Berita

Rumah Terbakar, Nyawa Terancam: Nasib Satwa Liar di Tengah Karhutla Kalimantan

28/08/2026|Nadaa
Anak orangutan memeluk induknya saat ditemukan terjebak dalam permukiman warga Foto YIARI - Rumah Terbakar Nyawa Terancam...

Anak orangutan memeluk induknya saat ditemukan terjebak dalam permukiman warga. | Foto: YIARI

Gardaanimalia.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga makhluk hidup lain yang tidak bisa bersuara sekeras manusia. 

Satwa liar kehilangan habitat, terjebak di tengah kepungan api. Sebagian berhasil dievakuasi dan diselamatkan, sebagian lain hangus terbakar. Inilah yang terjadi setidaknya di Kalimantan Barat hingga Kalimantan Tengah. 

Terjebak Karena Hutan Dilahap Api, Induk dan Dua Anak Orangutan Jadi Korban

Evakuasi terhadap tiga individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) berhasil dilakukan di tengah kebakaran hutan yang terjadi di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Orangutan ini terdiri dari 1 induk, 1 bayi dan 1 individu remaja. Ketiganya kemudian diberi nama Mama Yuni, Yuni, dan Pura. Evakuasi dilakukan setelah orangutan mendekati permukiman warga dan terjebak karena areal jelajah mereka hancur terbakar pada Jumat (21/8/2026).

Menurut keterangan yang dikeluarkan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), ketiga orangutan telah terpantau berada di kawasan perkebunan masyarakat Desa Tanjungpura sejak awal 2026.

Selama kurun waktu tersebut, tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI secara aktif melakukan pemantauan untuk menghindari potensi interaksi negatif.

Walaupun hutan di daerah tersebut telah terfragmentasi oleh perkebunan masyarakat, mereka masih bisa bertahan hidup di kawasan hutan yang tersisa. Namun, kebakaran besar pada Juli dan Agustus 2026 menghanguskan fragmen hutan yang menjadi satu-satunya jalur pergerakan mereka dan menghilangkan area pergerakan sekaligus pakan yang tersedia.

Akibatnya, orangutan terjebak di kawasan perkebunan yang berbatasan langsung dengan permukiman masyarakat.

Berdasarkan hasil pemantauan dan asesmen lapangan, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI kemudian memutuskan untuk mengevakuasi orangutan yang berada dalam kondisi terancam, mengingat juga bahwa titik api masih ada di beberapa wilayah di desa ini dan sekitarnya. 

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, mengatakan berulangnya kasus penyelamatan orangutan menunjukkan kebakaran hutan dan perubahan tutupan lahan bukan lagi sekadar ancaman sesaat, melainkan tekanan jangka panjang terhadap keberlangsungan habitat orangutan.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya membahayakan orangutan, tetapi juga meningkatkan risiko konflik dengan masyarakat. 

"Kalau kita hanya menyelamatkan orangutan ketika mereka sudah terjebak di kebun, kita sebenarnya sedang menangani akibat, bukan akar persoalan. Yang harus kita cegah adalah hilangnya habitat dan terputusnya koridor yang membuat orangutan tidak lagi memiliki ruang aman untuk hidup. Perlindungan orangutan pada akhirnya juga berarti melindungi masyarakat dari konflik dengan satwa liar," tegasnya. 

Kronologi Evakuasi Mama Yuni, Yuni, dan Pura 

Tim gabungan yang terdiri dari BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), YIARI, dan masyarakat bergerak menuju lokasi sejak pagi hari dan tiba sekitar pukul 07.00 WIB untuk melakukan proses evakuasi. 

Karena kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sekitar wilayah ini, tim disambut oleh kabut asap yang cukup pekat.

Untuk meminimalisir risiko terhadap tim penyelamat maupun satwa, tim menggunakan senapan bius dengan dosis anestesi yang dihitung secara cermat oleh dokter hewan berdasarkan estimasi berat badan dan kondisi individu.

Uploaded content
Karena pergerakannya yang lincah senapan bius digunakan untuk menyelamatkan orangutan. | Foto: YIARI

Karena pergerakan orangutan tersebut cukup lincah dan selalu berpindah-pindah, tim membutuhkan waktu delapan jam untuk menyelesaikan proses pembiusan terhadap tiga orangutan ini. 

Setelah berhasil dilakukan anestesi, orangutan menjalani pemeriksaan medis secara menyeluruh. Tim medis pun memberikan cairan infus untuk memastikan kondisi fisiknya baik dan sehat.

Setelah proses pemeriksaan selesai dan kondisinya dinyatakan memungkinkan untuk dipindahkan, orangutan kemudian dievakuasi dari kebun warga menuju lokasi pelepasliaran di kawasan TANAGUPA.

Perjalanan ke lokasi translokasi membutuhkan waktu sekitar lima jam dengan kombinasi transportasi darat dan air. Kawasan TANAGUPA dipilih berdasarkan hasil asesmen sebagai lokasi yang lebih aman dan memiliki habitat yang sesuai untuk mendukung kehidupan orangutan di alam liar.

Karhutla di Kotawaringin Timur Makin Parah, Belasan Satwa Liar Ditemukan Mati 

Jika di Ketapang tim berhasil menyelamatkan tiga individu orangutan, situasi berbeda terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Di sana, karhutla dilaporkan semakin meluas, terutama di sejumlah wilayah sekitar Kota Sampit, hingga menelan korban jiwa satwa liar dalam jumlah yang tidak sedikit.

Kepada Garda Animalia Kepala Resort Sampit BKSDA Kalimantan Tengah Muriansyah menjelaskan, karhutla saat ini terjadi di sejumlah titik, di antaranya Baamang, Mentawa Baru Ketapang, Seranau, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, dan Kotabesi. Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh karakteristik wilayah yang didominasi lahan gambut. 

"Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur makin hari makin parah, terutama wilayah sekitar Kota Sampit. Ini karena wilayah tersebut dominan gambut. Kalau kebakaran terjadi di areal gambut dan sudah meluas, ini akan sangat sulit dipadamkan," ujar Muriansyah, Kamis (27/8/2026).

Dari pemantauan di lapangan, satwa yang paling banyak ditemukan terdampak secara langsung atau mati terbakar adalah jenis reptil, terutama ular. 

Uploaded content
Reptil ditemukan terbakar karena Karhutla. | Foto: Manggala Agni Pokja Sampit

Beberapa jenis yang ditemukan antara lain sanca kembang, ular dipong, kobra, dan king cobra. Selain itu, terdapat pula biawak serta burung, khususnya anakan burung. Muriansyah menyebutkan, dirinya memiliki dokumentasi mengenai ular dan biawak yang ditemukan mati akibat kebakaran. 

Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan, Muriansyah mengatakan sedikitnya 12 ekor ular dan 1 ekor biawak ditemukan mati terbakar. Namun, jumlah tersebut diyakini belum menggambarkan keseluruhan satwa yang menjadi korban karhutla. 

"Kalau jumlah satwa liar yang mati terbakar adalah ular 12 ekor dan biawak 1 ekor. Ini yang terdata saya. Saya yakin sebenarnya lebih besar, terutama jenis ular," katanya.

Temuan tersebut diperoleh melalui pemantauan sejumlah grup WhatsApp terkait pemadaman kebakaran, komunikasi dengan regu Manggala Agni, serta pemantauan unggahan masyarakat di media sosial. Selain itu, penyisiran juga dilakukan bersama komunitas reptil Sampit di sejumlah area yang telah terbakar. 

Dari kegiatan penyisiran tersebut, tim menemukan satwa liar yang masih bertahan hidup. Salah satunya adalah seekor trenggiling, satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Selain trenggiling, tim juga menemukan seekor sanca kembang dalam kondisi lemas. Ular tersebut tidak ditemukan dalam kondisi terbakar, tetapi diduga mengalami dampak dari asap kebakaran. 

Penanganan ular kemudian dipercayakan kepada komunitas yang memiliki kapasitas untuk merawatnya. Upaya penyisiran di kawasan bekas kebakaran masih dilakukan untuk mencari kemungkinan ada satwa lain yang masih selamat dan membutuhkan pertolongan.

Satwa Mulai Masuk Kebun dan Permukiman 

Karhutla juga mendorong satwa liar keluar dari habitatnya dan mencari tempat yang dianggap lebih aman. Menurut Muriansyah, sejumlah satwa seperti owa, lutung, kukang, dan trenggiling dapat ditemukan memasuki area kebun atau ladang warga. Namun, tidak semua kemunculan satwa tersebut berujung konflik dengan manusia. Konflik terutama terjadi ketika orangutan dan beruang madu masuk ke kawasan perkebunan maupun permukiman. 

"Orangutan dan beruang madu ini yang berkonflik dan menjadi prioritas kami untuk memitigasi konfliknya," ujarnya. 

Menurutnya, area perkebunan dan permukiman dapat menyediakan sumber air maupun pakan alternatif bagi satwa yang terdampak kebakaran. Di sekitar kebun, misalnya, terdapat parit, sumur di dekat pondok, hingga tanaman seperti umbut sawit, nanas, nangka, dan singkong yang dapat dimanfaatkan satwa. 

Uploaded content
Temuan umbut sisa makanan orangutan di permukiman warga. | Foto: BKSDA Sampit

"Biasnya ada sumur [di permukiman], satwa biasanya mencari minum di sana," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat satwa akhirnya bertemu dengan manusia dan berpotensi memicu konflik. Salah satu contoh terjadi di Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga, Kotim. Pada Selasa sore (25/8/2026), petugas menerima laporan mengenai kemunculan orangutan di wilayah tersebut.

Esoknya, petugas Pos Sampit kemudian melakukan pengecekan pada Rabu (26/8 2026). Petugas menyisir kawasan kebun yang memiliki vegetasi berupa pohon karet, semak belukar, dan kelapa sawit. Dalam pencarian tersebut, orangutan tidak ditemukan. 

Namun, petugas menemukan sisa umbut dan kulit pohon yang diduga kuat merupakan bekas pakan orangutan dan kondisinya masih basah. Di lokasi yang sama, petugas juga bertemu dengan kepala desa dan warga yang tengah melakukan pemadaman kebakaran lahan. 

Setelah melakukan pencarian, petugas turut membantu proses pemadaman serta memberikan edukasi kepada warga mengenai perilaku orangutan. 

Muriansyah juga meminta warga segera melapor apabila kembali melihat orangutan di kawasan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap satwa liar tidak hanya berupa kematian langsung akibat terbakar. 

Hilangnya atau terganggunya habitat juga dapat membuat satwa berpindah ke area perkebunan dan permukiman untuk mencari makanan, air, serta tempat berlindung. 

Karena itu, pemantauan terhadap satwa di sekitar kawasan terdampak karhutla dinilai penting untuk mengetahui kondisi satwa yang masih bertahan sekaligus mencegah terjadinya konflik antara satwa liar dan manusia.