Gardaanimalia.com - Program Studi Film dan Televisi, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menyelenggarakan rangkaian pemutaran karya tugas akhir mahasiswa sebagai bagian dari ujian sidang kelayakan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga wadah apresiasi bagi publik untuk menyaksikan karya-karya mahasiswa yang mengangkat beragam persoalan sosial melalui medium film.
Screening ini mengusung nama Niskaraseva, merupakan identitas angkatan Film dan Televisi UPI 2022.
Nama tersebut merepresentasikan semangat mahasiswa dalam menghadirkan karya yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga membuka ruang diskusi atas berbagai isu sosial melalui medium film.
Wadah Apresiasi Mahasiswa
Screening Niskaraseva dilaksanakan selama tiga hari, yakni pada 3, 4, dan 6 Agustus 2026.
Setiap harinya, publik disuguhkan berbagai film fiksi maupun dokumenter hasil karya mahasiswa tingkat akhir.
Pada hari terakhir penyelenggaraan, sebanyak sepuluh karya ditayangkan dalam dua sesi. Sesi pertama menampilkan empat film, sedangkan sesi kedua menghadirkan enam film.
Menurut Staf Administrasi Program Studi Film dan Televisi UPI, Apsari Azimat Pertiwi, hari terakhir menjadi sesi dengan jumlah penayangan terbanyak.
"Acara ini memang dilangsungkan dalam tiga sesi di hari yang berbeda, yaitu tanggal 3, 4, dan hari terakhir ini tanggal 6 Agustus. Memang hari ini film yang ditayangkan paling banyak, yaitu 10 film," ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Salah satu film dokumenter yang menarik perhatian penonton adalah Kian Melekati Titik Didih. Film karya sutradara Fikri Al Murtaky tersebut mengangkat dinamika masyarakat kaki gunung gede di tengah ekspansi proyek panas bumi di kawasan Gunung Gede.
Mengangkat Penolakan Masyarakat terhadap Geothermal
Berangkat dari keresahan yang ditemui selama proses riset, Kian Melekati Titik Didih menyoroti penolakan sebagian masyarakat terhadap rencana ekspansi proyek panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Gede.
Film ini memperlihatkan bagaimana pembangunan tersebut memunculkan berbagai persoalan sosial, mulai dari konflik horizontal di tengah masyarakat hingga dugaan praktik perantara atau makelar tanah yang dinilai berpihak pada kepentingan perusahaan.
Fikri menjelaskan bahwa gagasan film ini berkembang dari proses pencarian isu yang telah dimulai sejak perkuliahan dokumenter di semester tiga.
Awalnya, ia hanya ingin mengangkat keresahan masyarakat kaki Gunung Gede. Namun, semakin dalam proses riset dilakukan, semakin banyak persoalan yang ditemukan di lapangan.
"Semenjak mata kuliah dokumenter di semester tiga, saya memang ingin mengangkat keresahan masyarakat Kaki Gunung Gede. Tapi semakin jauh proses riset berjalan, saya menemukan persoalan yang jauh lebih kompleks mengenai penolakan warga terhadap ekspansi geothermal di Gunung Gede," jelas Fikri.
Melalui film ini, penonton diajak melihat persoalan tersebut dari sudut pandang masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan terdampak, sekaligus memahami berbagai lapisan konflik yang muncul akibat proyek tersebut.
Di Balik Lensa Filmmaker
Di balik proses produksi Kian Melekati Titik Didih, berlangsung perjalanan riset yang cukup panjang di lokasi Kampung Gunung Putri.
Fikri mengungkapkan bahwa keseluruhan proses penelitian berlangsung hampir dua tahun. Sementara, riset yang dilakukan secara intensif memakan waktu sekitar satu tahun sejak September 2025. Berbagai temuan di lapangan kemudian disusun menjadi fondasi dalam perencanaan produksi film.
"Kurang lebih risetnya hampir dua tahun. Kalau riset yang benar-benar konkret sekitar satu tahun sejak September 2025. Semua temuan itu kami kelola dan susun menjadi dasar dalam perencanaan produksi film," tutur Fikri.
Meski proses pengambilan gambar hanya berlangsung sekitar satu minggu, perjalanan produksi tidak berjalan tanpa hambatan.
Tim sempat menghadapi kondisi medan yang berat ketika melakukan pengambilan gambar di kawasan pegunungan.
Salah satu kru bahkan hampir pingsan akibat menghirup gas belerang sehingga seluruh tim harus memilih jalur alternatif untuk turun demi menjaga keselamatan.
Film ini digarap oleh tim kecil yang terdiri atas Fikri Al Murtaky sebagai Sutradara sekaligus Editor dan Colorist, Oktaf sebagai Production Assistant, Ghifari sebagai Sound Recordist, Daris sebagai Assistant Camera, serta Fachry sebagai Camera Person kedua.
Kolaborasi seluruh kru menjadi bagian penting dalam mewujudkan dokumenter yang merekam dinamika sosial di kawasan kaki Gunung Gede.
Dampak Ekologis terhadap Satwa Liar
Selain dampak sosial, film ini juga menyoroti ancaman ekologis terhadap satwa liar.
Pembangunan jalur pipa, wellpad, dan akses jalan berpotensi memecah habitat satwa. Di sisi lain, aktivitas pengeboran dapat memicu polusi suara dan cahaya yang mengganggu perilaku satwa.
Risiko pencemaran sumber air serta terbukanya akses menuju kawasan konservasi juga dinilai dapat meningkatkan ancaman perburuan liar dan perambahan hutan.
Menurut Fikri, "Kalau proyek geothermal itu jadi dipaksakan masuk ke kawasan konservasi seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dampaknya ke satwa liar itu nyata dan sangat mengancam. Di satu sisi narasinya adalah transisi energi hijau, tapi di sisi lain justru mengorbankan benteng ekologis terakhir dan ruang hidup satwa liar yang selama ini dijaga ketat di kawasan konservasi."
Ketika Film Menjadi Medium Perubahan
Bagi Fikri, Kian Melekati Titik Didih bukan sekadar dokumentasi atas sebuah konflik, melainkan upaya menghadirkan pengalaman yang mampu dirasakan langsung oleh penonton melalui pendekatan estetika yang terinspirasi dari karakter panas bumi itu sendiri.
"Film ini melewati pendekatan gagasan estetika tentang bagaimana sifat geothermal itu sendiri. Kami mengonstruksi film ini agar terasa dekat dan bisa benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang menontonnya," ungkapnya.
Setelah penayangan perdana di lingkungan kampus, tim berencana mengadakan screening di wilayah yang menjadi lokasi penelitian sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat yang telah menjadi bagian dari proses produksi.
Selain itu, mereka juga menargetkan film ini dapat diputar dalam ajang festival dan melakukan pemutaran perdana di luar negeri agar isu yang diangkat memperoleh perhatian yang lebih luas.
















