Menu
Edukasi

Di Persimpangan Jalur Migrasi Burung: Ancaman Avian Influenza bagi Indonesia

23/09/2026|Siwi Meylina
Ilustrasi migrasi burung di Taman Nasional Sembilang Foto Harry Sanjaya PutraWikimedia Commons - Di Persimpangan Jalur Mi...

Ilustrasi migrasi burung di Taman Nasional Sembilang. | Foto: Harry Sanjaya Putra/Wikimedia Commons

Gardaanimalia.com - Ancaman avian influenza (AI) atau flu burung kembali menunjukkan perkembangan yang perlu mendapat perhatian serius. Hingga 25 Agustus 2026, Department of Agriculture, Fisheries and Forestry (DAFF) Australia melaporkan 309 kasus satwa positif virus H5 avian influenza di seluruh Australia1.

Perkembangan paling signifikan terjadi di Australia Selatan. Pada pertengahan Agustus, lebih dari seribu ekor dara-laut jambul (greater crested tern) ditemukan mati akibat infeksi H5 avian influenza.

Kekhawatiran semakin bertambah setelah seekor anjing laut (Arctocephalus forsteri) tercatat sebagai mamalia liar pertama yang dilaporkan mati pada 19 Agustus 2026 dalam rangkaian kejadian H5 avian influenza di Australia.

Temuan itu menunjukkan bahwa flu burung memiliki dinamika tersendiri ketika berinteraksi dengan spesies lain.

Lantas, seberapa jauh virus AI dapat menyebar, dan apa yang membuatnya mampu menginfeksi berbagai jenis hewan?

Untuk menjawabnya, mari mengenal lebih dekat virus AI, karakteristiknya, serta bagaimana virus ini beradaptasi dan menyebar di antara inangnya.

Mengenal Virus Avian Influenza

Avian influenza (AI) merupakan penyakit zoonotik yang disebabkan oleh virus influenza A. Virus ini secara alami lebih banyak menginfeksi burung, tetapi dalam kondisi tertentu dapat menular ke mamalia, termasuk manusia2.

Virus AI dapat menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan yang bervariasi, bahkan berpotensi kematian. Virus influenza A termasuk dalam famili Orthomyxoviridae dan memiliki karakteristik tertentu yang membedakannya dari jenis virus lain.

Pengelompokan virus ini didasarkan pada dua protein permukaan utama, yaitu hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Kombinasi keduanya kemudian digunakan untuk menentukan subtipe virus, seperti H5N1 dan H7N9. Hingga saat ini, telah dikenal 16 variasi antigenik H dan 9 variasi N. 

Uploaded content
Struktur virus avian influenza. | Sumber: Eichberg et al., 2022

Berdasarkan tingkat keganasannya pada unggas, virus AI secara umum dibedakan menjadi dua kelompok:

  • Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI): merupakan bentuk AI yang dapat menyebabkan penyakit berat dan tingkat kematian tinggi pada unggas. Pada beberapa kasus, virus HPAI juga dapat menginfeksi manusia dan menyebabkan penyakit serius.
  • Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI): umumnya hanya menimbulkan gejala ringan atau bahkan tidak menunjukkan gejala pada unggas. Meski demikian, jenis virus ini tetap perlu diwaspadai karena dalam kondisi tertentu dapat mengalami perubahan genetik dan berkembang menjadi lebih ganas. 
Di alam, virus AI utamanya bersirkulasi pada burung air liar, seperti bebek, angsa, dan berbagai jenis burung pantai. Burung-burung tersebut sering kali membawa virus tanpa menunjukkan gejala sehingga berperan sebagai reservoir alami.

Dari populasi burung liar inilah virus dapat menyebar ke unggas domestik, baik melalui kontak langsung maupun melalui air, lingkungan, atau material lain yang telah terkontaminasi. 

Uploaded content
Alur penularan influenza unggas dari reservoir alami (burung air dan burung migran) ke unggas, manusia, dan spesies hewan lainnya. | Sumber: Butt dkk., 2024

Salah satu karakteristik penting virus AI adalah genomnya yang berupa RNA untai tunggal tersegmentasi. Struktur ini memungkinkan terjadinya perubahan genetik.

Kemampuan tersebut membuat virus AI relatif dinamis dan memiliki peluang untuk beradaptasi terhadap inang baru.

Pemantauan terhadap AI menjadi semakin penting ketika mulai ditemukan infeksi bahkan kematian pada burung liar yang sebelumnya diketahui sebagai reservoir. Temuan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa karakteristik dan kemampuan adaptasi virus AI perlu dipahami lebih jauh. 

Dari Burung Liar ke Mamalia: Antigenic Shift dan Antigenic Drift

Virus influenza terus berevolusi melalui dua mekanisme utama, yaitu antigenic drift dan antigenic shift5. Keduanya sama-sama mengubah karakteristik virus, tetapi berlangsung dengan cara dan skala yang berbeda.

Antigenic drift merupakan perubahan yang terjadi secara perlahan akibat akumulasi mutasi kecil pada genom virus.

Virus influenza dapat mengalami banyak mutasi karena RNA polymerase yang digunakannya untuk menggandakan materi genetik tidak memiliki kemampuan proofreading. Akibatnya, kesalahan kecil saat replikasi dapat terus menumpuk dan secara bertahap mengubah karakteristik virus.

Sementara itu, antigenic shift merupakan perubahan yang jauh lebih besar dan dapat terjadi ketika beberapa virus influenza menginfeksi sel yang sama.

Dalam kondisi tersebut, segmen RNA dari virus yang berbeda dapat mengalami reassortment, yaitu pertukaran dan penyusunan ulang materi genetik. Proses ini dapat menghasilkan strain baru dengan karakter antigenik yang sangat berbeda dari virus sebelumnya, serta merupakan salah satu faktor penting yang dapat memicu pandemi influenza, terutama ketika populasi hewan atau manusia memiliki tingkat kekebalan yang rendah terhadap virus tersebut. 

Uploaded content
Mekanisme Antigenic Shift dan Antigenic Drift. | Sumber: Monash University, 2025

Jalur Migrasi Burung dan Potensinya Menyebarkan Avian Influenza

Rute migrasi burung menunjukkan adanya konektivitas antara Australia, Indonesia, Asia Tenggara, dan wilayah Asia Timur melalui East Asian–Australasian Flyway (EAAF).

Posisi geografis Indonesia yang berada di antara wilayah breeding di Asia Timur dan wilayah non-breeding di Australia menjadikan Indonesia sebagai salah satu wilayah penting dalam jaringan migrasi burung.

Pergerakan burung migran melalui Indonesia berpotensi membawa virus influenza A dari wilayah asalnya dan mempertemukannya dengan burung lokal maupun unggas domestik, sehingga dapat menciptakan peluang terjadinya introduksi (spill-in) dan penyebaran virus di Indonesia.

Sebaliknya, apabila virus telah beredar pada populasi burung atau unggas di Indonesia, pergerakan burung migran juga secara teoritis dapat berkontribusi terhadap penyebaran virus kembali menuju wilayah lain di sepanjang jalur migrasi.

Oleh karena itu, posisi Indonesia tidak hanya penting sebagai wilayah yang berpotensi menerima virus dari populasi burung migran, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari jaringan ekologis yang dapat menghubungkan sirkulasi virus antara Asia dan Australia. 

Uploaded content
Jalur migrasi burung (arah panah) dan laporan kasus avian influenza. | Sumber: Jindal et al., 2025

Indonesia dan Jejak Panjang Virus Avian Influenza

Avian influenza (AI) telah terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia dengan pola yang terus berubah dari waktu ke waktu.

Sejak kemunculan kasus pada 2003, H5N1 menjadi tipe yang paling dominan, dengan persebaran yang mencakup Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga berbagai wilayah lainnya3.

Pada periode awal, virus ditemukan pada unggas, tetapi beberapa catatan juga menunjukkan keterlibatan manusia dan inang lainnya.

Seiring waktu, muncul pula berbagai subtipe lain, seperti H3N6 dan H3/H10 pada 2013–2014 serta H9N2 yang terdeteksi sejak 2016 dan kembali ditemukan pada tahun-tahun berikutnya4.

Keberadaan beberapa subtipe secara bersamaan menunjukkan bahwa ekosistem influenza di Indonesia cukup dinamis, dengan unggas sebagai salah satu inang utama dan wilayah tertentu mengalami deteksi berulang. 

Apa yang Dilakukan Indonesia?

Sistem nasional Indonesia mencakup pendekatan preventif, surveilans, deteksi dini, respons wabah, pengendalian lalu lintas unggas, vaksinasi, serta perlindungan industri perunggasan, populasi burung eksotik, dan kesehatan masyarakat.

Pengendalian penyakit Avian Influenza dilakukan berdasarkan kajian epidemiologi, didukung oleh regulasi veteriner dan sistem surveilans yang dikoordinasikan secara nasional oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. 

Sebenarnya, menghadapi Avian Influenza bagi Indonesia bukanlah hal baru. Pemerintah telah membangun berbagai sistem nasional sebagai langkah preventif untuk melindungi kesehatan hewan sekaligus masyarakat.

Namun, melihat karakter virus yang terus berevolusi, posisi Indonesia yang berada di jalur migrasi burung liar, serta temuan infeksi dan kematian pada burung maupun mamalia liar, Indonesia harus selalu waspada. Sebab, sebuah sistem tidak cukup hanya “ada”.

Untuk benar-benar menghadapi Avian Influenza, sistem tersebut harus terus dijalankan, dipantau, dievaluasi, dan diperkuat seiring dengan perubahan ancaman. Kesiapsiagaan bukanlah sebuah kondisi yang selesai dibangun, melainkan proses yang harus terus menerus dilakukan.

Sekali saja lengah, bisa jadi burung-burung eksotik di Indonesia menjadi korban selanjutnya. 


1 Department of Agriculture, Fisheries and Forestry. (2026). Bird flu (avian influenza): Latest data. Australian Government.
2 Butt, S. L., Nooruzzaman, M., Covaleda, L. M., & Diel, D. G. (2024). Hot topic: Influenza A H5N1 virus exhibits a broad host range, including dairy cows. JDS Communications, 5, S13–S19. https://doi.org/10.3168/JDSC.2024-0638
3 Karo-karo, D., Bodewes, R., Restuadi, R., Bossers, A., Agustiningsih, A., Stegeman, J. A., Koch, G., & Muljono, D. H. (2022). Phylodynamics of Highly Pathogenic Avian Influenza A(H5N1) Virus Circulating in Indonesian Poultry. Viruses, 14(10), 2216. https://doi.org/10.3390/v14102216
4 Karo-karo, D., Bodewes, R., Wibawa, H., Artika, M., Pribadi, E. S., Diyantoro, D., Pratomo, W., Sugama, A., Hendrayani, N., Indasari, I., Wibowo, M. H., Muljono, D. H., Stegeman, J. A., & Koch, G. (2019). Reassortments among Avian Influenza A(H5N1) Viruses Circulating in Indonesia, 2015–2016. Emerging Infectious Diseases, 25(3), 465–472. https://doi.org/10.3201/eid2503.180167
5 Monash University. (2025). Genetic changes in pathogens. Student Academic Success. https://www.monash.edu/student-academic-success/biology/genetic-changes-in-a-population-over-time/genetic-changes-in-pathogens