Berita

Masuk Sumsel, Tim Ekspedisi Hutan Merdeka Disambut Karhutla

10/08/2026|Yulia Savitri
Seberangi Jembatan Ampera Palembang Ekspedisi Hutan Merdeka rekam kondisi bentang alam Sumatera Foto dokumentasi Ekspedis...

Seberangi Jembatan Ampera, Palembang, Ekspedisi Hutan Merdeka rekam kondisi bentang alam Sumatera. | Foto: dokumentasi Ekspedisi Hutan Merdeka

Gardaanimalia.com - Tim Ekspedisi Hutan Merdeka yang terdiri dari Komunitas Sepeda Chemonk dan Satya Bumi telah memasuki Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) pada Kamis (6/8/26), sebelum tiba ke Batang Toru, Sumatera Utara, sebagai titik akhir.

Perjalanan sejauh 1.700 kilometer dari Jakarta-Batang Toru membawa misi kampanye perlindungan orangutan tapanuli atau Pongo tapanuliensis sekaligus isu lingkungan lainnya.

Tim kini sudah menempuh sekitar 600 kilometer sejak berangkat dari Jakarta. Selama perjalanan, mereka merekam kondisi bentang alam Lampung dan Sumsel, serta persoalan lingkungan yang ditemui, seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hilangnya tutupan hutan alami, hingga meluasnya tanaman industri.

“Sejak menyeberangi Selat Sunda kami menemukan bagaimana kondisi terkini alam Sumatera. Mulai dari arus sibuk kapal yang bisa jadi ada tumpahan minyak dan oli, serta korosi besi yang mengganggu biota laut. Setelah melewati Lampung dan tiba di Palembang, kami banyak menemukan beberapa kali kebakaran lahan,” jelas Ketua Chemonk Mario dibincangi di sela istirahat di Palembang, Kamis (6/8/26).

Selain itu, tim juga merasakan cuaca panas selama riding di wilayah Sumsel. Menurut Mario, hal itu bukan saja karena pengaruh El Nino, tetapi “paru-paru” Sumsel yang memburuk. Hal tersebut tercermin dari sedikitnya pohon-pohon induk sebagai vegetasi asli, tetapi justru banyak terlihat pohon-pohon industri yang berumur pendek.

“Panas ekstrem ini melelahkan dan berpotensi overdehidrasi. Bagi pesepeda tentu ini berisiko karena dapat kehilangan fokus,” ujarnya.

Tim pesepeda lainnya, Fadlan menambahkan, tantangan alam Sumatera memang berbeda dengan di Jakarta atau Jawa.

Suhu di Sumatera menurutnya luar biasa panas, asap karhutla bisa membuat visibility berkurang dan meningkatkan bahaya di jalan. Ditambah pula, truk-truk yang ditemui juga sangat besar dan jalan berlubang.

“Jadi tantangan tersendiri, dibutuhkan kehati-hatian ekstra,” ungkapnya.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Sumsel, kejadian karhutla sepanjang 1 Januari sampai 8 Agustus 2026 tercatat sebanyak 969 kejadian dengan indikasi luas lahan terbakar 664,87 hektare. Sejumlah wilayah masih menunjukkan potensi kebakaran sangat mudah (very high).

Cerita lima pesepeda ini menandakan bahwa dengan bersepeda, mereka sangat bisa menghayati cuaca yang dipengaruhi El Nino.

Namun begitu, ekspedisi ini tentu bukan sekedar perjalanan, tetapi juga panggung kampanye dalam menyuarakan isu lingkungan, terutama masalah serius di Batang Toru.

Menuntut Perbaikan Alam

Communications Manager Satya Bumi, Restu Diantina menyebutkan, misi ekspedisi ini salah satunya menuntut perbaikan alam di kawasan Aceh dan Sumatera lainnya pascabanjir November 2025 lalu.

Saat ini, bayak terbentuk cabang sungai baru yang mengubah bentang alam di hutan kawasan Batang Toru.

“Deforestasi semakin lebar, longsoran banjir meluber ke beberapa daerah aliran sungai (DAS), ada bukaan dari hulu Batang Toru dan di bukit tambang emas yang diduga memperparah bencana,” sebutnya di kesempatan yang sama.

Selain soal alam dan manusia, Satya Bumi menyoroti penurunan populasi orangutan tapanuli sampai 7 persen pascabencana banjir Sumatera

Sebelumnya, satwa endemik di ekosistem Batang Toru tersebut teridentifikasi sebanyak kurang dari 800 individu. Dari temuan tim konservasi dan tim Liverpool University, bencana banjir dan longsor tersebut diperkirakan menewaskan 58 individu orangutan.

“Ancaman kepunahan orangutan tapanuli sudah nyata. Sebab satu persen penurunan populasi saja dapat mengancam populasinya sangat cepat,” kata dia.

Restu menambahkan, orangutan tapanuli ini berbeda dengan orangutan sumatera lainnya. Secara fisik lebih kecil dengan ciri khas berjanggut dan bulu berwarna oranye atau lebih cerah.

Kampanye perlindungan orangutan ini sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir. Adapun Ekspedisi Hutan Merdeka menjadi awal gerakan panjang.

Tim ini berharap kampanye bertema Restore Their Forest, No Second Home dapat menggugah kesadaran publik dan mendorong kebijakan nyata.