Gardaanimalia.com - Hutan mangrove atau hutan bakau merupakan salah satu ekosistem paling penting di dunia. Keberadaannya tidak hanya melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan gelombang laut, tetapi juga menjadi penyerap karbon alami sekaligus habitat bagi ribuan spesies satwa liar.
Dalam rilis yang dikeluarkan Kementerian Kehutanan, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan Indonesia merupakan negara dengan kekuatan utama dunia dalam pelestarian ekosistem mangrove. Ini ditunjukkan dengan kepemilikan sekitar 23 persen dari total luas mangrove global, yang terbesar di dunia.
Keberadaan mangrove juga memiliki peran penting dalam mitigasi perubahaan iklim. karena vegetasi mangrove mampu meredam energi gelombang hingga 60–80 persen dalam bentang sekitar 100 meter. Selain itu, akar-akar mangrove berfungsi menyaring nutrien, sedimen, dan berbagai polutan sebelum mencapai laut, sehingga membantu menjaga kesehatan terumbu karang, padang lamun, dan ekosistem pesisir lainnya.
Ditambah kemampuannya menyimpan karbon dalam jumlah besar. Hutan mangrove sendiri berjasa menyerap emisi karbon hingga 174 juta ton karbon per hektar dan dunia sendiri memiliki 15 juta hektar mangrove. Dari jumlah itu sekitar seperempatnya dimiliki Indonesia.
Keanekaragaman Hayati di Tengah Jakarta
Organisasi lingkungan Sea Soldier menyebutkan, lebih dari 3.000 spesies flora dan fauna yang bergantung pada ekosistem bakau, secara ekonomis juga bermanfaatkan bagi perikanan.
Di kota besar seperti Jakarta, masih tersisa sebuah oase yang menjadi rumah bagi ribuan satwa liar. Suaka Margasatwa Muara Angke menghadirkan suasana yang kontras dengan hiruk pikuk ibu kota. Saat berkunjung ke kawasan ini pada Juli 2018, hawa sejuk langsung terasa begitu memasuki rimbunnya hutan mangrove.
Di sela vegetasi yang rapat, biawak berenang tenang di perairan payau, monyet ekor panjang bergelantungan di pepohonan, sementara kicauan burung silih berganti memenuhi udara. Di beberapa titik, para pengamat burung tampak sabar menanti kemunculan spesies-spesies liar yang menjadikan kawasan ini sebagai rumah.
Menurut National Geographic, Suaka Margasatwa Muara Angke menjadi habitat berbagai jenis burung, seperti cangak abu (Ardea cinerea), kuntul kecil (Egretta garzetta), mandar batu (Gallinula chloropus), hingga bubut Jawa (Centropus nigrorufus). Sejumlah spesies yang hidup di kawasan ini bahkan berstatus terancam menurut Daftar Merah IUCN.
Tak hanya burung, Jakarta Mangrove Center mencatat lebih dari 40 spesies satwa menghuni kawasan mangrove Muara Angke. Sebagian di antaranya merupakan burung migran dari Asia, Eropa, dan Afrika yang singgah setiap musim migrasi, seperti trinil pantai (Actitis hypoleucos).
Kehidupan di hutan mangrove juga berlangsung di antara jalinan akar yang menjulur ke perairan. SeaSoldier menjelaskan bahwa akar mangrove menjadi tempat berlindung berbagai organisme, seperti kepiting marsh, kepiting hermit, kopepoda, corot laut (sea squirt), ubur-ubur, hingga siput crown conch. Organisme-organisme tersebut menjadi bagian penting dalam rantai makanan yang menopang kehidupan predator, termasuk burung heron yang kerap berburu di kawasan mangrove.
















