Gardaanimalia.com – Film dokumenter berjudul Jejak Wallacea diputar perdana di Auditorium I CGV FX Sudirman, Jakarta pada Rabu (6/5/2026).
Film yang diproduksi oleh Arise! Indonesia dan Burung Indonesia ini mengangkat kisah nyata perjuangan masyarakat pesisir di kawasan Wallacea dalam melindungi ekosistem laut mereka dari ancaman penangkapan ikan yang merusak lingkungan.
Pemutaran film ini didukung oleh Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) melalui Program Kemitraan Wallacea II, sebuah program hibah yang berfokus pada pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan di tujuh koridor laut prioritas di wilayah Wallacea.
Dibuat oleh Lima Orang, Di Empat Provinsi
Film berdurasi 45 menit tersebut digarap oleh tim kecil yang terdiri dari lima orang bersama beberapa kru lapangan.
Selama 22 hari pengambilan gambar film dokumenter ini dilakukan di berbagai wilayah pesisir dan pulau kecil di kawasan Wallacea, mulai dari Larantuka dan Pulau Solor di Nusa Tenggara Timur, Pulau Langkai, Pulau Lanjukang, dan Makassar di Sulawesi Selatan, Desa Wabula di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, hingga Salakan dan Pulau Bungin di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah.
Lokasi-lokasi tersebut dipilih untuk merekam keterhubungan antara masyarakat pesisir, laut, dan keanekaragaman hayati dalam satu bentang ekosistem Wallacea yang saling berkaitan, sekaligus menunjukkan berbagai upaya perlindungan wilayah pesisir yang menjadi ruang hidup penting bagi alam dan masyarakat setempat.
Alfira “Abex” Naftaly Pangalila hadir sebagai storyteller dalam film ini. Tidak sendirian, ia juga ditemani SAM August Himmawan, selaku sutradara dan produser, Benny Kadarhariarto dan Iwan Stratocaster sebagai director of photography, serta Wawan BC sebagai editor.
“Untuk mendapatkan dokumentasi yang diperlukan, tim harus menyeberang ke pulau-pulau kecil menggunakan perahu nelayan, menyelam di beberapa area konservasi, dan mendaki bukit terjal menuju desa adat,” ungkap SAM August Himmawan, Rabu (6/5/2026).
Kearifan Lokal Lawan Praktik yang Destruktif
Selain menyuguhkan keindahan dari jajaran pulau-pulau dan kearifan lokal masyarakat setempat, film ini juga menyoroti berbagai ancaman nyata yang dihadapi ekosistem Wallacea.
Bahkan para kru dan talent menceritakan pengalaman-pengalaman menyayat hati yang melekat temui dan dengar dari balik layar dari.
“Waktu itu kami sedang mewawancarai ketua kelompok nelayan setempat. Ia bercerita tentang bagaimana para nelayan berupaya menjaga laut dan mengatasi perusakan terumbu karang. Tiba-tiba, sekitar 200 meter dari lokasi wawancara, blerrr, terdengar ledakan bom ikan,” ujar SAM.
Salah satu anacam yang kerap terjadi adalah aktivitas penangkapan ikan juga masih kerap terjadi di zona inti kawasan konservasi laut, baik yang berstatus perlindungan formal maupun berbasis komunitas.
“Saya kemudian bertanya, kenapa praktik bom ikan masih terjadi? Ternyata ada cerita yang jarang diketahui orang. Salah satunya karena adanya permintaan ikan segar dari tamu-tamu yang datang dari kota besar,” sambungnya.
Oknum Aparat Yang Bermain
Permainan oknum aparat pun menjadi salah satu faktor mengapa tindak kejahatan ini masih ada dari dulu hingga sekarang di Kawasan Wallacea.
“Kalau ada yang ngebom, aparat datang, tapi bukan mau operasi, tapi minta “jatah”. Saya juga sempat tanya, kenapa mereka nggak ditangkap. Mereka bilang, ‘Ditangkap, siapa bilang nggak ditangkap?’ Tapi kemudian dilobi sama jaksa. Jaksa yang melobi, bilang, ‘Dilepas sajalah, kasihan, mereka punya keluarga’,” ungkap SAM.
Membenarkan berita dari SAM dan kru yang turun untuk produksi, Wahyu Teguh Prawira, Marine Specialist di Burung Indonesia sekaligus Team Leader Program Kemitraan Wallacea II menceritakan jika tidak hanya ikan, tapi juga satwa-satwa dilindungi juga menjadi incaran.
“Ada isu bycatch (hasil tangkapan sampingan) terhadap hewan-hewan ETP (Endangered, Threatened, and Protected) atau Globally Threatened Species, seperti penyu, hiu, paus, dan mamalia laut lainnya. Ancaman terhadap satwa-satwa tersebut masih banyak ditemukan di kawasan Wallacea,” kata Teguh Prawira pada Garda Animalia, Sabtu (9/5/2026).
Pemberdayaan Masyarakat Lokal
Teguh juga menjelaskan, selain konservasi, film ini juga menunjukkan program pemberdayaan yang dilakukan terhadap masyarakat lokal setempat. Ia menjelaskan saat ini persoalan mata pencaharian masih menjadi kendala bagi masyarakat pesisir.
“Di banyak wilayah Wallacea, masyarakat masih sangat bergantung pada penangkapan ikan sebagai sumber pendapatan utama. Padahal sumber daya yang tersedia cukup besar,” ujarnya.
Karena itu, program ini juga berupaya mendorong pengembangan sumber penghasilan alternatif agar masyarakat tidak hanya bergantung pada aktivitas menangkap ikan.
Berangkat dari berbagai ancaman konservasi itu, hal lain yang juga ingin diatasi melalui program ini adalah persoalan tata kelola.
Menjaga Laut Wallacea, Menjaga Burung Indonesia
Sebagai organisasi yang memiliki fokus terhadap burung, banyak respons dari penonton yang mempertanyakan keberadaan burung dalam film tersebut.
Menjawab hal itu teguh menjelaskan jika film ini bukan hanya melihat keberadaan burung secara langsung, melainkan melihat keseluruhan ekosistem habitatnya.
“ Nah, kami melihatnya bukan sekadar ada atau tidak ada burung, tetapi bagaimana habitat dan ekosistemnya tetap terjaga,” jelasnya.
Teguh menambahkan, burung juga menjadi salah satu indikator penting bagi ekosistem laut dan pesisir.
“Burung itu salah satu penanda alami. Misalnya, kalau ada kerumunan burung di laut, biasanya itu menjadi tanda ada ikan di area tersebut,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa terdapat keterkaitan langsung antara perlindungan kawasan pesisir dengan habitat beberapa jenis burung.
“Meski tidak langsung fokus terhadap burung, kami juga mengintegrasikan upaya konservasi burung air dan burung laut dalam berbagai kegiatan monitoring,” jelasnya.
Dalam kegiatan asesmen dan pemantauan lapangan, tim juga turut mendata keberadaan burung, mulai dari identifikasi jenis hingga memantau pola migrasi.













