Khas

AJALO Bird Race 2026: Menjelajahi Kekayaan Avifauna Taman Nasional Aketajawe-Lolobata

11/08/2026|Yullin Lololuan
Salah seorang peserta sedang mengamati burung menggunakan binokularnya dalam AJALO Bird Race 2026 Foto dokumentasi pesert...

Salah seorang peserta sedang mengamati burung menggunakan binokularnya dalam AJALO Bird Race 2026. | Foto: dokumentasi peserta Faradila R. Chairani

Gardaanimalia.com - Tak ada yang benar-benar tahu apa yang menanti di balik gerbang bertuliskan "Selamat Datang di Taman Nasional Aketajawe-Lolobata".

Dari luar, gerbang itu tampak sederhana. Namun, ketika kendaraan mulai melaju melewatinya, suasana perlahan berubah.

Jalan beraspal membentang panjang di antara hamparan rerumputan dan tumbuhan liar. Perjalanan terasa seperti tidak memiliki ujung.

Jalan aspal yang semula lebar perlahan menyempit karena rerumputan yang mulai menjalar ke sisi jalan, hingga akhirnya berganti menjadi jalan berbatu.

Semakin jauh jalan itu membelah hutan, semakin tersadar bahwa perjalanan ini bukan sekadar memasuki kawasan taman nasional, melainkan benar-benar memasuki ruang hidup masyarakat adat O’Hongana Manyawa.

Uploaded content
Gerbang selamat datang Taman Nasional Aketajawe Lolobata. | Foto: Yullin Lololuan

Tepat di tepian Sungai Tayawi, tenda-tenda peserta didirikan sebagai titik pelaksanaan kegiatan. Dan selama tiga hari ke depan, kawasan ini menjadi ruang perjumpaan antara manusia, hutan, dan kehidupan satwa liar di dalamnya.

AJALO Bird Race tampak seperti sebuah perlombaan pengamatan burung. Anggapan itu memang wajar, mengingat kegiatan ini mempertemukan berbagai pihak dalam satu ruang untuk mengikuti kompetisi birding dan fotografi avifauna.

Namun, pengalaman selama tiga hari di Resort Tayawi memperlihatkan bahwa AJALO Bird Race menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada sebuah perlombaan. 

AJALO Bird Race: Lebih dari Sekadar Ajang Kompetisi

Uploaded content
Foto bersama penyelenggara dan peserta AJALO Bird Race. | Foto: dokumentasi panitia

Nama AJALO merupakan akronim dari Aketajawe dan Lolobata, dua blok kawasan utama yang membentuk bentang alam Taman Nasional Aketajawe-Lolobata di Pulau Halmahera, Maluku Utara.

Nama tersebut menjadi simbol keterhubungan dua kawasan hutan tropis yang menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati, termasuk berbagai spesies burung endemik yang hanya dapat dijumpai di Halmahera.

AJALO Bird Race 2026 diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan avifauna dan pentingnya konservasi hutan kepada masyarakat.

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Samsuddin Abdul Kadir. 

Uploaded content
Tutupan hutan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. | Foto: Yullin Lololuan

AJALO Bird Race 2026 diselenggarakan sebagai ruang pengenalan terhadap kekayaan biodiversitas kawasan taman nasional melalui kegiatan birding dan fotografi avifauna.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari di wilayah Resort Tayawi, salah satu resort pengelolaan di Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, yakni pada 27–29 Juli 2026.

Peserta yang mengikuti kegiatan ini berasal dari beragam latar belakang, mulai dari mahasiswa, fotografer alam, masyarakat umum, hingga pengamat burung berpengalaman. Bahkan, kegiatan ini juga menarik partisipasi peserta mancanegara yang hadir untuk menikmati sekaligus mendokumentasikan kekayaan avifauna Halmahera.

Namun, AJALO Bird Race bukan sekadar ajang kompetisi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang edukasi yang mempertemukan manusia dengan hutan secara langsung.

Setiap langkah peserta di bawah kanopi hutan menghadirkan kesempatan untuk mengenali burung-burung liar di habitat alaminya, sekaligus memahami keterkaitan antara satwa, vegetasi, dan ekosistem yang menopang kehidupan mereka.

Di sekitar lokasi kegiatan, kehidupan masyarakat adat O’Hongana Manyawa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman AJALO Bird Race 2026.

Kehadiran mereka memberikan gambaran bahwa kawasan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata bukan hanya ruang bagi berbagai jenis satwa liar, tetapi juga ruang hidup masyarakat yang telah lama memiliki hubungan erat dengan hutan.

Interaksi yang terbangun selama kegiatan memperlihatkan bahwa konservasi tidak dapat dipisahkan dari manusia yang hidup berdampingan dengan alam. 

Uploaded content
Suku O'Hongana Manyawa yang tinggal di tepian Sungai Tayawi. | Foto: Yullin Lololuan

Hari Kedua: Belajar Membaca Hutan Melalui Birding

Memasuki hari kedua, kegiatan diawali pada pukul 06.00 WIT, dengan dua kategori kegiatan, yaitu birding dan fotografi avifauna.

Peserta birding bergerak dalam kelompok kecil berisi satu hingga tiga orang dengan membawa logbook untuk mencatat setiap perjumpaan dengan burung, mulai dari waktu, lokasi, hingga ciri-ciri spesies yang berhasil diamati.

Sementara, para fotografer bergerak secara individu, berusaha menangkap momen kehidupan burung liar di habitat alaminya. 

Di atas kertas, birding memang terlihat seperti kegiatan mencari dan mencatat burung. Namun, ketika berada di dalam hutan, aktivitas ini mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Langkah diperlambat, telinga bekerja lebih dahulu daripada mata, dan setiap suara yang muncul dari balik kanopi hutan menjadi petunjuk.

Semakin jauh jalur ditempuh, hutan semakin memperlihatkan wajahnya yang terus berubah. 

Uploaded content
Salah satu peserta AJALO Bird Race sedang menunjukkan foto yang berhasil ditangkap kepada sesama peserta. | Foto: dokumentasi peserta, Faradila R. Chairani

Empat Pintu Penjuru Membuka Wajah Hutan

Empat check point yang menjadi bagian dari jalur perjalanan pada awalnya tampak hanya sebagai titik pemeriksaan logbook peserta. Namun, setelah melewati semuanya, setiap check point menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Keempatnya terasa seperti empat pintu yang membuka wajah Taman Nasional Aketajawe-Lolobata sedikit demi sedikit. Semakin jauh melangkah, semakin banyak pelajaran yang diberikan hutan.

Hutan tidak memperlihatkan seluruh keindahannya dalam satu waktu. Ia mengajak setiap orang mengenalnya perlahan, selangkah demi selangkah, seolah ingin mengajarkan bahwa memahami alam membutuhkan kesabaran yang sama seperti saat menunggu seekor burung menampakkan diri di balik rimbunnya pepohonan.

Check point pertama masih ditemani jalur aliran Sungai Tayawi yang jernih. Jalurnya relatif terbuka. Beberapa kali peserta harus menyeberangi sungai setelah panitia memeriksa logbook yang berisi catatan hasil pengamatan burung.

Uploaded content
Para peserta menyeberangi Sungai Tayawi untuk berpindah ke check point selanjutnya. | Foto: dokumentasi panitia

Memasuki check point kedua, suasana mulai sedikit berubah. Jalur tersedia mengikuti sisi Sungai Tayawi menuju pinggiran hutan. Kawasan ini masih cukup terbuka dengan cahaya matahari yang mudah menembus sela-sela pepohonan. Vegetasi belum terlalu rapat dan sesekali suara burung terdengar dari balik pepohonan, menjadi pengingat bahwa perjalanan semakin membawa peserta mendekati ruang hidup berbagai jenis satwa yang bergantung pada kawasan hutan ini.

Salah satu ciri yang paling membekas dari jalur check point kedua adalah keberadaan beberapa bekas rumah masyarakat adat O’Hongana Manyawa di tepian sungai.

Rumah-rumah sederhana yang sebagian telah ditinggalkan tersebut menjadi jejak kehidupan masyarakat yang sebelumnya menempati kawasan ini yang kemudian berpindah mengikuti ruang hidup mereka.

Keberadaannya memperlihatkan bahwa kawasan hutan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata bukan hanya ruang bagi berbagai jenis satwa liar, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan manusia yang telah lama bergantung pada alam. 

Uploaded content
Bekas rumah suku O'Hongana Manyawa di jalur birding. | Foto: Yullin Lololuan

Perubahan paling terasa ketika jalur memasuki kawasan sungai mati menuju check point ketiga.

Aliran air yang sebelumnya terus menemani perjalanan mulai berganti dengan jalur berbatu yang dipenuhi pepohonan rimbun di sekitarnya. Kanopi yang semakin rapat membuat suasana menjadi lebih teduh dan lembap, dengan cahaya matahari yang mulai sulit menembus sela-sela pepohonan.

Di titik inilah mulai terlihat bahwa setiap bagian hutan memiliki karakter yang berbeda. Bukan hanya bentang alamnya yang berubah, tetapi juga suasana, suara-suara, dan kehidupan di dalamnya.

Jalur check point keempat menjadi puncak perjalanan sekaligus pengalaman yang paling membekas. Jalur mulai sedikit menanjak, aliran sungai perlahan tidak lagi terdengar, dan kanopi hutan menjadi semakin rapat. 

Sepanjang perjalanan menuju titik ini, pepohonan berukuran besar mulai semakin sering dijumpai, menjulang tinggi di antara rapatnya vegetasi dan menciptakan ruang alami yang teduh serta sejuk.

Di bawah naungan pepohonan itulah suara burung terdengar paling beragam dibandingkan titik-titik sebelumnya.

Kicauan yang sebelumnya hanya terdengar sesekali kini semakin sering mengisi ruang hutan.

Semakin mendekati check point keempat, suara burung yang beragam dan memiliki karakter unik terdengar semakin jelas, seolah setiap sudut hutan mulai memperkenalkan kehidupan yang tersembunyi di balik rapatnya pepohonan. 

Hampir semua peserta berhenti lebih lama di jalur lokasi ini, bukan semata untuk beristirahat, tetapi karena hutan seolah mengajak langkah-langkah kaki diperlambat, pendengaran dipertajam, dan perhatian diarahkan pada betapa kayanya kehidupan yang tersimpan di dalamnya.

Uploaded content
Foto cekakak biru-putih (Todiramphus diops) yang berhasil diabadikan oleh peserta Kategori Foografi. | Foto: @djihadinopoto

Tepat di titik perhentian terakhir inilah berdiri salah satu pohon terbesar yang ditemui sepanjang perjalanan.

Di bawah naungan pohon tersebut, dengan suasana hutan yang masih begitu rimbun di sekelilingnya, peserta menikmati waktu istirahat sambil menyadari bahwa perjalanan panjang ke dalam hutan telah membawa mereka pada salah satu ruang terbaik yang dimiliki kawasan ini.

Di bawah pohon besar itulah makna birding perlahan menemukan bentuknya. Birding bukan sekadar kegiatan mencari dan mencatat spesies burung.

Setiap langkah di dalam hutan adalah proses belajar membaca sebuah ekosistem, dan menyaksikan bagaimana kicauan burung dapat bercerita tentang rahasia keindahan hutan Halmahera. 

Uploaded content
Potret raja udang kerdil (Ceryx lepidus) yang sedang memakan serangga. | Foto: @djihadinopoto

AJALO Bird Race 2026 menunjukkan bahwa upaya konservasi tidak selalu harus dimulai dari ruang penelitian atau forum kebijakan, tetapi dapat tumbuh melalui pengalaman langsung yang mempertemukan manusia dengan alam.

Kegiatan seperti ini membuka kesempatan bagi masyarakat umum, generasi muda, mahasiswa, fotografer, dan peneliti untuk mengenal lebih dekat kekayaan ekosistem Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.

Lebih dari sekadar perlombaan pengamatan burung, AJALO menjadi ruang edukasi yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, mendorong kajian ilmiah, serta membangun kesadaran bahwa menjaga hutan berarti menjaga seluruh kehidupan yang bergantung di dalamnya.

Sebab, semakin banyak orang mengenal dan memahami hutan, semakin besar pula peluang untuk menjaga keberlangsungannya di masa depan.