menjadi bengkel kreatif.

Nantinya, bola dan tandu berayun ini akan dikirimkan ke lokasi rehabilitasi orangutan yang dikelola oleh COP. Tujuannya bukan sekadar memberi mainan pada orangutan di pusat rehabilitasi, tetapi menjaga mereka tetap aktif secara fisik dan mental; mencegah kebosanan yang bisa berujung pada stres atau perilaku abnormal. Ini juga agar mereka tidak terlupa akan nalurinya sebagai makhluk yang tinggal di hutan.

Dari yang tampak, COP sedang mengenalkan kami pada keterampilan teknis. Namun, di balik sesi itu, ada sesuatu yang lebih dalam yang merayap pelan ke kesadaran saya: kami tidak sekadar belajar membuat ayunan dari selang. Kami sedang diingatkan tentang apa yang kita sebagai manusia telah rampas dari orangutan—dan dari begitu banyak satwa liar lainnya.

Tandu berayun yang kami buat itu, sekuat apa pun bautnya, tak akan bisa menggantikan kokohnya sarang alami yang biasa mereka buat di atas pohon.

Bola kotak dari lilitan selang yang nantinya diisi buah, tak benar-benar bisa menggantikan pengalaman mencari makan di kanopi liar, di antara dahan dan ranting yang bergoyang oleh angin.

Kita tidak perlu membuat semua imitasi ini kalau saja kita tidak mengacaukan harmoni ruang hidup mereka. Anyaman selang-selang itu menjadi relevan karena kita telah membabat hutan, memisahkan anak dari induknya, dan menyisakan ruang-ruang rehabilitasi sebagai ganti dari rumah yang seharusnya tak pernah mereka tinggalkan.

Dan, sesungguhnya, itu baru satu dari banyaknya praktik lain yang kami lakukan.

Uploaded content
Praktik pembuatan pengayaan (enrichment) berupa bola dan tandu berayun yang dilakukan secara berkelompok oleh peserta COP School. | Foto: COP

Di sore lainnya, kami diminta menelusuri terduga pelaku perdagangan daring satwa ilegal dan turunannya. Ini menyadarkan bahwa hutan dan kejahatan di dalamnya bukanlah sesuatu yang jauh. Mereka ada di platform yang sama yang kita gunakan untuk berbagi resep makanan atau menonton video kucing rumahan. Tak mengenal waktu, tak mengenal batas administrasi.

Hanya saja, mereka fasih bersembunyi di balik bahasa kode. Penjual dan pembeli kerap ditemukan terjebak pada keyakinan bahwa ketimbang satwa liar dilindungi tidak lagi hidup layak di alam yang rusak, lebih baik dipelihara di rumah. Padahal, ketelatenan di balik tiap suapan jangkrik oleh manusia pada anakan burung kicau, misalnya, tidak pernah perlu ada jika saja habitat mereka tak rusak serta tidak ada permintaan pasar akannya.

Ketika perdagangan ilegal terkesan hanya terjadi di ruang-ruang gelap dan lembap, nyatanya, jarak antara kita dan pasar yang merusak ekologi itu cuma setipis layar ponsel.

Apa yang Tersisa Setelah Enam Hari?

Hari terakhir, 28 Juni 2025, datang terasa lebih cepat dari yang saya kira. Enam hari di pendapa itu terasa seperti satu napas panjang sebelum menyelam dalam. Kami sudah menyerap terlalu banyak kenyataan: deforestasi yang merangsek, orangutan yang dijerat, panjangnya proses melepasliar satu individu pascarehabilitasi.

Petang itu, upacara penutupan berlangsung sederhana. Ada perayaan kecil, sedikit permainan air dan musik—bukan hal yang mahal. Sertifikat kepesertaan pun tidak ada. Sehingga, jangan diharapkan.

Enam hari bukan waktu yang lama, juga bukan sebentar. Namun, itu cukup untuk menanam sesuatu yang diam-diam sudah tumbuh: cara pandang yang tidak lagi sama setiap kali melihat berita tentang satwa, setiap kali menatap unggahan di media sosial, setiap kali mendengar seseorang bangga memelihara binatang yang seharusnya hidup bebas. Bukan penyeragaman, tetapi kesadaran ekologis dan lenyapnya waham manusia sebagai pusat dan pahlawan semesta.

Serta, tentu saja, pertemanan yang lahir dari sana, dengan sesama yang berbagi pandangan yang sepaham.

Besok pagi, bus, kereta, dan pesawat akan membawa kami kembali ke kota masing-masing. Tapi sebagian dari diri kami, saya tahu, sudah tertinggal di pendapa itu—dan begitu pula sebagian dari pendapa kini ikut masuk ke dalam bagasi.

Pertemuan itu akan berulang di pertengahan tahun ini, tahun esok, dan semoga tahun esoknya lagi, diisi wajah baru dan keyakinan yang mengular dan menular: sebuah pendapa menjadi titik kumpul bagi mereka yang ingin belajar dengan segala  tentang tanah tempat tinggalnya.