Gardaanimalia.com - Di beberapa daerah, kucing hutan diselamatkan dari karhutla. Populasinya masih misteri, sedangkan habitatnya menghadapi ancaman serius.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengancam Indonesia. Berdasarkan data pemantauan hingga 2 November 2026 pukul 21.00 WIB, tercatat 189 titik panas (hotspot) di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah tersebut meningkat 89 titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Meski demikian, titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi satelit, bukan jumlah kejadian kebakaran yang telah dikonfirmasi di lapangan.
Di balik titik-titik panas itu, ada habitat satwa liar yang terbakar dan penghuninya yang harus mencari jalan untuk bertahan hidup.
Menurut data Auriga Nusantara dari laman MapBiomas Fire, karhutla turut membakar habitat satwa kunci Indonesia, seperti gajah, badak, harimau, dan orangutan, seluas 20.363 hektare.
Namun, dampak kebakaran tidak hanya menyasar satwa-satwa besar yang selama ini menjadi ikon konservasi Indonesia.
Temuan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menunjukkan bahwa trenggiling (Manis javanica), musang tenggalung (Viverra tangalunga), bekantan (Nasalis larvatus), dan lutung-lutungan juga ditemukan di kawasan terdampak karhutla.
Dalam salah satu kasus yang ditangani, seekor musang tenggalung ditemukan dengan luka bakar di tubuhnya. Kondisinya terus melemah selama menjalani perawatan medis sekitar satu minggu hingga akhirnya dinyatakan mati.
Di antara satwa yang terdampak, ada kelompok yang tidak boleh luput dari perhatian, yaitu kucing-kucing liar penghuni hutan.
Kucing kuwuk, kucing kecil bercorak tutul yang sekilas menyerupai kucing rumahan. Ketika habitatnya terbakar, satwa ini terancam kehilangan tempat berlindung dan sumber pakan, bahkan dapat terpisah dari induknya.
Sekilas tentang Kucing Kuwuk
Melansir laman IUCN Species Survival Commission (SSC) Cat Specialist Group, revisi taksonomi kucing kuwuk dilakukan pada 2017.
Kucing kuwuk dipisahkan menjadi dua spesies, yaitu kucing kuwuk kontinental (Prionailurus bengalensis) alias mainland leopard cat dan kucing kuwuk sunda (Prionailurus javanensis) alias sunda leopard cat.
Mainland leopard cat menghuni beragam habitat di Asia Selatan hingga Asia Tenggara, mulai dari hutan tropis hingga kawasan yang lebih kering. Sementara, kucing kuwuk sunda dapat dijumpai di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan hingga kepulauan Filipina dan Semenanjung Malaya.
Kucing kuwuk memiliki panjang kepala hingga badan sekitar 45-65 sentimeter, panjang ekor 20-30 sentimeter, dan bobot sekitar 1.6-8 kilogram di alam liar. Ukurannya relatif sebanding dengan kucing domestik, tetapi tubuhnya lebih ramping dan ditandai pola tutul hitam.
Kucing kuwuk umumnya aktif pada malam hari untuk berburu. Mangsanya meliputi hewan-hewan kecil, seperti tikus, kadal, amfibi, burung, dan serangga. Satwa ini juga hidup soliter, menandai wilayahnya dengan urin dan kotoran, serta berburu dengan menyergap mangsa.
Dalam IUCN Red List, baik Prionailurus bengalensis maupun Prionailurus javanensis berstatus least concern atau risiko rendah pada tingkat global. Sebaran geografisnya luas dan spesies ini dapat bertahan di sejumlah habitat yang telah mengalami perubahan.
Beberapa ancaman spesies ini di antaranya adalah perburuan, perdagangan ilegal, dan perubahan habitat.
Di Indonesia, kucing kuwuk termasuk satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi–dengan nomenklatur masih Prionailurus bengalensis.
Kucing Kuwuk yang Terjebak Api
Pada 28 September 2026, seekor anak kucing hutan ditemukan seorang diri di kawasan terdampak kebakaran lahan di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Warga menemukannya di sekitar pemukiman ketika sejumlah titik di kawasan tersebut masih terbakar. Anak kucing itu kemudian diamankan dan diserahkan kepada petugas BKSDA Pos Sampit.
Menurut laporan detikKalimantan, satwa tersebut tidak terlihat bersama induknya ketika ditemukan.
Petugas mendapati luka lecet pada bagian mulut, meskipun secara umum kondisinya terlihat sehat dan aktif. Anak kucing itu kemudian diamankan untuk pemeriksaan serta perawatan awal.
Melalui akun Instagram @amangrimba_borneo, ditemukan pula tulang-belulang yang diduga berasal dari orangutan di sekitar lokasi penemuan anak kucing tersebut.
Berdasarkan laporan penyelamatan satwa liar terdampak karhutla oleh BKSDA Kalimantan Tengah selama periode 2 Juli hingga 2 Oktober 2026, tercatat dua ekor kucing kuwuk menjadi korban.
Di luar Kalimantan Tengah, laporan penyelamatan juga datang dari Tulungagung, Jawa Timur.
Dua kucing kuwuk remaja ditemukan warga setelah berhasil lolos dari kebakaran hutan di sekitar wilayah tersebut. Keduanya diserahkan kepada BBKSDA Jawa Timur dan diamankan pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Kasus serupa terjadi di Sumatera Selatan. Seekor anak kucing kuwuk yang diperkirakan berusia dua bulan ditemukan warga pada 26 September 2026 di dekat lahan yang baru terbakar, di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir.
Anak kucing itu ditemukan tanpa induk dan sempat dipelihara warga selama dua hari sebelum diserahkan kepada BKSDA Sumatera Selatan.
Ketiga laporan tersebut menunjukkan pola bahwa kucing kuwuk ditemukan sendirian atau di luar habitatnya, tidak jauh dari kawasan terdampak kebakaran. Namun, laporan ini belum mencerminkan jumlah keseluruhan kucing kuwuk yang terdampak karhutla.
Satwa yang ditemukan dan dievakuasi hanya mencakup kasus yang terpantau. Sementara, individu yang mati, melarikan diri, atau bersembunyi di sisa habitat mungkin tidak tercatat.
Populasinya Belum Terpetakan Menyeluruh
Status least concern pada tingkat global tidak serta-merta menggambarkan kondisi kucing kuwuk di Indonesia. Hingga kini, belum tersedia estimasi populasi nasional yang dapat menunjukkan jumlah individu spesies ini secara menyeluruh.
Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) di Hutan Kemuning, Temanggung, Jawa Tengah, memperkirakan kepadatan kucing kuwuk mencapai 2,29 individu per kilometer persegi, dengan estimasi sekitar sembilan individu di kawasan penelitian.
Sementara itu, penelitian Universitas Padjadjaran (Unpad) di Hutan Cisokan, Cianjur, Jawa Barat, memperkirakan terdapat tujuh hingga sepuluh individu di kawasan tersebut. Angka-angka ini merupakan estimasi pada lokasi penelitian, bukan gambaran populasi kucing kuwuk di seluruh Pulau Jawa.
Kondisi di Kalimantan bahkan masih menyisakan ketidakpastian. Hingga saat ini, estimasi populasi kucing kuwuk di pulau tersebut belum diketahui. Padahal, Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Tanpa data populasi yang memadai, dampak karhutla terhadap jumlah kucing kuwuk di Kalimantan sulit diukur. Kebakaran dapat merusak habitat dan mengganggu keberlangsungan hidup satwa, tetapi besarnya penurunan populasi tidak bisa dipastikan hanya dari jumlah individu yang ditemukan atau diselamatkan.
Bukan Hanya Kucing Kuwuk yang Menghadapi Ancaman
Kucing kuwuk bukan satu-satunya kucing liar yang habitatnya berpotensi terdampak karhutla.
Di Sumatera dan Kalimantan, terdapat spesies lain yang juga dilindungi secara hukum, antara lain kucing merah kalimantan (Catopuma badia), kucing emas asia (Catopuma temminckii), kucing batu (Pardofelis marmorata), kucing tandang (Prionailurus planiceps), kucing bakau (Prionailurus viverrinus), dan macan dahan sunda (Neofelis diardi).
Status konservasi mereka dalam IUCN Red List tidak seragam. Sebagian masuk kategori terancam, sedangkan sebagian lainnya memiliki kategori risiko yang lebih rendah.
Kucing-kucing liar merupakan bagian dari jejaring makanan. Dengan perannya sebagai predator, mereka turut menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Akan tetapi, mereka juga menghadapi ancaman perburuan, perdagangan ilegal, serta kehilangan dan fragmentasi habitat.
Dalam keterangan yang diterbitkan laman IPB University pada 1 September 2026, Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Abdul Haris Mustari menjelaskan bahwa karhutla di Sumatera dan Kalimantan dapat merusak habitat satwa liar, termasuk macan dahan dan kucing emas.
Satwa yang berhasil melarikan diri dari api masih menghadapi hilangnya tempat berlindung, sumber makanan, dan air. Mereka juga dapat terdorong mencari habitat sementara di kawasan yang berbatasan dengan perkebunan atau pemukiman, sehingga meningkatkan risiko konflik dengan manusia.
“Orangutan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir merupakan kelompok satwa yang dapat terdampak. Kerusakan habitat tersebut menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati karena fungsi ekologis ekosistem dapat hilang dalam waktu singkat,” kata Abdul dalam keterangannya.
Nasib Kucing Hutan di Tengah Karhutla
Kasus kucing kuwuk yang ditemukan di kawasan terdampak karhutla menjadi pengingat bahwa kebakaran bukan sekadar persoalan luas lahan yang hangus atau jumlah titik panas yang terdeteksi. Ada satwa yang kehilangan tempat berlindung, sumber pakan, dan akses menuju habitat yang lebih aman.
Namun, laporan penyelamatan saja belum cukup untuk mengukur dampak karhutla terhadap populasi kucing liar. Diperlukan pemantauan yang lebih sistematis, termasuk pendataan satwa yang ditemukan, pemeriksaan kondisi individu, serta survei habitat dan populasi setelah kebakaran.
Penyelamatan individu memang penting, terutama bagi anak satwa yang ditemukan tanpa induk. Namun, upaya tersebut perlu diikuti perlindungan habitat yang tersisa dan pemulihan kawasan terdampak. Tanpa itu, satwa yang berhasil diselamatkan tetap menghadapi ancaman ketika harus kembali ke lingkungan yang belum pulih.
Selama karhutla masih menyala, nasib kucing-kucing hutan tidak boleh luput dari perhatian. Mereka mungkin tidak selalu terlihat di tengah asap dan bara, tetapi kehilangan habitat dapat meninggalkan dampak jauh setelah api padam.
















