Mendalam

Ancaman Tersembunyi di Balik Peliharaan Eksotis Makaka [Bagian 3 Serial Celebrity Monkey]

14/08/2026|Egia Azhari Sitepu, Natau Lasniroha Sinaga, Muhammad Rafi Hidayat, Nugraha
Monyet ekor panjang adalah satwa yang hidup berkelompok Jika dipelihara ia kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi deng...

Monyet ekor panjang adalah satwa yang hidup berkelompok. Jika dipelihara, ia kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi dengan kelompoknya di alam liar. | Foto: Widi Pradana/Garda Animalia

Gardaanimalia.com - Sekilas, memelihara monyet mungkin nampak tak jauh berbeda dibanding memelihara seekor kucing dan anjing. Kehadirannya yang kerap kali ditampilkan sebagai sosok yang lucu di media sosial, seakan menyiratkan bahwa satwa berbulu ini jauh dari kata ‘bahaya’.

Namun, dibalik gemasnya satwa tersebut, tersimpan berbagai ancaman tersembunyi.

Berbeda dengan anjing dan kucing yang telah melalui proses domestikasi selama ribuan tahun, monyet sejatinya merupakan satwa liar.

Bahkan, kedekatan evolusioner antara primata dan manusia membuat sejumlah penyakit berpotensi berpindah antar-spesies, atau yang juga dikenal dengan istilah zoonosis.

Salah satu contoh yang paling dikenal, adalah Simian Immunodeficiency Virus (SIV) pada primata, yang disinyalir menjadi asal-usul Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada manusia.

Melansir dari jurnal berjudul “A Review on Zoonotic Pathogens Associated with Non-Human Primates: Understanding the Potential Threats to Humans” oleh Xinjie Jiang dan lainnya, terdapat belasan penyakit zoonosis yang bersumber dari primata.

Uploaded content
Gejala, metode diagnosis, pencegahan, dan langkah-langkah pengobatan untuk membatasi penyebaran beberapa patogen virus umum pada primata non-manusia. | Sumber: jurnal A Review on Zoonotic Pathogens Associated with Non-Human Primates: Understanding the Potential Threats to Human

Daftar tersebut menunjukkan bahwa risiko penularan zoonosis dari primata bukanlah hipotesis semata.

Menurut Amanda Yonica, dokter hewan yang juga bergerak di bidang konservasi primata Asian for Animals (AfA), risiko paparan ini semakin besar ketika monyet banyak melakukan interaksi dengan manusia dan dunia sekitarnya.

Terbaru, dunia sempat digegerkan dengan merebaknya wabah mpox–sebelumnya disebut monkey pox–pada 2022.

Sejak Januari 2022 hingga Februari 2026 saja, telah terdapat 181.164 kasus cacar monyet yang dilaporkan di 47 negara. Dari jumlah tersebut, 88 kasus di antaranya berasal dari Indonesia.

Sementara itu, secara global, wabah ini juga telah menimbulkan korban jiwa, dengan 492 kasus dilaporkan berakhir dengan kematian.

Uploaded content
Total kasus mpox oleh World Health Organization (WHO), dari Januari 2022 hingga Februari 2026. | Sumber: WHO

Data tersebut seakan menjadi pengingat mengenai bahaya di balik interaksi serampangan antara satwa liar dan manusia. Bahkan, kontak yang terlihat sederhana seperti memegang, memberi makan, atau memelihara dapat membuka celah penularan penyakit zoonosis.

“Karena orang selalu berpikirnya satwa (yang) di rumahnya bersih, makanannya baik, dianggapnya sama manusia itu baik, dan membuat monyetnya lebih sehat. Padahal kan nggak. Ketika mereka di dalam (dipelihara), bahayanya jelas (tetap ada),” tegas Amanda.

Kebebasan Satwa yang Dilanggar

Tak hanya berisiko terhadap manusia, Amanda mengungkap, pemeliharan monyet juga dapat berdampak langsung terhadap kesejahteraan monyet itu sendiri.

Amanda menerangkan, pada dasarnya monyet adalah satwa liar yang membutuhkan kebebasan. Sehingga, ketika ia dipelihara, besar kemungkinan monyet tersebut akan mengalami stres.

“Kadang mereka kalau stres, mereka bakal gigit-gigit dirinya sendiri. Terus (beberapa monyet) ini malnourished (kurang gizi) dan lethargic (lesu), itu jelas,” ungkap Amanda, dalam pertemuan daring di siang hari itu.

Lebih lanjut, Amanda mengungkap, monyet yang dipelihara tidak akan bisa memenuhi unsur five freedom of animal welfare. Sebuah unsur yang terdiri dari kebebasan dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit dan penyakit, bebas dari ketakutan dan stres, serta kebebasan untuk mengekspresikan perilaku alaminya.

Hal tersebut terjadi karena upaya domestikasi yang dilakukan oleh pemilik monyet sering kali melanggar hak-hak tersebut. Sebagai contoh, melatih satwa untuk berperilaku layaknya manusia, dapat mengekang monyet agar tidak berperilaku alami.

“Mereka hewan yang sangat cerdas dan sangat tidak bisa hidup di dalam rumah, di dalam kandang, dipakaikan baju, atau memakan makanan manusia. Mereka tidak bisa dan tidak akan sejahtera,” ungkap Amanda dalam wawancara tersebut.