Gardaanimalia.com - Satu individu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) bernama Musofa yang ditranslokasi ke Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) dinyatakan mati pada 7 November 2025.
"Musofa tiba di JRSCA pada 5 November 2025 dengan kondisi stabil dan menunjukkan respons adaptasi yang baik pada fase awal. Tim dokter hewan memberikan observasi ketat dan penanganan kesehatan sejak hari pertama," kata Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) Ardi Andono, Kamis (27/11/2025).
Namun, Musofa mengalami penurunan kondisi klinis pada 7 November 2025. Meski tim medis segera memberikan penanganan darurat, badak berusia 45 tahun itu mengembuskan napas terakhir pada sore di hari yang sama.
Nekropsi oleh tim patologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University menyatakan bahwa Musofa menderita penyakit kronis lama pada lambung, usus, dan otak, lalu terinfeksi parasit dalam jumlah signifikan, serta tanda degenerasi jaringan.
Selain itu, ditemukan luka lama akibat perkelahian di alam, tetapi ini tidak menjadi penyebab utama kematian.
Kematian satwa langka ini lebih disebabkan karena hipoproteinemia (kadar protein dalam darah sangat rendah) akibat parasit di saluran pencernaan dan otot. Kondisi ini menyebabkan timbunan cairan di otak yang berakibat pada gangguan koordinasi dan paru-paru, sehingga kadar oksigen dalam darah turun dan badak mengalami kelemahan.
Hasil nekropsi yang dilakukan pihak IPB University tidak menunjukkan adanya kerusakan jarigan atau organ akibat aktivitas translokasi.
Ardi mengatakan, seluruh prosedur translokasi sudah dilaksanakan sesuai standar konservasi internasional, dengan simulasi, penilaian etik, serta kesiapan logistik dan pengamanan.
“Musofa dipindahkan tanpa luka atau cedera. Namun, penyakit kronis yang lama diderita menjadi tantangan medis yang tidak dapat diatasi,” jelasnya.
Tantangan Upaya Konservasi Badak Jawa
Dalam laporan pemeriksaan patologi anatomi, IPB University memberikan dua saran. Pertama, agar mengupayakan target satwa yang ditranslokasikan berada pada usia produktif sesuai data yang dimiliki.
Kedua, melihat kondisi keparahan kasus infestasi cacing pada Musofa, apabila memungkinkan melakukan pemberian obat cacing untuk program deworming secara non-invasif, seperti menggunakan umpan pakan yang diisi obat cacing.
Kepergian Musofa memberikan gambaran penting untuk meningkatkan standar pengelolaan kesehatan badak jawa di habitat alaminya.
Balai TNUK bersama IPB University, akademisi lain, dan mitra konservasi menyatakan akan menyiapkan langkah selanjutnya, berupa analisis komprehensif untuk penguatan deteksi dini penyakit, pengelolaan habitat, dan pemantauan kesehatan populasi.
“Kepergian Musofa merupakan kepedihan bagi kami dan tim di lapangan. Namun, juga menjadi momentum refleksi atas kompleksitas konservasi spesies langka,” ujar Ardi.
Ardi pun menjelaskan bahwa translokasi adalah kebutuhan konservasi jangka panjang untuk badak jawa, mengingat salah satu tantangan terbesarnya adalah kondisi DNA badak jawa yang sudah tidak baik.
Menurut hasil penelitian IPB University, DNA populasi badak jawa yang tersisa hanya terdiri dari haplotype 1 dan haplotype 2. Dengan rincian, haplotype 1 telah mengalami inbreeding 58,5 persen sedangkan haplotype 2 adalah 6,5 persen.
Oleh karena itu, dibutuhkan upaya breeding sistematis, termasuk pendekatan Assisted Reproductive Technology (ART) dan biobank bahkan untuk gen editing untuk menjaga keberlanjutan populasi di alam, memperkuat keanekaragaman genetik, dan mengelola habitat secara terukur dan aman.














