Mendalam

Cuaca Ekstrem Ancam Orangutan Tapanuli: Studi Perkirakan 58 Individu Tewas

08/07/2026|Irvan Sjafari
Orangutan tapanuli jantan berusia dewasa Spesies ini menjadi yang paling terancam punah di antara spesies orangutan lain...

Orangutan tapanuli jantan berusia dewasa. Spesies ini menjadi yang paling terancam punah di antara spesies orangutan lain. | Foto: Tim Laman/Wikipedia

Gardaanimalia.com - Sedikitnya 58 orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) diperkirakan tewas akibat banjir dan tanah longsor yang dipicu Siklon Senyar pada akhir November 2025. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 7 persen dari total populasi orangutan tapanuli yang tersisa di alam liar, menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology.

Dengan populasi yang diperkirakan kurang dari 800 individu, kehilangan puluhan orangutan dalam satu peristiwa menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup primata paling langka di dunia.

Studi tersebut menunjukkan bahwa cuaca ekstrem yang diperparah oleh perubahan iklim kini menjadi ancaman baru yang dapat mempercepat kepunahan spesies, di samping tekanan lama berupa hilangnya habitat.

Penelitian yang diterbitkan pada Rabu (10/6/2026) itu memperkirakan 58 individu orangutan tapanuli mati akibat banjir dan longsor yang melanda bentang Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara. Angka tersebut merupakan estimasi konservatif karena belum memperhitungkan dampak lanjutan, seperti rusaknya tajuk hutan, berkurangnya sumber pakan, maupun stres berkepanjangan yang dapat menurunkan peluang bertahan hidup individu yang selamat.

Para peneliti menyebut temuan ini sebagai bukti bahwa peristiwa cuaca ekstrem dapat secara langsung mengancam kelangsungan hidup populasi kera besar yang jumlahnya telah berada di ambang kepunahan.

Sebelumnya, para pegiat konservasi telah mengamati berkurangnya penampakan orangutan tapanuli setelah bencana terjadi. Pada Desember 2025, Profesor Erik Meijaard, Direktur Eksekutif Borneo Futures sekaligus salah satu penulis penelitian, memperkirakan sekitar 35 orangutan kemungkinan menjadi korban—sebuah kehilangan yang ia sebut sebagai "pukulan besar bagi populasi". Namun, analisis terbaru menunjukkan jumlah tersebut diperkirakan hampir dua kali lipat lebih besar.

Menurut para penulis, Siklon Senyar memang merupakan peristiwa cuaca ekstrem, tetapi perubahan iklim akibat aktivitas manusia berperan meningkatkan intensitas hujan yang memicu banjir dan longsor.

Mereka juga mengingatkan bahwa kejadian serupa diperkirakan akan semakin sering terjadi pada masa mendatang.

"Ketika sekitar 58 individu mati dari populasi kurang dari 800 ekor, kehilangan tersebut jauh melampaui kemampuan spesies ini untuk pulih," ujar primatolog Serge Wich dari Liverpool John Moores University, salah satu penulis penelitian.

Studi tersebut menegaskan bahwa orangutan tapanuli merupakan spesies yang sangat sensitif terhadap kehilangan populasi. Dengan laju reproduksi yang lambat, spesies ini diperkirakan tidak mampu bertahan apabila kehilangan lebih dari sekitar satu persen populasinya setiap tahun.

"Angka kematian itu jauh melampaui kemampuan bertahan mereka. Jadi ini adalah peristiwa besar," kata Serge Wich.

Orangutan Tapanuli dan Ekosistem Batang Toru: Habitat yang Kian Rapuh

Ekosistem Harangan Tapanuli atau Ekosistem Batang Toru (EBT) merupakan salah satu ekosistem esensial yang tutupan hutan tropisnya masih rapat.

Secara administratif, sebanyak 66,7 persen Ekosistem Batang Toru terletak di Tapanuli Utara, 22,6 persen di Tapanuli Selatan, dan 10,7 persen di Tapanuli Tengah. Sebagai bagian dari perbukitan Bukit Barisan, hutan ini terbagi menjadi dua blok wilayah yang terpisah akibat retakan patahan Sumatera.

Masyarakat pun amat bergantung pada hutan sebagai sumber air utama dan perlindungan dari banjir, erosi, dan longsor. Tak aneh, karena daerah ini merupakan pusat Daerah Aliran Sungai (DAS) utama yang mengalir ke wilayah hilir.

Wilayah ini adalah rimba terakhir Sumatera Utara yang menjadi habitat orangutan tapanuli, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), serta flora fauna dilindungi lainnya. Namun, hari ini rimba terakhir itu dalam kondisi getir. Rakyat yang terdampak bencana ekologis, lalu satwa dilindungi seperti orangutan tapanuli dan harimau telah hancur.

Akhir November 2025 itu, curah hujan lebih dari 1.000 mm turun dalam empat hari di seluruh wilayah Sumatera Utara. Longsor dan banjir besar-besaran kemudian terjadi di Blok Barat Ekosistem Batang Toru, habitat inti orangutan tapanuli yang sangat terancam punah (critically endangered).

Di kawasan Ekosistem Batang Toru, tepatnya di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, satu individu orangutan tapanuli telah ditemukan menjadi korban bencana banjir dan longsor di Sumatera.

WALHI Sumatera Utara menyatakan Ekosistem Batang Toru berada dalam kondisi darurat ekologis yang mengarah pada ekosida. WALHI Sumut telah mengidentifikasi bahwa alih fungsi habitat orangutan tapanuli telah terjadi seluas 10.795,31 hektare.

Dari luasan tersebut diperkirakan setara lebih kurang 5,4 juta pohon yang hilang atau tertebang akibat alih fungsi (10.795,31 hektare × 500 = 5.397.655 pohon).

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara Rianda Purba menegaskan, alih fungsi hutan di Ekosistem Batang Toru tidak dapat terus diperlakukan sebagai konsekuensi “wajar” pembangunan.

Dalam pandangan WALHI Sumut, perubahan tutupan hutan dalam skala besar berarti melemahkan sistem penyangga kehidupan. Kondisi ini mengganggu fungsi hidrologis, termasuk kemampuan tanah dan vegetasi menahan air, menstabilkan lereng, dan mengendalikan aliran permukaan.

Ekosistem Batang Toru, menurut Rianda, bukan sekadar hamparan hijau yang bisa ditukar dengan proyek dan konsesi, melainkan ekosistem esensial bagi Sumatera Utara: lanskap penyangga tata air, penahan erosi, dan rumah bagi beragam keanekaragaman hayati yang kian terdesak.

Ekosistem Penting yang Dibebani Izin

WALHI Sumut mencatat ada tujuh perusahaan yang bersumbangsih pada kerusakan ekosistem Batang Toru. Beberapa Perusahaan izinnya dicabut setelah terjadinya bencana ekologis, seperti PT TPL, PT AR (Perusahaan pertambangan emas), dan PT NSHE (Proyek Pembangunan PLTA).

Perusahaan-perusahaan ini areal kerjanya telah menghancurkan habitat orangutan tapanuli secara langsung. Namun, kini pencabutan izin untuk PT AR dan PT NSHE dibatalkan dan dilanjutkan aktivitasnya. Padahal Ekosistem Harangan Tapanuli adalah infrastruktur alam. Ia menyimpan air, menahan tanah, dan menjaga keseimbangan yang tak tergantikan oleh teknologi apa pun.

“Ini melanjutkan perusakan alam, mencerabut kehidupan, memusnahkan keanekaragaman hayati, dan harapan rakyat dan masa depan antar generasi, serta melukai perasaan rakyat yang menjadi penyintas bencana,” kata Rianda.

“Sungguh ironis bahwa orangutan tapanuli merupakan satwa yang menjaga dan merawat hutan dan penanam pohon sejati. Kekayaan keanekaragaman hayati ekosistem Harangan Tapanuli atau Ekosistem Batang Toru adalah bagian dari kontribusi hidup dari orangutan tapanuli.”