Menu
Edukasi

Misteri Sebaran Tarsius di Sundaland dan Sulawesi: Berhasil Seberangi Garis Imajiner Wallace?

03/11/2026|Zikri Alamsyah
Spesies Tarsius tarsier yang hidup di Cagar Alam Tangkoko Sulawesi Utara Foto Garda Animalia - Misteri Sebaran Tarsius di...

Spesies Tarsius tarsier yang hidup di Cagar Alam Tangkoko, Sulawesi Utara. | Foto: Garda Animalia

Gardaanimalia.com - Garis imajiner Wallace diyakini memisahkan persebaran fauna antara bagian barat dan peralihan. Namun, tarsius adalah pengecualian.

​Primata mungil bermata bulat besar ini tidak hanya unik karena penampilannya, tetapi juga menyimpan teka-teki evolusi yang menakjubkan.

Meskipun tubuhnya tak lebih besar dari genggaman tangan manusia dan tidak memiliki kemampuan berenang, tarsius berhasil menghuni dua wilayah daratan yang dipisahkan oleh salah satu benteng geologi paling ekstrem di dunia: Garis Wallace.

​Bagaimana satwa mungil ini bisa tersebar dari wilayah barat (Sundaland) hingga ke Sulawesi di timur?

​Menembus Garis Wallace dengan "Rakit Alami"

Nenek moyang tarsius sejatinya bukan berasal dari Sulawesi, melainkan dari daratan Eurasia purba, lebih dari 30 juta tahun lalu.

Pada era Miosen (sekitar 20 juta tahun lalu), Selat Makassar yang menjadi bagian dari Garis Wallace sudah membentang luas dengan perairan yang dalam.

​Para ilmuwan mengemukakan teori sweepstakes dispersal atau persebaran acak berbasis keberuntungan, untuk menjawab keberadaan tarsius di daratan Sulawesi1.

Saat badai besar atau tanah longsor terjadi di pesisir proto-Sundaland, tumbukan vegetasi dan pepohonan terlepas ke laut membentuk rakit alami. Nenek moyang tarsius diperkirakan tidak sengaja terbawa di atas rakit vegetasi ini, hanyut melintasi Selat Makassar, hingga akhirnya terdampar dan bertahan hidup di Sulawesi.

​Sulawesi sebagai Laboratorium Spesiasi

​Setibanya di Sulawesi, tarsius menghadapi lanskap geologi yang sangat dinamis. Pulau Sulawesi zaman purba terbentuk dari gabungan pulau-pulau mikro dan pegunungan yang sering kali terisolasi satu sama lain akibat pergerakan tektonik.

​Isolasi geografis yang berlangsung selama jutaan tahun ini mencegah terjadinya perkawinan silang antarpopulasi tarsius di berbagai wilayah pulau. Akibatnya, terjadi radiasi adaptif yang melahirkan lebih dari 12 spesies tarsius dalam genus Tarsius (seperti Tarsius wallaceis, Tarsius pumilus, dan Tarsius dentatus).

​Tarsius Barat dan Jejak Naik-Turun Air Laut Zaman Es

​Di sisi barat Garis Wallace (wilayah Sundaland), cerita evolusi tarsius berjalan berbeda. Garis keturunan di wilayah ini tidak terpecah menjadi banyak spesies, melainkan bertahan sebagai satu spesies tunggal, yaitu tarsius barat (Cephalopachus bancanus)23.

​Namun, dinamika iklim pada era Pleistosen (zaman es) memainkan peranan penting dalam membentuk variasi tarsius barat.

Pertama, saat puncak zaman es, permukaan air laut menyusut hingga 120 meter di bawah level saat ini. Sumatra, Kalimantan, Bangka, Belitung, dan Natuna menyatu menjadi satu daratan raksasa bernama Paparan Sunda. Pada masa ini, tarsius barat menyebar luas di seluruh wilayah tersebut.

Kemudian, ketika es mencair, kenaikan permukaan laut kembali menggenangi daratan rendah dan memisahkan Paparan Sunda menjadi pulau-pulau terpisah4.

​Populasi tarsius yang terperangkap di masing-masing pulau terisolasi secara genetik selama ribuan tahun, hingga akhirnya membentuk empat subspesies:

​Garis Wallace memisahkan takdir evolusi tarsius: pergerakan tektonik Sulawesi menciptakan keanekaragaman spesies yang melimpah, sementara fluktuasi permukaan laut Pleistosen di Sundaland melahirkan subspesies yang terisolasi di pulau-pulau kecil.


1 Driller, C., et al. (2015). Stop and Go – Waves of tarsier dispersal mirror the genesis of Sulawesi island. PLoS ONE, 10(11).
2 Groves, C., & Shekelle, M. (2010). The Genera and Species of Tarsiidae. International Journal of Primatology, 31(6), 1071–1082.
3 Shekelle, M., et al. (2010). Molecular Phylogenetics and Chronometrics of Tarsiidae Based on 12S mtDNA Haplotypes: Evidence for Miocene Origins of Crown Tarsiers. International Journal of Primatology, 31(6), 1083–1096.
4 Voris, H. K. (2000). Maps of Pleistocene sea levels in Southeast Asia: shorelines, river systems and time duration. Journal of Biogeography, 27(5), 1153–1167.