Musik

Burung Itu Pulang ke Rumah yang Telah Tenggelam: Membaca Bencana Sumatera 2025 Melalui Letto - “Bird Song”

02/04/2026|Annisa Rakhmadini
Ilustrasi burung oleh wijayaart80 - Burung Itu Pulang ke Rumah yang Telah Tenggelam Membaca Bencana Sumatera 2025 Melalui...

Ilustrasi burung oleh @wijayaart80

Gardaanimalia.com - Di antara lagu-lagu Letto, ada satu yang terasa melankolis sejak detik pertama. Diawali dengan momen ketika musik seolah menahan napas, ruang di antara bait-bait di mana gitar akustik berlama-lama dimainkan itu membuat pendengar menunggu bagaimana cerita akan dikisahkan.

Bird Song, yang dirilis pada 2009 dalam album Lethologica, mengalun dengan tempo yang lambat dan aransemen yang minimalis, menciptakan lanskap suara yang intim untuk sebuah kisah kehilangan.

Vokal khas dari Noe, sapaan akrab Sabrang Mowo Damar Panuluh, kemudian membawa pendengar pada elegi seekor burung kecil yang kebingungan mencari rumahnya.

Gunung berkabut dan sungai berair jernih yang dulu ia kenali, kini telah berubah menjadi hamparan tandus. Semua pohon ditebang “atas nama kemanusiaan,” dan awan enggan menangis hingga sungai-sungai pun mengering.

Namun, lagu lembut tentang seekor burung yang kembali ke tanah kelahirannya yang hancur ini, ketika didengarkan kembali enam belas tahun kemudian, bukan lagi sekadar puisi. Ia juga bagaikan dokumentasi. Bukan nubuat, melainkan bukti peringatan yang secara kolektif kita pilih untuk abaikan.

Ekologi dalam Sajak

Bird Song ditulis dengan struktur naratif yang sederhana tetapi mendalam. Bait pertamanya memperkenalkan tokoh utama: seekor burung kecil yang mewarisi lagu cinta dari ibunya, lalu terbang tinggi mencoba menemukan tempat di mana ia pertama kali belajar terbang.

Di bait selanjutnya, ada pencarian identitas, kerinduan pada asal-usul, dan harapan bahwa langit—yang juga dapat diinterpretasikan sebagai simbol kekekalan dan kebijaksanaan, atau bisa juga Yang Maha Tahu—akan mampu memberi jawaban.

Bait ketiga adalah titik balik yang menyakitkan. Gunung yang diselimuti kabut dan sungai dengan air jernih telah lenyap. Kabut di gunung menandakan hutan yang masih lebat dengan siklus hidrologis berjalan normal; air sungai yang jernih menandakan tanah di sekitarnya mampu menahan erosi. Namun, semua bentuk ekologi yang sehat dan berfungsi itu, tak lagi ada.

Bait keempat mengungkap penyebabnya. Frasa in the name of humanity, (atas nama kemanusiaan), adalah ironi yang menusuk. Pembangunan, lapangan kerja, kemajuan ekonomi—semua dibangun atas nama “kesejahteraan umat manusia.” Namun, yang terjadi justru pengorbanan alam yang pada akhirnya akan menghancurkan peradaban manusia itu sendiri.

Personifikasi clouds refuse to cry (awan enggan menangis), boleh jadi, adalah metafora untuk perubahan iklim dan gangguan siklus hidrologis. Frasa ini menggambarkan sebuah konsekuensi, bukan secara harfiah hanya kekeringan semata. Bentang alam yang telah mengalami deforestasi, kehilangan kemampuannya untuk menahan kelembapan, yang mana idealnya menghasilkan kondisi atmosfer yang menghasilkan hujan ringan yang menopang kehidupan.

Siklus hidrologi itu terputus. Deforestasi yang luas mengubah pola curah hujan lokal dan regional, mengurangi curah hujan di beberapa daerah sekaligus meningkatkan intensitas limpasan ketika hujan turun.

Awan bukan berhenti menurunkan air; mereka berhenti menurunkan air dengan cara yang menopang kehidupan. Di satu waktu dan/atau tempat, ia memang enggan turun hingga berkontribusi pada kekeringan. Namun, di waktu dan/atau tempat lain, ia turun tak terprediksi hingga jalanan dan rumah pun seakan menjadi sungai baru. 

YouTube Video Thumbnail


Ketika Puisi Menjadi Dokumentasi

Pada akhir November 2025, Siklon Tropis Senyar—fenomena meteorologi yang terbentuk di Selat Malaka—memicu hujan dengan intensitas luar biasa, mencapai 380 milimeter per hari. Ini kemudian memantik banjir bandang dan tanah longsor masif di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Hingga awal April 2026, tercatat 1.207 orang meninggal dunia, 138 orang masih hilang, dengan lebih dari 3.000 ribu jiwa terdampak di 53 kabupaten/kota. Puluhan ribu rumah hancur, puluhan jembatan nasional putus, dan lanskap Sumatera berubah seketika.

Dalam bencana Sumatera 2025, awan-awan memang benar menangis. Tetapi, karena hutan yang dulunya menerima air secara bertahap, menyerap, dan melepaskannya perlahan itu telah raib, kini hujan menjadi perusak alih-alih penopang.

Burung dalam lagu itu kembali dan mendapati sungai kering—bukan karena tidak ada hujan, tetapi karena hujan yang turun menjadi banjir alih-alih air tanah.

Ini sesuai dengan penegasan Dr. Heri Andreas dari ITB. Banjir bandang dan longsor tidak semata-mata tentang berapa banyak air yang turun, tetapi tentang bagaimana air itu diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi.

Ketika kawasan hutan sebagai penahan air alami telah hilang, air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir deras ke sungai-sungai yang daya tampungnya juga telah berkurang akibat sedimentasi.

Investigasi awal mengungkapkan bahwa sekitar 340 ribu hektare hutan telah diubah menjadi lahan pertanian di lima daerah aliran sungai utama, dengan sekitar 50 ribu hektare lahan hutan di hulu dibiarkan gundul sepenuhnya.

Bentang alam yang terdenudasi ini lantas kehilangan kemampuannya untuk menyerap air hujan. Padahal, hutan tropis yang tidak terganggu dapat menyerap hingga 55% curah hujan. 

Menelusuri Kemiripan yang Bukan Kebetulan

Ketika mendengarkan lagu ini sembari membaca data-data Bencana Sumatera 2025, apakah kemiripan keduanya merupakan kebetulan, atau justru self-fulfilling prophecy?

Mari kita coba dengarkan lagi. All of those trees has been cut down in the name of humanity adalah lirik puitis dari apa yang didokumentasikan secara statistis: 1,4 juta hektare hutan lenyap dalam satu dekade, 631 perusahaan beroperasi di wilayah-wilayah kritis, dan tutupan hutan di berbagai DAS tersisa di bawah 30 persen.

Data ini bukan rahasia; ia terpampang dalam laporan kementerian, publikasi akademis, dan temuan lapangan para pegiat lingkungan yang sejak bertahun-tahun lalu telah memperingatkan bahwa setiap hektar hutan yang lenyap pada dasarnya hilangnya kemampuan alam untuk kehidupan manusia.

The river runs dry because nowadays clouds refuse to cry adalah metafora dari temuan para ahli bahwa DAS yang kritis telah kehilangan fungsi hidrologisnya. Ketika akhirnya sungai-sungai tidak lagi mampu menampung debit air saat hujan datang, mereka meluap secara destruktif, membawa serta tanah dan bebatuan dari lereng-lereng yang gundul.

Perbedaannya, dalam  Bird Song , awan “enggan menangis” hingga sungai mengering; dalam Bencana Sumatera 2025, awan “menangis”, tetapi berlebihan. Sehingga, kerusakan yang telah terjadi di darat membuat tangisan itu tidak ada yang mampu menampung, mengubahnya menjadi malapetaka.

Lirik on a misty mountain, but now turned into barren mendapatkan visualisasinya yang paling gamblang dalam gambaran Ekosistem Batang Toru: 72.938 hektare hutan amblas, lereng-lereng hijau berubah menjadi bukaan oranye akibat aktivitas tambang, hutan alam yang dulu menjadi rumah bagi orangutan tapanuli kini berubah menjadi konsesi PLTA dan perkebunan kayu.

Gunung yang “tandus” tidak lagi mampu menahan air; ia menjadi luncuran tanah dan bebatuan saat hujan deras mengguyur.

Yang tak kalah menyayat adalah resonansi lirik she just wants to go home. Kenyataannya, kini lebih dari 645.000 warga menjadi pengungsi di tanah kelahirannya sendiri.

Mereka adalah para petani yang kehilangan ladang, para ibu yang kehilangan tempat berteduh, para anak yang kehilangan orang tua.

Mereka ingin pulang, tetapi “rumah” dalam arti fisik dan emosional telah lenyap, sama seperti gunung berkabut dan sungai jernih yang hilang dari kehidupan sang burung. Seperti burung dalam lagu yang terbang tinggi mencari tempat ia pertama belajar terbang, masyarakat lokal kini kebingungan mencari kembali mata pencaharian dan rasa aman yang telah direnggut.

Sehingga, apakah semua kemiripan itu kebetulan, atau doa yang terkabul? Jawabannya, bukan keduanya. Lagu ini hanya menyuarakan apa yang sebenarnya sudah merupakan pengetahuan umum.

Para ilmuwan telah memperingatkan bahaya deforestasi. Data kerusakan DAS telah dipublikasikan. Rencana tata ruang telah dikritik. Masyarakat adat dan petani kecil yang tinggal di hulu DAS telah lama merasakan sendiri perubahan wajah alam di sekitar mereka.

Mereka telah hidup berdampingan dengan alam selama bergenerasi dan tahu kapan alam mulai kehilangan keseimbangan. Semua “panggilan” itu telah bersuara nyaring, tetapi tenggelam oleh hiruk-pikuk pembangunan “atas nama kemanusiaan”. 

Bukan Ramalan, Melainkan Realitas yang Kita Abaikan

Bird Song karya Letto bukanlah nubuat. Nubuat atau menyiratkan pengetahuan misterius, wawasan yang diberikan melalui cara supranatural. Apa sebenarnya lagu itu adalah pengamatan yang diterjemahkan ke dalam seni, yang sayangnya realitas itu selama ini, sengaja atau tidak, kita secara kolektif abaikan.

Burung dalam lagu itu bukanlah simbol mistis. Ia adalah setiap pengungsi yang kembali dan mendapati desanya telah luluh lantak.

Ia adalah setiap orangutan tapanuli yang menyaksikan habitatnya menghilang.

Ia adalah setiap penyintas yang memanjat batang-batang kayu yang berserakan selama satu jam hanya untuk mencapai pusat bantuan, berjalan melintasi bukti fisik deforestasi di hulu sungai.

Ketika ia memanggil dan tidak mendapat jawaban, ia adalah setiap komunitas yang telah memperingatkan tentang konsekuensi ini dan diabaikan.

Bencana Sumatera 2025 adalah bukti paling mahal dari pengabaian itu. Ia juga menunjukkan bagaimana dampak kerusakan alam tidak punya KTP.

Kerusakan di hulu—yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pemegang izin tambang, sawit, dan HTI—menimbulkan bencana di hilir yang dihuni oleh jutaan warga yang mungkin tidak mendengar nama-nama perusahaan itu di keseharian.

Sungai-sungai besar seperti Batang Toru, Krueng Trumon, dan Aia Dingin menjadi saluran yang menghantarkan amarah alam dari pegunungan Bukit Barisan hingga ke pesisir timur Sumatera.

Sehingga, 1.207 orang yang meninggal dalam bencana Sumatera 2025 bukanlah sekadar korban takdir. Mereka adalah korban dari realitas yang dapat diprediksi yang secara kolektif kita pilih untuk tidak dicegah.

Hutan ditebang meskipun bertentangan dengan sains. Perusahaan beroperasi meskipun ada peringatan. Peraturan diabaikan meskipun ada bukti. Siklon Senyar adalah pemicunya, tetapi deforestasi adalah senjata yang siap meledak kapanpun. 

Menjawab Panggilan yang Telah Kita Lalaikan

Seperti halnya Smong yang mencatat tsunami di masa lampau sehingga malih menjadi pedoman bagi masyarakat Simeulue dan menyelamatkan ribuan jiwa saat tsunami 2004, Bird Song sejatinya adalah catatan. Ia merefleksikan data deforestasi, laporan akademis tentang kritisnya DAS, dan temuan lapangan tentang pelanggaran tata ruang, secara artistik. Ia sejatinya juga dokumentasi kebodohan kita yang terus mengabaikan peringatan yang ada.

Kenyataan bahwa Noe kini telah menjabat sebagai Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional (DPN), memberinya kapasitas untuk mewujudkan hasrat yang dinyanyikannya selama bertahun-tahun: If I could, then I would, try to make us all care about her call.

Bisakah ia mewujudkan lirik yang ia tulis, tidak lagi hanya sebagai budayawan, tetapi melalui kewenangannya?

Dengan posisinya di DPN, Noe memiliki ruang untuk menerjemahkan peringatan ekologis ke dalam kebijakan pertahanan nontradisional. Jika sungguh-sungguh, her call tidak hanya didengar tetapi direspons secara struktural. Jika tidak, ia hanya menjadi ironi lain: seorang yang bertahun-tahun menyanyikan panggilan alam, duduk di kursi kekuasaan tanpa mengubah apapun.

Panggilan alam telah bersuara dalam lagu, dalam data, dalam nyawa yang melayang. Sekarang pertanyaannya bukan lagi “apakah kita akan mendengarnya?” tetapi “akankah kita akhirnya bertindak?”.

Bencana Sumatera 2025 harus menjadi titik balik. Apakah kita akan terus membangun di atas ekosistem yang rapuh “atas nama kemanusiaan,” atau berani meninggalkan pola lama demi masa depan yang lestari? Pilihannya ada di tangan kita.